Pemkab Sikka Gelar Festival Musik Tradisi pada 23-24 Oktober 2026
Pemerintah Kabupaten Sikka mendorong pelestarian musik tradisional melalui Festival Musik Tradisi Indonesia. Festival dijadwalkan berlangsung pada 23-24 Oktober 2026.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Sikka — Pemerintah Kabupaten Sikka mendorong pelestarian musik tradisional melalui Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) di Sikka, Nusa Tenggara Timur. Informasi mengenai kegiatan ini disampaikan pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo, S.T., M.T., menyebut festival tersebut menjadi ruang ekspresi seniman sekaligus sarana memperkenalkan musik tradisi Sikka kepada masyarakat luas. FMTI juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem musik tradisi melalui pertunjukan, apresiasi, dialog budaya, dan kolaborasi.
Festival mengangkat tema lokal “Gong Ha Lin Dopo, Waning Ha Hagong Nawang”, yang menggambarkan kebersamaan masyarakat ketika bunyi gong dan gendang tradisional atau waning mengundang warga berkumpul. Musik yang diperkenalkan antara lain tabu gong, waning, nyanyian adat, serta kesenian musik lokal lainnya.
Warisan musik Sikka mendapat ruang tampil dan belajar
Bagi pembaca di Labuan Bajo dan Flores, kegiatan ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah tidak hanya hadir sebagai pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas masyarakat. Pelibatan maestro, seniman lokal, sanggar seni, dan generasi muda membuka ruang bagi pewarisan pengetahuan musik tradisional.
Pemerintah Kabupaten Sikka mengaitkan pelestarian budaya dengan pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Festival dirancang sebagai daya tarik wisata budaya yang autentik dan edukatif, sekaligus memperluas apresiasi terhadap seni tradisional Sikka.
Festival Musik Tradisi Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 23-24 Oktober 2026. Kegiatan tersebut juga ditargetkan mendukung promosi budaya lokal, pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui bazar dan pameran produk lokal.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Flores Raya
Uskup Maumere Sebut Konflik Nangahale Paling Berat
Mgr. Ewaldus Martinus Sedu menyebut konflik Nangahale sebagai persoalan terberat selama memimpin Keuskupan Maumere. Sengketa melibatkan 325 hektare la…
Terbaru di Flores Raya

Berita utama hari ini

Baca juga





