Kemarau dan Saluran Irigasi Jebol, Sawah Ulungali Terancam Gagal Tanam
Kemarau panjang dan saluran primer DI Wae Mantar I yang jebol memangkas hasil panen padi di Desa Persiapan Ulungali, Kecamatan Satar Mese. Petani meminta perbaikan permanen sebelum musim tanam berikutnya agar tidak kembali gagal tanam.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Lebih dari 82 hektare sawah di Desa Persiapan Ulungali, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, terdampak kemarau panjang dan kerusakan saluran primer Daerah Irigasi (DI) Wae Mantar I di Topok, Desa Ponggeok. Kondisi itu menurunkan hasil panen Musim Tanam (MT) II 2026 dan membuat petani di wilayah tersebut terancam gagal tanam pada MT III September–Desember 2026, menurut laporan FokusNTT dan sorotan Fraksi Gerindra DPRD Manggarai.
Areal persawahan yang terdampak dilaporkan mengering dan hanya menyisakan rumput serta jerami kering di lahan. Informasi ini disampaikan dalam laporan FokusNTT yang terbit Kamis, 10 September 2026, berdasarkan pantauan lapangan dan keterangan petani serta Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Satar Mese.
Ketua Kelompok Tani Ulungali Baru, Stanislaus Petor, menjelaskan penurunan produksi dipengaruhi berkurangnya debit air pada puncak kemarau dan jebolnya saluran primer DI Wae Mantar I sepanjang sekitar 15 meter di Desa Ponggeok, sebelah utara Desa Persiapan Ulungali. Menurut dia, kerusakan tersebut terjadi sejak awal 2026 dan hingga September belum diperbaiki secara permanen oleh Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara Timur.
Stanislaus mengatakan selama ini petani Ulungali melakukan perbaikan darurat secara gotong royong menggunakan bahan seadanya. Fraksi Gerindra DPRD Manggarai dalam pernyataannya di media lokal juga menyoroti saluran primer Wae Mantar I di Topok, Desa Ponggeok, yang dilaporkan jebol sejak awal 2026 dan belum mendapat penanganan tuntas dari pemerintah.
Hasil panen turun drastis
Seorang petani Ulungali, Konradus, menyebut produksi padi yang biasanya mencapai beberapa ton per hektare turun menjadi sekitar 0,4–0,8 ton gabah per hektare pada MT II 2026. Kekurangan air terjadi ketika tanaman padi memasuki fase bunting hingga fase reproduktif, sehingga sebagian tanaman mengalami kerusakan dan gabah tidak terisi penuh, menurut kesaksiannya yang dikutip FokusNTT.
Kepala BPP Kecamatan Satar Mese, Blasius Badur, membenarkan penurunan hasil panen di Ulungali. Ia mencatat produksi pada MT I 2026 masih mencapai sekitar 5 ton gabah per hektare, sedangkan pada MT II hanya sekitar 0,8 ton gabah per hektare. Blasius menyarankan petani tidak memaksakan penanaman sebelum hujan turun dan aliran air irigasi kembali stabil.
Dengan kondisi saluran primer yang masih rusak dan pasokan air yang terbatas, petani disebut tidak dapat meneruskan kegiatan tanam pada MT III yang berlangsung September–Desember 2026. Laporan Fraksi Gerindra menyebut saluran primer Wae Mantar I di Topok mengairi areal persawahan sekitar 400 hektare yang meliputi sejumlah desa di Satar Mese, termasuk Desa Persiapan Ulungali.
Data utama yang disampaikan BPP dan petani Ulungali antara lain:
- Luas sawah terdampak di kawasan Ulungali: lebih dari 82 hektare.
- Panjang saluran primer yang jebol di Ponggeok: sekitar 15–20 meter.
- Hasil panen: dari sekitar 5 ton per hektare pada MT I 2026 menjadi sekitar 0,8 ton per hektare pada MT II 2026.
Stanislaus dan sejumlah petani Ulungali meminta pemerintah memperbaiki saluran primer Wae Mantar I sebelum musim tanam berikutnya. Mereka menyatakan telah berulang kali menyampaikan permintaan perbaikan, namun hingga laporan ini dibuat saluran belum dipulihkan secara permanen.
Dampak kemarau lebih panjang
Menurut laporan FokusNTT, Stasiun Meteorologi Bandara Frans Sales Lega menyampaikan bahwa musim kemarau di Nusa Tenggara Timur pada 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk informasi rinci mengenai kondisi iklim di NTT, stasiun tersebut merujuk pada data Stasiun Klimatologi Kupang yang menjadi rujukan prakiraan iklim di provinsi ini.
Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah Kabupaten Manggarai sebelumnya mencatat fluktuasi dan penurunan produksi padi sawah di Kecamatan Satar Mese yang bergantung pada sistem irigasi Wae Mantar I dan Wae Mantar II. Kebijakan pengaturan irigasi dan perubahan pola tanam beberapa tahun terakhir sempat meningkatkan produktivitas, namun kerusakan jaringan irigasi dan kemarau berkepanjangan pada 2026 kembali menekan hasil panen petani di wilayah Ulungali dan sekitarnya.
Sumber
Berita berikutnya

Pemkab Sikka Akan Tata Ulang Penempatan Nakes di Puskesmas
Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan akan menata ulang penempatan tenaga kesehatan di puskesmas setelah Dinas Kesehatan menemukan kelebihan tenaga di…
Baca juga



