Karantina Ende Fasilitasi Ekspor Perdana Bubuk Kelor dari Labuan Bajo
Karantina Pertanian Ende memfasilitasi ekspor perdana bubuk daun kelor dari Labuan Bajo ke Hong Kong dan Singapura pada 26 September 2021. Pengiriman dilakukan CV Surga Timur Indonesia dengan volume 24 kilogram senilai Rp24 juta.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Karantina Pertanian Ende memfasilitasi sertifikasi ekspor perdana bubuk daun kelor dari Labuan Bajo ke Hong Kong dan Singapura pada 26 September 2021. Pengiriman dilakukan oleh CV Surga Timur Indonesia dengan volume 24 kilogram dan nilai Rp24 juta.
Menurut laporan yang memuat keterangan Karantina Pertanian Ende, pelepasan ekspor berlangsung di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo. Hadir dalam kegiatan itu Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng, pejabat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Labuan Bajo, serta instansi terkait lain.
Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende Kostan Manalu mengatakan sertifikat kesehatan tumbuhan atau phytosanitary certificate diterbitkan setelah pemeriksaan fisik dan administrasi. Pemeriksaan dilakukan melalui wilayah kerja Karantina Pertanian Ende di Labuan Bajo untuk memastikan komoditas memenuhi persyaratan negara tujuan.
Media lain juga melaporkan ekspor perdana moringa powder dari Labuan Bajo pada tanggal yang sama. Laporan itu menyebut pengiriman dilakukan oleh CV Surga Timur Indonesia melalui Bandara Komodo menuju Hong Kong dan Singapura.
Pendampingan sebelum pengiriman
Karantina Pertanian Ende memberi pendampingan kepada pelaku usaha sebelum ekspor dilakukan. Pendampingan itu mencakup pemenuhan persyaratan serta penjelasan mengenai ketentuan negara tujuan.
Fasilitasi sertifikasi tersebut merupakan bagian dari dorongan pemerintah untuk meningkatkan ekspor komoditas pertanian. Dalam laporan yang sama, Karantina Pertanian Ende menyebut Flores dan Lembata memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan ke pasar luar negeri.
Pengiriman dalam bentuk bubuk menunjukkan komoditas kelor sudah melalui proses pengolahan sebelum diekspor. Namun, laporan yang tersedia tidak merinci sumber bahan baku, jumlah petani yang terlibat, atau pola kemitraan antara pelaku usaha dan pemasok.
Konteks ekspor kelor dari Flores
Dalam laporan tersebut, kelor disebut sebagai salah satu tanaman yang tumbuh luas di Flores dan lazim dikonsumsi sebagai sayuran, selain dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Karantina Pertanian Ende juga mengaitkan ekspor perdana ini dengan Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor atau Gratieks.
Lembaga itu berharap ekspor dari Flores tidak berhenti pada kelor, tetapi berkembang ke komoditas lain seperti kopi, kakao, biji mete, sarang burung walet, dan porang. Sejumlah data nasional yang dikutip dalam laporan menunjukkan ekspor kelor Indonesia sepanjang 2021 mencapai 11,88 ton ke berbagai negara.
Ekspor perdana dari Labuan Bajo ini menandai pembukaan jalur baru bagi produk olahan pertanian Flores. Bagi pelaku usaha di daerah, sertifikasi karantina menjadi pintu awal agar produk memenuhi syarat negara tujuan dan dapat masuk ke rantai perdagangan luar negeri.
Setelah pengiriman perdana itu, laporan tidak memuat rincian tindak lanjut ekspor dari CV Surga Timur Indonesia. Informasi yang tersedia juga belum menjelaskan pembagian nilai ekonomi di tingkat petani maupun kapasitas produksi perusahaan.
Data yang terverifikasi hanya menunjukkan bahwa pada 26 September 2021, bubuk daun kelor asal Flores diberangkatkan dari Labuan Bajo untuk pasar Hong Kong dan Singapura dengan fasilitas sertifikasi dari Karantina Pertanian Ende.
Sumber
Berita berikutnya

Nanas Kampung Ndole Mulai Pasok Pasar Labuan Bajo
Nanas dari Kampung Ndole, Desa Golo Damu di Kecamatan Mbeliling, mulai memasok pasar Labuan Bajo melalui pedagang pengumpul.
Baca juga




