Blasius Agen Kembangkan Kebun Nanas Hampir Dua Hektare di Golo Damu
Blasius Agen, petani di Kampung Ndole, Desa Golo Damu, Mbeliling, Manggarai Barat, mengelola kebun nanas hampir dua hektare dengan sekitar 15 ribu tanaman.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Blasius Agen, 71 tahun, mengembangkan kebun nanas di Kampung Ndole, Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Menurut laporan Radio Republik Indonesia (RRI), luas kebun itu hampir dua hektare dengan sekitar 15 ribu tanaman nanas yang ia kelola sejak sekitar 15 tahun lalu.
Blasius sebelumnya menanam kemiri di lahan yang sama. Ia kemudian beralih ke nanas karena panen nanas dinilai lebih teratur dibandingkan kemiri yang produksinya tidak menentu setiap tahun.
RRI memberitakan Blasius ditemui di kebunnya di Kampung Ndole pada Jumat, 18 September 2026. Dalam laporan itu disebutkan, selain nanas, Blasius masih mengusahakan kopi arabika dan cengkeh, namun nanas menjadi komoditas utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Panen Bertahap dan Jalur Pemasaran
Produksi nanas di kebun Blasius tidak berlangsung serentak. Menurut RRI, dalam kondisi tertentu panen dapat dilakukan setiap minggu, sementara pada periode produksi lebih rendah panen dilakukan sekitar dua minggu sekali.
Dalam sekali panen, hasil berkisar sekitar 50 buah ketika produksi rendah dan dapat mencapai 600 hingga 700 buah saat produksi meningkat. Buah-buah tersebut diambil pedagang dan masuk ke rantai pasok Labuan Bajo, sebagaimana diberitakan dalam laporan RRI lain tentang nanas lokal Kampung Ndole yang dipasarkan ke Labuan Bajo.
Menurut penuturan Blasius yang dikutip RRI, pedagang dari Labuan Bajo biasanya membawa 200 hingga 300 buah dalam satu kali pengambilan. Harga di tingkat petani bergantung pada ukuran buah dan jumlah pembelian.
Masih menurut RRI, pengelolaan kebun nanas Blasius dapat diringkas sebagai berikut:
- Luas kebun hampir dua hektare.
- Jumlah tanaman sekitar 15 ribu pohon nanas.
- Hasil panen per sekali petik berkisar 50 hingga 700 buah.
- Harga pembelian dalam jumlah besar sekitar Rp10 ribu–Rp15 ribu per buah.
- Harga pembelian dalam jumlah lebih sedikit sekitar Rp25 ribu–Rp35 ribu per buah.
- Pendapatan sekali pengambilan hasil panen sekitar Rp6 juta–Rp7 juta.
Perawatan Kebun dan Peralihan dari Kemiri
Dalam wawancara dengan RRI, Blasius menilai budidaya nanas relatif mudah, namun pembersihan gulma perlu dilakukan rutin. Duri pada tanaman membuat pekerjaan pemeliharaan lebih sulit, sementara gulma yang terlambat dibersihkan dapat menghambat pertumbuhan nanas.
Sebelum beralih ke nanas, Blasius memiliki sekitar 24 pohon kemiri berukuran besar yang sudah berproduksi. Ia menebang pohon-pohon tersebut sekitar enam hingga tujuh tahun sebelum laporan RRI terbit untuk memperluas kebun nanas.
Foto kegiatan panen nanas di Desa Golo Damu yang dimuat sebuah media nasional pada 19 September 2026 memperlihatkan petani memanen buah nanas di Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, pada Jumat, 18 September. Publikasi tersebut sejalan dengan laporan RRI tentang aktivitas panen nanas di Kampung Ndole dan pengembangan kebun Blasius Agen.
Perkembangan kebun nanas di Kampung Ndole menunjukkan upaya petani lokal memanfaatkan komoditas dengan pola panen yang lebih berkala dan akses pasar ke Labuan Bajo. Di tengah keterbatasan infrastruktur di wilayah Mbeliling, sebagaimana pernah disoroti media lokal dalam pemberitaan tentang Kampung Ndole dan sekitarnya, usaha Blasius menjadi salah satu contoh pemanfaatan lahan untuk komoditas hortikultura yang terhubung dengan pasar wisata.
Sumber
Berita berikutnya
BUMDes Wolokota Utamakan Hasil Telur untuk Biaya Pakan
BUMDes Wolokota di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, memprioritaskan hasil penjualan telur ayam untuk memenuhi kebutuhan pakan agar usaha ayam petelur…
Baca juga


