Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Liang Ndara Tawarkan Ekowisata Mbeliling dan Homestay Warga

Desa Wisata Liang Ndara di Kecamatan Mbeliling menawarkan ekowisata bentang alam Mbeliling, atraksi budaya seperti Tari Caci, pengamatan burung endemik Flores, serta deret homestay milik warga di jalur utama Trans-Flores.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan BajoDesa Wisata Liang Ndara di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, menjadi salah satu pintu masuk ekowisata bentang alam Mbeliling dan menawarkan pengalaman menginap di homestay milik warga di jalur utama Trans-Flores.

Menurut data resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui platform Jadesta, desa ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Labuan Bajo dengan akses kendaraan bermotor. Sementara Victory News Manggarai Barat menyebut jarak sekitar 30 kilometer. Kedua sumber sepakat bahwa Liang Ndara berada di kawasan perbukitan yang menghadap ke lanskap Mbeliling.

Liang Ndara berdekatan dengan Hutan Mbeliling yang menjadi habitat beberapa burung endemik Flores dan lokasi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang difasilitasi organisasi konservasi Burung Indonesia sejak 2008. Burung Indonesia mencatat kawasan Mbeliling sebagai habitat lima jenis burung endemis Flores, termasuk kehicap Flores, serindit Flores, celepuk Flores, gagak Flores, dan perkici Flores.

Atraksi alam dan budaya

Sejumlah kajian akademik mengenai ekowisata Liang Ndara menyebut potensi utama desa ini meliputi Gunung Mbeliling, air terjun, gua, serta atraksi budaya seperti Tari Caci. Tari Caci, kesenian tradisional Manggarai, ditampilkan oleh beberapa sanggar budaya di desa tersebut dan menjadi salah satu alasan utama wisatawan berkunjung, menurut laporan media lokal dan pernyataan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Penelitian yang dipublikasikan Jurnal Destinasi Pariwisata Universitas Udayana merinci atraksi alam ekowisata di Liang Ndara, antara lain Gunung Mbeliling untuk kegiatan trekking, pengamatan burung, berkemah, menikmati pemandangan, serta sunset dan sunrise. Potensi lain yang disebut adalah Air Terjun Liang Kantor, Air Terjun Cunca Rami, Gua Liang Niki, dan Puncak Melo.

Desa ini juga dikenal dengan aktivitas kerajinan dan tenun songke, serta kios cinderamata yang menjual topi songket, kain tenun, selendang, dan perhiasan tradisional Manggarai. Menurut kajian tentang pengembangan ekowisata, masyarakat turut terlibat dalam sanggar budaya, penyediaan homestay, pemanduan wisata, pengelolaan ekowisata, dan pengelolaan keuangan.

Gunung Mbeliling dan pengamatan burung

Gunung Mbeliling disebut sebagai salah satu gunung tertinggi di Kabupaten Manggarai Barat dengan ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini dikembangkan sebagai ekowisata burung dan trekking oleh Burung Indonesia dan lembaga lain dengan pemberdayaan masyarakat lokal.

Burung Indonesia mencatat bentang alam Mbeliling sebagai habitat berbagai spesies burung terancam punah dan endemik Flores, seperti Flores Monarch, Flores Hanging Parrot, Flores Crow, dan Flores Owl. Media lokal menempatkan aktivitas pengamatan burung dan jelajah hutan sebagai bagian dari paket wisata minat khusus yang ditawarkan desa-desa di Mbeliling, termasuk Liang Ndara.

Homestay dan pengalaman menginap

Menurut Victory News, homestay milik warga di Liang Ndara berada di jalan utama Trans-Flores dan dikembangkan dengan konsep dekat dengan alam, menyajikan panorama matahari terbenam dari kawasan perbukitan. Media tersebut menyebut ketersediaan “puluhan” homestay dengan fasilitas sederhana yang mengedepankan pengalaman tinggal di lingkungan desa.

Platform Jadesta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat sejumlah homestay di Liang Ndara, antara lain Dapur Tara, Ananta Homestay, Basilius Damin Homestay, Hilarius Haban Homestay, Homestay Herman Berahun, Stevanus Landing, Primus Hata Homestay, dan Homestay Iknas Nansi. Tarif yang tercantum berkisar sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu per malam. Kajian ekowisata menyebut homestay atau guest house sebagai salah satu bentuk usaha masyarakat untuk menanggapi permintaan wisatawan yang ingin menginap di desa.

Selain homestay, restoran Dapur Tara di Desa Liang Ndara disebut media lokal sebagai tempat yang menyajikan kuliner tradisional khas Flores dan terhubung dengan fasilitas menginap di sekitarnya. Laporan lain menyebut homestay sebagai sarana edukasi bagi wisatawan untuk belajar kearifan lokal dan budaya masyarakat.

Posisi dalam pengembangan desa wisata

Desa Liang Ndara telah ditetapkan sebagai desa wisata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan termasuk dalam kategori Desa Wisata Berkelanjutan bersama sejumlah desa lain di Indonesia. Menurut pernyataan Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina, desa ini berada pada tahap desa wisata berkembang dan diarahkan menuju desa wisata maju dan mandiri.

BPOLBF dan Burung Indonesia menempatkan budaya, kearifan lokal, homestay warga, serta potensi burung endemik di Hutan Mbeliling sebagai kekuatan utama pengembangan pariwisata di Liang Ndara. Pengembangan berbasis masyarakat ini diharapkan memperluas manfaat kunjungan wisatawan di luar kawasan inti Labuan Bajo.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.