KSOP Tutup Sementara Pelayaran Komodo-Padar 13–15 September 2026
KSOP Kelas III Labuan Bajo kembali menutup sementara pelayaran wisata kapal menuju Pulau Komodo dan Pulau Padar pada 13–15 September 2026 karena gelombang laut nyaris dua meter.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo kembali menutup sementara pelayaran kapal wisata menuju Pulau Komodo dan Pulau Padar pada 13–15 September 2026 karena cuaca buruk dan gelombang laut yang berpotensi mencapai hampir dua meter.
Penutupan ini menyasar kapal wisata yang beroperasi di kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Menurut Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo Stephanus Risdiyanto, kebijakan tersebut diambil untuk menjamin keselamatan pelayaran menyusul prakiraan gelombang tinggi dan angin kencang di perairan setempat.
Media nasional memberitakan, keputusan penutupan sementara pelayaran wisata ke Pulau Komodo dan Pulau Padar pada 13–15 September 2026 dilakukan setelah adanya peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi gelombang signifikan sekitar 1,9 meter di perairan Taman Nasional Komodo. Informasi prakiraan maritim BMKG menunjukkan gelombang sedang hingga mendekati dua meter di kawasan tersebut.
Stephanus menjelaskan pelayanan surat persetujuan berlayar (SPB) untuk kapal wisata selama periode penutupan tetap dapat diberikan dengan tujuan Pulau Rinca. Pulau Rinca merupakan salah satu habitat komodo di kawasan Taman Nasional Komodo dan menjadi alternatif tujuan wisata ketika akses laut ke Pulau Komodo dan Pulau Padar ditutup sementara.
Aturan pelayaran dan imbauan bagi nakhoda
KSOP Labuan Bajo meminta nakhoda memastikan kelaiklautan kapal sebelum berlayar, termasuk memeriksa kesiapan mesin, perlengkapan keselamatan, dan kondisi muatan. Nakhoda diminta memantau perkembangan cuaca maritim secara berkala serta mengutamakan keselamatan penumpang dan awak saat terjadi perubahan kondisi perairan.
Dalam imbauan yang disampaikan melalui media, KSOP mengingatkan nakhoda untuk segera mencari tempat berlindung apabila cuaca memburuk, terutama ketika angin menguat dan gelombang meningkat di sekitar perairan Taman Nasional Komodo. Kapal wisata yang sudah berada di kawasan taman nasional diminta menyesuaikan rute pelayaran dan menghindari jalur menuju Pulau Komodo dan Pulau Padar selama masa penutupan.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat, dalam periode cuaca buruk KSOP juga menyoroti beberapa titik perairan yang kerap dilalui kapal wisata dan perlu diwaspadai saat gelombang tinggi. Titik-titik tersebut berada di sekitar Selat Padar, perairan dekat Pulau Komodo, dan jalur pelayaran yang menghubungkan Labuan Bajo dengan destinasi wisata utama di taman nasional.
KSOP mengimbau nakhoda untuk berkoordinasi dengan petugas kesyahbandaran dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bila terjadi keadaan darurat di laut. Langkah ini disebut penting untuk mempercepat penanganan insiden pelayaran di tengah cuaca maritim yang tidak stabil.
Prakiraan cuaca dan kemungkinan perpanjangan penutupan
Prakiraan BMKG menunjukkan cuaca di perairan Taman Nasional Komodo berangsur membaik mulai Rabu, 16 September 2026, dengan kecepatan angin diperkirakan menurun dan tinggi gelombang melandai di bawah sekitar 1,5 meter. Namun, pembukaan kembali akses pelayaran ke Pulau Komodo dan Pulau Padar tidak otomatis mengikuti perubahan prakiraan cuaca.
Menurut pemberitaan media, KSOP Labuan Bajo menyatakan keputusan berikutnya akan mempertimbangkan pemantauan harian kondisi laut dan rekomendasi BMKG. Pelayanan SPB tujuan Pulau Komodo dan Pulau Padar baru akan dibuka kembali jika perairan dinilai aman bagi pelayaran wisata.
Penutupan sementara kali ini menambah rangkaian pembatasan pelayaran wisata ke Pulau Komodo dan Pulau Padar yang telah beberapa kali diberlakukan sepanjang 2026. Sebelumnya, KSOP Labuan Bajo menutup akses pelayaran ke dua destinasi tersebut pada awal Agustus dan awal September 2026 akibat cuaca maritim ekstrem dan gelombang tinggi di perairan Manggarai Barat.
Sumber
Berita berikutnya

Gempa M7,7 Flores Jadi Momentum Penguatan Mitigasi Wisata Berbasis Risiko
BMKG memanfaatkan gempa M7,7 Flores dan survei lapangan pascagempa untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis sains, teknologi, dan data.
Baca juga


