Kabar Labuan Bajo

Selasa, 13 Oktober 2026

Mengapa Harga Pangan Lembor dan Batu Cermin Bisa Berbeda

Pemantauan September 2026 mencatat KV harga antarwaktu 3,85 persen di Pasar Lembor dan 5,34 persen di Pasar Batu Cermin. Disparitas antarwilayah mencapai 9,12 persen.

Oleh

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tumpukan cabai merah keriting segar dengan tangkai hijau.
Ilustrasi: Tumpukan cabai merah keriting segar dengan tangkai hijau. · Foto: Undeka 11 / wikimedia (Openverse), CC BY-SA 4.0

Labuan Bajo — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Manggarai Barat mencatat perbedaan pergerakan harga antara Pasar Lembor dan Pasar Batu Cermin berdasarkan pemantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian selama September 2026. Koefisien Variasi (KV) harga antarwaktu tercatat 3,85 persen di Pasar Lembor dan 5,34 persen di Pasar Batu Cermin.

Perbandingan antarwilayah kedua pasar itu mencapai 9,12 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya disparitas harga pada sejumlah komoditas, tetapi belum menjelaskan satu penyebab tunggal. Karena itu, data harga perlu dibaca bersama kondisi produksi, stok, asal pasokan, mutu komoditas, biaya logistik, dan panjang rantai distribusi.

Mengapa disparitas Lembor–Batu Cermin penting bagi pembeli?

Bagi warga yang berbelanja di Manggarai Barat, perbedaan harga antar pasar dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga dan biaya usaha pangan. KV yang lebih tinggi di Pasar Batu Cermin menjadi sinyal bahwa perubahan harga di pasar tersebut lebih bergejolak selama periode pemantauan. Namun, indikator ini bukan daftar harga komoditas dan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh barang di satu pasar selalu lebih mahal.

TPID menempatkan KV sebagai instrumen peringatan dini untuk membaca volatilitas harga dan disparitas antarpasar. Sejumlah komoditas yang perlu diverifikasi meliputi cabai rawit merah, ikan teri, pepaya, cabai merah keriting, cabai merah besar, dan ikan cakalang. Pemeriksaan lanjutan diperlukan agar perbedaan yang tercatat dapat dikaitkan dengan faktor pasokan yang benar-benar terjadi.

Rantai pasok yang ditelusuri mencakup aliran komoditas dari produksi, ketersediaan pangan, stok, arus pasokan, distribusi, logistik, hingga harga di pasar. Dengan pendekatan ini, kenaikan atau perbedaan harga tidak dibaca hanya dari angka di lapak, melainkan dari perjalanan barang sampai ke konsumen.

TPID juga mendorong pengumpulan data stok dan days of cover, perluasan basis data logistik pelaku usaha, serta peningkatan kualitas pemantauan di Pasar Lembor dan Pasar Batu Cermin. Data tersebut dapat membantu menunjukkan berapa lama ketahanan stok dan apakah pasokan berikutnya berpotensi terganggu.

Untuk pembaca di Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya, hasil pemantauan ini berarti harga antar pasar perlu dibandingkan dengan melihat komoditasnya secara spesifik. Perbedaan 9,12 persen merupakan sinyal untuk menelusuri barang dan jalur pasok tertentu, bukan alasan untuk menyamaratakan kondisi semua komoditas.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Data Mabar

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.