Petani Manggarai Barat Diimbau Percepat Olah Lahan Sebelum Musim Hujan
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Manggarai Barat mengimbau petani mempercepat pengolahan lahan menjelang musim hujan, menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim, serta mewaspadai banjir, longsor, dan serangan hama saat…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan mengimbau petani mempercepat pengolahan lahan dan penanaman menjelang puncak musim hujan agar dapat memanfaatkan ketersediaan air dan menekan risiko gagal tanam.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Manggarai Barat, Laurensius Halu, dalam beberapa kesempatan sebelumnya menekankan pentingnya persiapan lahan, penggunaan varietas yang sesuai, serta pengelolaan air yang efisien untuk menghadapi perubahan pola iklim dan periode hujan yang makin tidak menentu, termasuk dampak fenomena El Nino.
Menurut Laurensius, petani tidak perlu terpaku hanya pada padi sawah ketika kondisi hujan dan ketersediaan air tidak mendukung, tetapi perlu memanfaatkan lahan dengan komoditas lain seperti jagung, kacang-kacangan, dan sayuran agar lahan tidak dibiarkan kosong. Ia juga mendorong pemanfaatan alat dan mesin pertanian untuk mempercepat olah tanah, serta gerakan gotong royong membersihkan dan memperbaiki saluran irigasi.
Pengolahan lahan dan jadwal tanam
Imbauan percepatan pengolahan lahan sejalan dengan informasi iklim yang menunjukkan sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Manggarai Barat, mulai memasuki musim hujan pada periode Oktober–November. Menurut penjelasan BMKG yang dikutip media lokal, petani di wilayah yang akan segera memasuki musim hujan diminta mempersiapkan lahan dan benih lebih awal agar air hujan yang datang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman, bukan sekadar untuk mengolah tanah.
Pemerintah daerah dan dinas teknis mengaitkan langkah ini dengan upaya menjaga produksi pangan dan mengurangi risiko keterlambatan tanam akibat pergeseran awal musim hujan atau kekeringan berkepanjangan. Dalam rapat koordinasi penanganan kekeringan di Manggarai Barat awal 2024, Laurensius Halu menyampaikan bahwa kekeringan telah menyebabkan sebagian lahan sawah belum tertanam, sehingga diperlukan intervensi cepat dan penyesuaian kalender tanam.
Di tingkat kelompok tani, dinas mendorong pemanfaatan hasil Sekolah Lapang Iklim dan peran Balai Penyuluhan Pertanian untuk menyosialisasikan percepatan olah tanah dan tanam, terutama di daerah yang berpotensi banjir, dengan penggunaan varietas padi tahan genangan dan pola tanam yang sesuai.
Produksi padi dan jagung
Data yang dihimpun pemerintah daerah dan disampaikan dalam pemberitaan nasional menunjukkan bahwa sejak Januari hingga 31 Oktober 2025, total produksi gabah kering giling di Manggarai Barat mencapai 175.794 ton dari luas panen 30.680 hektare. Pada periode yang sama, produksi jagung mencapai 8.742 ton dari luas panen 2.015 hektare.
Data tersebut merefleksikan pemulihan produksi padi setelah sebelumnya sempat turun akibat rehabilitasi bendungan dan jaringan irigasi di beberapa wilayah pada 2024. Menurut Laurensius Halu, peningkatan produksi padi pada 2025 terkait dengan optimalisasi kembali lahan beririgasi, penerapan intensifikasi seperti penggunaan benih unggul, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta dukungan alat dan mesin pertanian.
Secara lebih luas, statistik pertanian resmi menunjukkan bahwa komoditas jagung di Manggarai Barat mengalami fluktuasi produksi dalam beberapa tahun terakhir, antara lain karena perubahan luas panen. Badan Pusat Statistik mengaitkan dinamika itu dengan faktor iklim, ketersediaan sarana produksi, dan perubahan pola tanam.
Antisipasi banjir, longsor, dan serangan hama
Memasuki musim hujan, dinas pertanian mengingatkan petani agar mewaspadai banjir, genangan, dan longsor yang dapat merusak tanaman, terutama di wilayah perbukitan dan sekitar aliran sungai. Petani didorong melakukan gotong royong untuk membersihkan dan memperbaiki saluran air sehingga aliran dapat terjaga dan risiko luapan air ke lahan pertanian berkurang.
Pada musim hujan, tanaman lebih rentan terserang penyakit akibat kelembaban tanah yang tinggi. Karena itu, Laurensius meminta petani memanfaatkan penyuluh pertanian dan petugas pengamat organisme pengganggu tanaman untuk segera melaporkan gejala serangan hama atau penyakit agar penanganan dapat dilakukan lebih awal.
Selain padi, pemerintah daerah mendorong penanaman tanaman pangan penutup tanah seperti jagung dan umbi-umbian di lahan kering untuk membantu menekan erosi serta tetap menjaga produksi pangan ketika pola hujan berubah. Strategi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan menjaga keberlanjutan usaha tani di Manggarai Barat.
Sumber
- Republika - Petani di Manggarai Barat Diminta Tanam Palawija Hadapi Dampak El Nino
- RRI Kupang - Manggarai Barat Catat Peningkatan Produksi Padi
- Merdeka - Pemkab Mabar Dorong Kelompok Tani Dukung Program Makan Bergizi Gratis
- Buku Saku Kabupaten Manggarai Barat - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi NTT
- BPS Kabupaten Manggarai Barat - Statistik Pertanian Kabupaten Manggarai Barat 2024
- Victory News Manggarai Barat - Musim Hujan, Petani Manggarai Barat Diminta Waspada Ancaman Hama
- Haluan NTT - BMKG: Bulan Oktober Sebagian Wilayah di NTT Mulai Masuk Musim Hujan
Berita berikutnya

Baca juga


