BMKG: Angin Laut Flores 5–17 Knot, Gelombang Sedang
Buletin maritim BMKG pada 15 September 2026 menunjukkan Laut Flores berkategori gelombang sedang dengan angin timur 5–17 knot.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 5 menit baca
Labuan Bajo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Laut Flores dalam kategori gelombang sedang dengan angin timur 5–17 knot dalam buletin maritim untuk pelayaran Metarea XI pada Selasa, 15 September 2026. Informasi ini menjadi salah satu rujukan bagi operator kapal wisata, namun keputusan berlayar tetap bergantung pada penilaian kondisi aktual di lapangan, kemampuan kapal, dan arahan otoritas pelabuhan.
Dalam buletin yang diterbitkan BMKG Jakarta pukul 00.00 UTC, bagian Flores Sea menggambarkan angin dari timur dengan kecepatan 5–17 knot dan kondisi laut moderate atau sedang. Pada bagian peringatan cuaca, BMKG menyatakan “Nil.” yang berarti tidak ada peringatan khusus yang berlaku untuk wilayah Metarea XI pada saat buletin tersebut disusun.
Kategori umum dalam buletin tidak serta-merta berarti semua kapal dapat berlayar dengan tingkat risiko yang sama. Kapal dengan ukuran, desain, kapasitas, dan rute berbeda akan merespons kombinasi angin dan gelombang secara berbeda. Operator perlu membaca angka angin, hembusan, gelombang, dan arus secara bersamaan sebelum menentukan kelayakan pelayaran wisata.
Cara membaca angka BMKG
Kecepatan angin yang ditampilkan dalam produk maritim BMKG merupakan gambaran angin rata-rata. Pada halaman prakiraan cuaca maritim, BMKG menambahkan informasi gust, yaitu peningkatan kecepatan angin yang singkat dan mendadak, yang dapat melampaui nilai rata-rata. Dalam salah satu contoh prakiraan perairan yang ditampilkan BMKG, angin 9–13 knot dapat disertai hembusan hingga lebih dari 20 knot.
Prakiraan perairan Laut Flores untuk periode 10–13 September 2026 yang diterbitkan BMKG menunjukkan perubahan nilai angin, hembusan, dan gelombang dari jam ke jam. Dalam dokumen tersebut, angin timur pada kisaran belasan knot disertai hembusan yang dapat mendekati 25–29 knot, dengan tinggi gelombang signifikan sekitar 1,1–1,6 meter pada beberapa waktu prakiraan.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa operator tidak cukup hanya melihat label “sedang” atau angka angin rata-rata. Perubahan per jam, terutama peningkatan hembusan, perlu dibandingkan dengan rute, jadwal keberangkatan, dan karakteristik kapal, termasuk kemampuan mesin, bentuk lambung, dan sistem keselamatan di atas kapal.
Data BMKG yang relevan:
- Buletin maritim pelayaran 15 September 2026: Laut Flores, angin timur 5–17 knot, laut kategori sedang.
- Prakiraan perairan Laut Flores 10–13 September 2026: angin timur belasan knot dengan hembusan yang dapat mendekati 25–29 knot.
- Dalam periode prakiraan tersebut, tinggi gelombang signifikan di Laut Flores berada pada kisaran sekitar 1,1–1,6 meter.
Arus dan gelombang dalam penilaian pelayaran
Produk prakiraan perairan BMKG juga menampilkan arah dan kecepatan arus laut dalam satuan knot. Di sejumlah perairan, arus tercatat bergerak sekitar 1–1,5 knot dengan arah yang berbeda-beda, misalnya ke selatan atau barat daya. Arah serta kecepatan arus dapat memengaruhi waktu tempuh, manuver, dan posisi kapal terhadap jalur yang direncanakan.
