Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Seruan Pastoral Uskup Ende Pascagempa Flores 15 Agustus 2026

Gempa Flores 15 Agustus 2026 memicu seruan pastoral Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, tentang pemulihan pascabencana melalui solidaritas, penyesuaian hidup menggereja, dan perhatian khusus bagi kelompok paling rentan.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores dan wilayah Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 menjadi latar sejumlah seruan pastoral Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, tentang pemulihan berbasis solidaritas dan kepedulian kepada kelompok paling terdampak.

Dalam wawancara dengan Vatican News dua hari setelah gempa, Mgr. Paulus Budi Kleden menggambarkan rumah-rumah yang rata dengan tanah, gereja dan sekolah yang rusak, serta warga yang tetap saling menopang di tengah reruntuhan. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang dikutip media itu, sedikitnya puluhan orang meninggal, ratusan luka-luka, dan ribuan warga mengungsi akibat guncangan yang berpusat sekitar 68 kilometer di utara-barat laut Ende.

Sejumlah media Katolik dan lokal mencatat bahwa Keuskupan Agung Ende segera membentuk tim dan posko tanggap darurat, bekerja sama dengan Caritas Indonesia dan berbagai pihak lain untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Langkah itu diletakkan dalam kerangka seruan agar pemulihan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh kebutuhan psikologis, ekonomi, dan spiritual warga terdampak.

Iman, salib, dan penderitaan

Dalam refleksi yang dikisahkan Vatican News, Uskup Agung Ende menekankan bahwa gempa, betapapun menghancurkan, tidak mampu memutus kasih dan solidaritas di antara warga. Di tengah puing, ia melihat wajah Tuhan pada para keluarga yang berduka, pengungsi yang kehilangan rumah, serta kelompok yang saling membantu satu sama lain.

Sumber-sumber tersebut juga menegaskan bahwa bencana tidak dipahami sebagai hukuman ilahi, melainkan bagian dari dinamika alam yang menuntut manusia meningkatkan kesiapsiagaan, memperbaiki tata ruang hunian, dan memberi perhatian lebih besar kepada mereka yang paling rentan. Dalam perspektif iman, salib dihadirkan bukan sebagai lambang kekalahan, melainkan sebagai tanda kehadiran Tuhan yang menyertai mereka yang menderita.

Media lokal mencatat bahwa Paus Leo XIV menyampaikan telegram belasungkawa kepada Uskup Agung Ende dan umat di Flores, melalui Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin. Dalam pesan itu, Paus menyatakan kesedihan atas kehancuran dan menjamin kedekatan doa bagi para korban, keluarga, dan mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Penyesuaian hidup menggereja

Seiring masa tanggap darurat, Keuskupan Agung Ende mengeluarkan beberapa keputusan praktis terkait pelayanan liturgi dan sakramen. Radio Republik Indonesia mencatat adanya penyesuaian perayaan Ekaristi agar dilaksanakan di luar gedung gereja atau kapela yang terdampak gempa, sebagai langkah keselamatan bagi umat.

Dalam periode yang sama, pelayanan sejumlah sakramen seperti baptis, komuni pertama, pernikahan, dan krisma di paroki-paroki untuk sementara ditunda. Penundaan itu dihubungkan dengan perlunya memastikan keamanan bangunan serta memberi ruang bagi keluarga yang masih berjuang menata ulang kehidupan setelah kehilangan rumah dan mata pencarian.

Sumber lain menyebut kunjungan Kapolda NTT ke Istana Keuskupan untuk menyerahkan bantuan dana dan bahan pokok bagi pemulihan serta perbaikan sarana ibadah yang rusak. Menurut pemberitaan tersebut, Keuskupan Agung Ende sudah membentuk posko koordinasi untuk penanganan korban dan kebutuhan umat pascabencana.

Pemulihan jangka panjang

Dalam perkembangan berikutnya, Keuskupan Agung Ende menetapkan pembentukan Tim Penanggulangan Bencana Gempa Bumi untuk mendukung tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. RRI melaporkan bahwa tim ini dibentuk lewat Surat Keputusan Uskup Agung Ende Nomor 153/SK/UAE/IX/2026 yang ditandatangani pada 18 September 2026, dengan mandat mengoordinasikan pendampingan pastoral, pemulihan trauma, pemulihan ekonomi, dan perbaikan sarana ibadah.

Dalam wawancara terpisah, Uskup Agung Ende menegaskan bahwa pemulihan pascagempa harus diarahkan terutama kepada kelompok rentan, termasuk keluarga miskin, lansia, anak-anak, dan warga yang tinggal di hunian tidak layak. Ia mengingatkan bahwa menjelang musim hujan, kebutuhan akan hunian aman, bantuan pendidikan, dan layanan kesehatan dasar menjadi semakin mendesak.

Berbagai sumber menggambarkan pemulihan sebagai kerja bersama antara pemerintah, gereja, dan komunitas lokal. Di tengah reruntuhan, ruang baru dibuka untuk menumbuhkan harapan, dengan menekankan kesederhanaan, transparansi dalam penyaluran bantuan, serta pendampingan berkelanjutan bagi mereka yang paling terluka oleh bencana.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.