Senandung Dewi 2024 dan Desa Wisata Manggarai Barat: Perlu Ukur Dampak
Program Senandung Dewi 2024 digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama BPOLBF, melibatkan sedikitnya tujuh desa wisata di Manggarai Barat dan enam event desa wisata di berbagai daerah sebagai upaya memperkuat potensi lokal…
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Program Senandung Dewi 2024 yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) untuk mengangkat desa wisata melalui penyelenggaraan event pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk di Kabupaten Manggarai Barat.
Dokumen kinerja BPOLBF 2024 mencatat pelaksanaan kegiatan Semarak Event Unggulan Desa Wisata (Senandung Dewi) pada 9 November 2024 di Manggarai Barat sebagai bagian dari rangkaian dukungan terhadap desa wisata di wilayah tersebut.
Dalam laporan BPOLBF, Senandung Dewi Labuan Bajo mengusung tema Pesona Desa Wisata Manggarai Barat dan melibatkan sedikitnya tujuh desa wisata di kabupaten itu, antara lain Batu Cermin, Rangko, Golo Bilas, Wae Lolos, Coal, Gorontalo, dan Kelurahan Wae Kelambu.
Secara nasional, Senandung Dewi 2024 dikembangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai program untuk memperkuat dan mengembangkan potensi desa wisata melalui event yang menekankan keberlanjutan, skalabilitas, dan nilai jual, dengan dukungan terhadap kegiatan budaya, promosi usaha mikro, kecil dan menengah, serta penyusunan event yang kuratif.
Enam event nasional dan satu lokus Manggarai Barat
Di tingkat nasional, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengumumkan enam event desa wisata yang berkolaborasi dalam Senandung Dewi 2024.
Enam event tersebut antara lain Penglipuran Village Festival XI di Bali, Butuh Sidowarna Shadow Puppet Festival di Klaten, Hyang Argopuro Festival di Jember, Ngopi Padang Mbulan Rame-Rame di Desa Wisata Ketapanrame Mojokerto, Festival Gema Budaya di Desa Wisata Kreatif Terong Belitung, dan event pariwisata di Desa Wisata Golo Bilas, Manggarai Barat.
Di luar enam event itu, BPOLBF mencatat penyelenggaraan Senandung Dewi Labuan Bajo dengan lokus besar di Manggarai Barat pada 9 November 2024, yang secara khusus melibatkan tujuh desa wisata di kabupaten tersebut.
Di Manggarai Barat, desa-desa wisata yang disebut dalam dokumen BPOLBF mengikuti rangkaian kegiatan berupa talk show, pertunjukan atraksi budaya, dan promosi UMKM untuk memperkenalkan potensi lokal dan memperluas jejaring pemasaran.
Ukur dampak, bukan hanya keramaian
Desain program Senandung Dewi menempatkan desa wisata sebagai ruang utama bagi event, dengan tujuan mengoptimalkan potensi ekonomi lokal, melestarikan budaya dan lingkungan, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Agar tujuan tersebut terukur, penyelenggara dan pemerintah perlu mendorong indikator yang lebih rinci daripada sekadar jumlah acara atau banyaknya wisatawan yang datang.
Indikator yang dapat dikembangkan misalnya jumlah pelaku usaha lokal yang terlibat, nilai transaksi selama acara, proporsi belanja yang diterima warga desa, serta jumlah tenaga kerja lokal yang terserap dalam persiapan dan pelaksanaan event.
Keramaian tanpa data ekonomi yang jelas berisiko membuat desa wisata hanya menjadi lokasi penyelenggaraan tanpa kepastian distribusi manfaat bagi warga.
Event yang berorientasi pada keberlanjutan seharusnya meninggalkan jejaring pemasaran, peningkatan kapasitas pengelola, penguatan kalender kegiatan, dan pengembangan produk lokal yang tetap memiliki pasar setelah acara selesai.
Posisi warga dalam tata kelola event
Pemberdayaan komunitas lokal tidak berhenti pada kehadiran warga sebagai penampil atau penjual.
Warga desa wisata perlu dilibatkan dalam penentuan tema, jadwal, tata kelola ruang, harga, dan batas pemanfaatan budaya serta lingkungan, agar pariwisata tidak mengabaikan hak komunitas dan makna tradisi yang dijadikan daya tarik.
Di Manggarai Barat, keterlibatan desa seperti Batu Cermin, Golo Bilas, Wae Lolos, Coal, dan desa lainnya dalam Senandung Dewi dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kapasitas pengelolaan, menyusun paket pengalaman, dan menghubungkan event dengan usaha akomodasi, kuliner, kerajinan, serta jasa pemanduan yang dikelola masyarakat.
Transparansi penyelenggaraan juga menjadi bagian dari pemberdayaan, melalui pelaporan sumber pembiayaan, mekanisme pemilihan pelaku lokal, pembagian kesempatan usaha, serta evaluasi pendapatan dan dampak sosial setelah event berakhir.
Bagi BPOLBF dan pemerintah daerah, Senandung Dewi dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium untuk memperbaiki desain event desa wisata di Flores bagian barat, dengan fokus pada sasaran manfaat yang jelas, indikator yang terbuka, dan mekanisme umpan balik dari warga.
Sumber
Berita berikutnya
BPOLBF Perlu Membuktikan Layanan Bandara Komodo
Penerbangan internasional di Bandara Komodo tak cukup dinilai dari bertambahnya rute. Ukuran keberhasilan layanan perlu mencakup evaluasi kinerja, koo…
Baca juga