Bagi operator, informasi arus perlu dibaca bersama arah angin. Kombinasi angin timur dan arus yang mengalir ke barat daya atau selatan dapat menghasilkan kondisi yang berbeda bergantung pada arah perjalanan dan bentuk perairan yang dilalui. Penilaian tersebut memerlukan pengetahuan awak kapal, uji kelaikan kapal, dan pemeriksaan kondisi lapangan sebelum keberangkatan.
BMKG menggunakan skala tinggi gelombang signifikan untuk mengelompokkan kondisi laut. Dalam pedoman gelombang tujuh hari ke depan, perairan dengan gelombang sekitar 1,25–2,5 meter dikategorikan sebagai moderate atau sedang. Dokumen yang sama menempatkan Laut Flores dalam kelompok perairan dengan gelombang sedang pada 15 September 2026, bersama beberapa perairan lain di Nusa Tenggara dan sekitarnya.
BMKG juga menjelaskan bahwa tinggi gelombang maksimum di laut dapat mencapai sekitar dua kali tinggi gelombang signifikan yang dilaporkan. Karena itu, gelombang signifikan sekitar 1,3–1,6 meter tidak bisa dipahami sebagai tinggi maksimum yang pasti dialami kapal. Kondisi aktual dapat berbeda menurut lokasi, waktu, arah kapal, dan perubahan angin.
Informasi bagi operator kapal wisata
Sebelum menjual atau memberangkatkan perjalanan wisata laut, operator kapal perlu memperbarui pembacaan buletin pelayaran Metarea XI dan prakiraan perairan untuk rute yang akan dilalui. Pemeriksaan sebaiknya mencakup kecepatan angin, potensi hembusan, tinggi gelombang, arah arus, serta perubahan prakiraan sepanjang waktu pelayaran.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo dalam beberapa kesempatan menekankan agar nakhoda tidak memaksakan pelayaran saat cuaca memburuk dan segera mencari tempat berlindung jika gelombang dan angin menguat, berdasarkan maklumat keselamatan pelayaran yang dikutip sejumlah media nasional pada September 2026. Dalam maklumat tersebut, KSOP juga memperketat persetujuan berlayar untuk kapal wisata dan meminta operator memantau prakiraan cuaca BMKG secara berkala.
Dengan demikian, angka BMKG berfungsi sebagai informasi meteorologi dan oseanografi yang perlu ditafsirkan bersama ketentuan keselamatan pelayaran. Wisatawan dapat meminta penjelasan kepada operator mengenai pemeriksaan cuaca terbaru, rute, dan rencana penghentian atau perubahan perjalanan jika kondisi memburuk, terutama saat Laut Flores berada dalam kategori gelombang sedang dan angin timur mendekati batas atas buletin.
Konteks regional
Buletin BMKG pada 15 September 2026 menggambarkan pola angin dari ringan hingga sedang di berbagai wilayah Metarea XI. Di Laut Flores, angin bertiup dari timur dengan kecepatan 5–17 knot dan laut berkategori sedang. Sejumlah perairan lain di sekitar Nusa Tenggara juga masuk kategori gelombang sedang dalam dokumen prakiraan gelombang tujuh hari ke depan BMKG.
Pada pekan yang sama, KSOP Labuan Bajo menutup sementara pelayaran wisata ke Pulau Komodo dan Pulau Padar karena ancaman gelombang hingga mendekati 2 meter dan angin kencang, dengan rujukan data dari BMKG Stasiun Maritim Tenau Kupang. Penutupan berlangsung beberapa hari dan dibuka kembali setelah prakiraan menunjukkan penurunan tinggi gelombang dan kecepatan angin. Kejadian ini menunjukkan bagaimana angka angin dan gelombang BMKG digunakan otoritas setempat untuk menyesuaikan operasional kapal wisata di kawasan Labuan Bajo.
Sumber
Berita berikutnya

BMKG Prakirakan Gelombang Komodo Hingga 1,9 Meter
BMKG memprakirakan gelombang laut kategori sedang di perairan Taman Nasional Komodo dengan ketinggian hingga sekitar 1,9 meter pada 15–18 September 20…
Baca juga




