Ratusan Warga Nioniba Masih Tinggal di Tenda Pascagempa Flores
Sekitar 158 kepala keluarga dari Dusun Nioniba, Ende, masih tinggal di tenda pengungsian mandiri pada hari ke-23 setelah gempa Flores.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Ende — Puluhan keluarga dari Dusun Nioniba, Desa Kebirangga, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, masih memilih tinggal di tenda pengungsian mandiri hingga pekan ketiga setelah gempa Flores, meski laporan resmi pemerintah tidak lagi mencatat adanya pengungsi terpusat di wilayah itu.
Menurut Kepala Desa Kebirangga, Yohakim Sumbi, sekitar 158 kepala keluarga atau lebih dari 500 jiwa warga Dusun Nioniba masih bertahan di tenda-tenda pengungsian yang mereka dirikan sendiri di sekitar kampung pada hari ke-23 pascagempa, Selasa, 8 September 2026.
Yohakim menjelaskan warga enggan kembali ke rumah karena bangunan mengalami kerusakan dan mereka masih diliputi rasa cemas setelah gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Perbedaan data pengungsian
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa pada fase awal tanggap darurat, lebih dari 179 ribu orang mengungsi akibat gempa Flores di tujuh kabupaten terdampak, termasuk Ende.
Seiring berjalannya waktu, pemerintah pusat menyatakan jumlah pengungsi menurun. Kepala BNPB Suharyanto menyebut per 7 September 2026 pengungsi tinggal 72.864 jiwa dari sebelumnya 179.037 jiwa, dengan prioritas bagi warga yang rumahnya rusak berat.
Data sementara BNPB yang dihimpun jejaring kemanusiaan IHCP per 9 September 2026 bahkan mencatat jumlah pengungsi di Ende nol, meski rumah rusak di kabupaten itu tercatat lebih dari 10 ribu unit.
Kondisi di Nioniba menunjukkan adanya selisih antara angka resmi dan situasi lapangan. Laporan media lokal menyebut ratusan warga Nioniba masih tinggal di tenda, sementara data pengungsian terpusat di Ende dilaporkan kosong.
Rumah rusak dan kebutuhan warga
Kepala Dusun Nioniba, Idihari, menyampaikan kepada TribunFlores bahwa 158 kepala keluarga di dusun tersebut terdampak gempa.
Dari jumlah itu, ia merinci 14 rumah mengalami kerusakan total atau roboh, 42 rumah rusak sedang, dan 15 rumah rusak ringan.
Warga yang masih mengungsi disebut membutuhkan terpal tambahan untuk memperbaiki tenda dan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Dalam laporan lain, warga Nioniba yang tinggal di tenda pengungsian menceritakan baru berani kembali melihat rumah hampir sebulan setelah gempa karena rasa takut akan guncangan susulan dan kondisi bangunan yang retak.
BNPB menyatakan warga dengan rumah rusak berat menjadi prioritas penerima hunian sementara, dana tunggu hunian, atau hunian tetap sesuai usulan pemerintah daerah.
Fokus penanganan bergeser
Pemerintah pusat menyebut penanganan gempa Flores mulai beralih dari fase tanggap darurat ke pemulihan, seiring menurunnya aktivitas gempa dan berkurangnya jumlah pengungsi.
Dalam skema nasional, rumah rusak berat di berbagai kabupaten, termasuk Ende, diusulkan mendapat hunian sementara atau bantuan permukiman lain. Pemerintah juga mendorong pembentukan pengungsian terpadu bagi warga yang rumahnya belum bisa ditempati.
Sementara itu, situasi di Nioniba menunjukkan sebagian warga masih memilih tinggal di tenda mandiri dekat kampung, menunggu kejelasan bantuan perbaikan rumah dan memastikan kondisi bangunan aman sebelum kembali beraktivitas penuh.
Sumber
Berita berikutnya
Bulog Bajawa Tuntaskan Penyaluran 86,875 Ton Beras CBP di Ngada-Nagekeo
Perum Bulog Kantor Cabang Bajawa menuntaskan penyaluran 86,875 ton Cadangan Beras Pemerintah bagi warga terdampak gempa di Ngada dan Nagekeo pada 8 Se…
Baca juga


