Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

58 KLB Campak Tercatat di 39 Daerah, Status Flores Belum Jelas

Kementerian Kesehatan mencatat 58 kejadian luar biasa campak di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi hingga pekan ke-11 2026. Data nasional ini belum merinci apakah ada kabupaten di Flores yang termasuk dalam daerah berstatus KLB.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Kelimutu National Park is one of tourist destination in Flores island, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Foto arsip: Kelimutu National Park is one of tourist destination in Flores island, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. · Foto: Almarams / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Labuan Bajo — Kementerian Kesehatan mencatat 58 kejadian luar biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi hingga pekan ke-11 2026 berdasarkan data surveilans nasional. Data ini disampaikan antara lain melalui siaran pers kementerian dan diberitakan sejumlah media nasional pada akhir Maret 2026.

Dalam laporan tersebut, Kemenkes juga menyebut jumlah kasus campak pada awal 2026 sempat mencapai 2.740 sebelum menurun menjadi 177 kasus pada pekan ke-11. Penurunan ini dikaitkan dengan penguatan deteksi dini dan respons cepat di fasilitas pelayanan kesehatan.

Data nasional kasus campak

Sebelum lonjakan kasus pada awal 2026, Kemenkes mencatat 11.094 kasus campak terkonfirmasi sepanjang 2025 dari 63.769 suspek, dengan 69 kematian akibat komplikasi campak. Informasi ini disampaikan dalam rilis resmi kementerian mengenai situasi campak dan upaya penguatan imunisasi.

Hingga Februari 2026, rilis yang sama mencatat 550 kasus campak yang sudah dilaporkan. Pada saat itu, Kemenkes menegaskan belum ada penetapan KLB campak secara nasional, meski sejumlah daerah mulai melaporkan peningkatan kasus.

Perkembangan berikutnya, yang tercermin dalam surat edaran dan pemberitaan media pada akhir Maret 2026, menunjukkan situasi berubah dengan adanya 58 KLB di 39 kabupaten/kota di 14 provinsi sampai pekan ke-11. Angka ini menggambarkan bahwa peningkatan kasus di beberapa daerah telah memenuhi kriteria KLB berdasarkan pedoman kementerian.

Konteks Flores dan Nusa Tenggara Timur

Rilis dan pemberitaan nasional yang memuat data 58 KLB tidak merinci daftar provinsi maupun kabupaten dan kota secara lengkap. Beberapa daerah disebutkan, antara lain sejumlah kabupaten di Jawa Tengah, tetapi informasi khusus tentang Flores, Kabupaten Manggarai Barat, atau wilayah lain di Nusa Tenggara Timur tidak tercantum.

Dengan ketiadaan rincian wilayah terdampak dalam dokumen resmi maupun pemberitaan yang tersedia, belum dapat dipastikan apakah ada kabupaten atau kota di Flores yang termasuk dalam 39 daerah dengan status KLB campak hingga pekan ke-11 2026.

Demikian pula, data cakupan imunisasi campak per kabupaten di Flores dan Nusa Tenggara Timur tidak dijelaskan dalam rilis situasi campak yang menjadi rujukan. Informasi tersebut umumnya dikelola oleh dinas kesehatan provinsi dan kabupaten melalui laporan rutin imunisasi dasar dan kampanye tambahan.

Penjelasan dokter anak di Ende

Dalam siaran RRI Ende pada 4 September 2026, dokter spesialis anak Ardanta Dat Topik Tarigan menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit akibat virus dengan tingkat penularan tinggi dan perlu diwaspadai terutama pada anak-anak. Ia menekankan bahwa campak dapat menimbulkan komplikasi bila tidak dicegah dan ditangani secara tepat.

Menurut penjelasan dokter Ardanta dalam siaran tersebut, gejala awal campak umumnya berupa demam, batuk, pilek, dan mata merah. Setelah itu, ruam kemerahan muncul dan menyebar dari wajah ke bagian tubuh lain. Anak dengan demam disertai ruam, terutama jika muncul bersama batuk, pilek, atau mata merah, dianjurkan segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa.

Dokter Ardanta menegaskan imunisasi sebagai kunci utama perlindungan terhadap campak. Ia menganjurkan orang tua memeriksa kembali status imunisasi anak dan melengkapi vaksinasi yang belum diberikan sesuai jadwal yang direkomendasikan tenaga kesehatan.

Imunisasi dan upaya pencegahan

Dalam rilis situasi campak, Kemenkes menyebut penguatan deteksi dini dan cakupan imunisasi sebagai strategi utama menekan penularan. Pemerintah mendorong fasilitas kesehatan untuk melakukan skrining gejala campak, menyiapkan ruang isolasi, dan memperkuat sistem pengendalian infeksi, terutama di daerah yang melaporkan KLB.

Pencegahan tidak hanya bergantung pada keluarga. Sekolah, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah berperan dalam meningkatkan pemahaman mengenai imunisasi serta mendorong deteksi dini ketika anak menunjukkan gejala yang mengarah pada campak.

Bagi keluarga, langkah praktis yang dapat dilakukan antara lain memastikan status imunisasi anak, memperhatikan munculnya demam dan ruam, serta segera mencari pertolongan medis jika gejala tersebut muncul. Anak yang sakit sebaiknya tidak dibawa ke sekolah sebelum dinilai oleh tenaga kesehatan.

Informasi rinci mengenai jadwal imunisasi, lokasi layanan vaksinasi, dan kegiatan imunisasi tambahan di Flores dan Nusa Tenggara Timur perlu diperoleh langsung dari puskesmas, rumah sakit, atau dinas kesehatan setempat.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.