Pascagempa Flores, Pemulihan Pariwisata Dibaca lewat Akses, Atraksi, Amenitas
Gempa magnitudo 7,7 di kawasan Mbay–Nagekeo pada 15 Agustus 2026 memukul ekosistem pariwisata Flores. Kemenpar dan BPOLBF memulihkan sektor ini dengan kerangka aksesibilitas, atraksi, dan amenitas, sambil menjaga keselamatan wisatawan.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemulihan pariwisata Flores pascagempa magnitudo 7,7 di kawasan Mbay–Nagekeo pada Sabtu, 15 Agustus 2026, berlangsung bertahap dan tidak seragam antar destinasi. Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memantau dampak gempa terhadap akses, atraksi, dan amenitas pariwisata di Flores serta kawasan sekitarnya.
Menurut Kementerian Pariwisata, gempa berkedalaman sekitar 15 kilometer itu dirasakan hingga Labuan Bajo dan berdampak pada fasilitas pariwisata di sejumlah wilayah. Pemerintah pusat menempatkan keselamatan wisatawan dan pelaku usaha sebagai prioritas dalam penanganan darurat dan fase pemulihan.
Dalam berbagai penjelasan resmi, Kemenpar dan BPOLBF menekankan pentingnya pemulihan ekosistem pariwisata melalui tiga komponen utama: aksesibilitas, atraksi, dan amenitas yang saling terkait. Kerangka ini menjadi rujukan untuk mengukur kesiapan destinasi menerima kembali kunjungan wisatawan.
Akses: pelabuhan dan pelayaran menuju Komodo berangsur normal
Pada aspek aksesibilitas, Kemenpar menyatakan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo mulai berangsur normal beberapa hari setelah gempa. Berdasarkan pemantauan BPOLBF, Pelabuhan Marina Labuan Bajo kembali beroperasi normal dan akses pelayaran menuju Taman Nasional Komodo dibuka kembali.
Aktivitas wisata di Pulau Padar, Loh Liang di Pulau Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca, dan Gili Lawa juga dilaporkan telah kembali berjalan normal, dengan kunjungan wisatawan mencapai lebih dari 2.000 orang per hari pada 17 Agustus 2026. BPOLBF membuka layanan hotline pariwisata untuk menyediakan informasi terkini bagi wisatawan dan pelaku usaha.
Kemenpar tetap mengingatkan bahwa normalisasi akses di Labuan Bajo dan Komodo tidak berarti seluruh rute dan wilayah di Flores bebas kendala. Sejumlah titik wisata di daerah lain masih menghadapi gangguan jaringan komunikasi dan pasokan listrik.
Atraksi: sebagian destinasi dibuka, lainnya tetap ditutup sementara
Gempa menyebabkan kerusakan pada sejumlah daya tarik wisata di Flores dan Nusa Tenggara Timur. Menurut Kemenpar, beberapa objek wisata unggulan harus ditutup sementara sebagai langkah antisipasi keselamatan wisatawan.
Berdasarkan hasil verifikasi lapangan BPOLBF, Kampung Adat Wae Rebo dan Ruteng Pu'u di Kabupaten Manggarai ditutup sementara. Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende juga ditutup akibat material longsoran di dinding kawah. Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere di Kabupaten Sikka menghentikan operasinya, sedangkan beberapa titik wisata di Ngada dan Nagekeo masih terkendala komunikasi dan listrik.
Di sisi lain, aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan sejumlah kawasan di Taman Nasional Komodo dilaporkan berangsur normal. Keputusan membuka atau menutup destinasi dilakukan berdasarkan pemeriksaan lapangan terhadap keamanan bangunan, kondisi jalur, dan situasi lingkungan. Penutupan sementara menjadi instrumen keselamatan sampai destinasi dinyatakan laik kembali menerima wisatawan.
Amenitas: hotel dan fasilitas pariwisata terdampak kerusakan
Kemenpar mencatat sejumlah hotel dan fasilitas pendukung pariwisata mengalami kerusakan akibat gempa. Hotel Jayakarta di Manggarai Barat mengalami kerusakan struktur pada beberapa bagian bangunan, sehingga tamu dan karyawan harus dievakuasi. Hotel Papita di Mbay juga dilaporkan terdampak dan masih dalam proses pendataan tingkat kerusakannya.
Sementara itu, beberapa hotel di Labuan Bajo seperti Ayana, Ta’aktana Marriott, Crown, Menjaga Bay, Luwansa, Sudamala, dan Meurorah dilaporkan dalam kondisi aman. Sejumlah restoran dan lokasi wisata lain di Labuan Bajo serta kawasan sekitarnya juga tercatat mengalami kerusakan, dan ratusan wisatawan dievakuasi dari Pulau Padar dan titik-titik wisata lain.
Dampak terhadap amenitas menunjukkan bahwa pemulihan pariwisata tidak cukup diukur dari dibukanya kembali jalur transportasi atau destinasi utama. Akomodasi, layanan makanan, sanitasi, dan fasilitas pendukung lain perlu diperiksa dan dinyatakan aman sebelum dapat beroperasi kembali penuh.
Pemulihan bertahap dan kebutuhan informasi terukur
Data BPBD NTT per 18 Agustus 2026 mencatat 69 orang meninggal, 331 orang luka-luka, dan 34.689 orang mengungsi akibat gempa. Angka ini menggambarkan skala gangguan terhadap kehidupan masyarakat di Flores, termasuk mereka yang bergantung pada sektor pariwisata.
Kemenpar dan BPOLBF menekankan pentingnya informasi terukur mengenai status destinasi, akses, dan amenitas agar wisatawan serta pelaku usaha dapat merencanakan perjalanan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, bukan sekadar status “dibuka”. Layanan hotline dan verifikasi berkala menjadi alat untuk mengurangi kesimpangsiuran informasi.
Dengan kerangka aksesibilitas, atraksi, dan amenitas, pemulihan pariwisata Flores pada paruh kedua Agustus 2026 lebih tepat dipahami sebagai proses bertahap. Sebagian destinasi dan fasilitas di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo mulai normal, sementara sejumlah kampung adat, taman nasional, dan kawasan pesisir di kabupaten lain masih ditutup atau terbatas operasinya demi keselamatan.
Sumber
- Jakartakita.com: Pasca-Gempa Flores NTT, Kemenpar Pastikan Keselamatan Wisatawan dan Dampak Pariwisata
- AMPHURI: Pariwisata Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo Berangsur Normal
- NTVNews.id: Pascagempa NTT, Ini Destinasi Wisata Yang Masih Ditutup Dan Sudah Dibuka
- Validnews.id: Pascagempa NTT, Ini Destinasi Wisata Yang Masih Ditutup Dan Sudah Dibuka
- Investor.id: Gempa M 7,7 NTT: 986 Wisatawan di Pulau Padar Dievakuasi dan Selamat
- RCTI+: Pascagempa M7,7, Kemenpar Hentikan Rangkaian Penutupan Festival Golo Koe di Manggarai Barat NTT
- iNews.id: Gempa di NTT, Kemenpar Ungkap Sejumlah Hotel hingga Destinasi Wisata Rusak
- Radarindonesianews.com: Pasca Gempa, Pariwisata Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo Berangsur Normal
Berita berikutnya

Gempa M7,7 Flores Jadi Momentum Penguatan Mitigasi Wisata Berbasis Risiko
BMKG memanfaatkan gempa M7,7 Flores dan survei lapangan pascagempa untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis sains, teknologi, dan data.
Baca juga




