3.340 Pengungsi Palue Krisis Air, Pemerintah Prioritaskan Pasokan Bersih
Sebanyak 3.340 pengungsi gempa Flores di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, menghadapi krisis air bersih setelah bak penampungan air hujan mengering dan banyak infrastruktur air rusak.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Sebanyak 3.340 pengungsi gempa Flores di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menghadapi krisis air bersih setelah bak penampungan air hujan mengering akibat cuaca panas ekstrem. Menurut Pemerintah Kabupaten Sikka, per 3 September 2026 terdapat 892 kepala keluarga yang masih bertahan di tiga posko pengungsian di Palue.
Camat Palue Rudolfus Riba menyatakan persediaan air minum di bak penampung mulai menipis dan banyak yang kering sejak awal September. Ia menjelaskan bak penampungan air hujan menjadi sumber utama air minum warga, sehingga kekeringan langsung berpengaruh terhadap kebutuhan dasar pengungsi.
Data pemerintah daerah menunjukkan total 3.462 jiwa pengungsi di Kabupaten Sikka, dengan konsentrasi terbesar di Pulau Palue. Pemerintah menyebut krisis air bersih sebagai salah satu persoalan utama yang harus ditangani pada masa pascagempa.
Warga di posko pengungsian masih membutuhkan air minum, tempat tinggal sementara, kasur, tikar, selimut, dan perlengkapan dasar lain. Sejumlah warga yang dikunjungi mantan Presiden Joko Widodo pada pertengahan September juga menyampaikan keluhan sulitnya mendapatkan air minum bersih dan terbatasnya jatah air yang diterima setiap keluarga.
Bak penampung rusak, warga mengandalkan air payau
Gempa Flores pada 15 Agustus 2026 merusak rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur air bersih di Palue. Pemerintah dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat ratusan prasarana air bersih rusak berat, terutama bak penampung air hujan yang menjadi sumber utama air masyarakat di Palue.
Kerusakan bak penampung dan cuaca panas membuat warga kesulitan menampung air hujan dalam jumlah cukup. Sejumlah laporan menyebut sebagian warga terpaksa mengonsumsi air berkadar garam tinggi dari sumber setempat, sambil menunggu distribusi air bersih tambahan ke pulau.
Sebelum krisis terbaru, warga Palue telah lama memanfaatkan air hujan dan membeli air dari luar pulau ketika persediaan dalam bak penampung habis. Sebagian warga juga menggunakan instalasi sederhana untuk menyuling uap panas bumi, dengan memanfaatkan bambu yang ditancapkan ke tanah di beberapa titik panas sebagai sumber tambahan air.
Penyulingan uap panas bumi tetap beroperasi
Di Dusun Edo, Desa Kesokoja, Kecamatan Palue, fasilitas penyulingan air dari uap panas bumi Poa Nua Kaju tetap beroperasi pascagempa. Menurut laporan lembaga penyiaran publik, instalasi ini menjadi salah satu sumber air bagi warga di sekitarnya ketika akses terhadap air hujan dan distribusi bantuan terbatas.
Warga memanfaatkan uap panas bumi yang dialirkan melalui bambu untuk diembunkan dan ditampung sebagai air. Praktik ini sudah berlangsung beberapa tahun sebagai cara tambahan untuk memenuhi kebutuhan air di pulau yang kerap dilanda kekeringan, terutama saat musim kemarau.
Kapasitas produksi instalasi penyulingan tradisional ini belum dipaparkan secara rinci dalam keterangan resmi. Pemerintah daerah dan kementerian terkait mengarahkan penanganan darurat pada pemulihan infrastruktur air bersih dan penyaluran air minum, sementara sumber tradisional seperti penyulingan uap panas bumi berfungsi sebagai pelengkap bagi sebagian warga.
Pemerintah kirim tandon dan siapkan sumber baru
Kementerian PUPR menyebut pemenuhan air bersih bagi warga terdampak gempa Flores sebagai prioritas. Melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, pemerintah mengirim empat unit tandon air berkapasitas masing-masing 1.200 liter ke Kecamatan Palue pada 19 Agustus 2026.
Tandon tersebut digunakan untuk menampung dan mendistribusikan air bersih ke lokasi pengungsian dan permukiman warga. Selain pasokan darurat, Ditjen Sumber Daya Air meninjau sumur bor berkapasitas sekitar 1,8 liter per detik yang telah menjadi salah satu sumber layanan air masyarakat di Pulau Palue.
Untuk menambah pasokan, BBWS Nusa Tenggara II menyiapkan survei geolistrik guna memetakan potensi air tanah di bawah Pulau Palue. Rencana pemerintah adalah mengembangkan titik-titik sumber air tanah baru melalui pengeboran dan sistem filtrasi, serta membuka kemungkinan penggunaan teknologi desalinasi dengan dukungan lembaga riset nasional.
Pemerintah pusat juga mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsoran dan memperbaiki akses jalan di Palue. Di sisi lain, PUPR mengidentifikasi kebutuhan perbaikan bangunan pengaman pantai di kawasan terdampak sebagai bagian dari pemulihan infrastruktur pascagempa.
Sumber
Berita berikutnya

RSUD Komodo Normalkan Layanan Poliklinik Pascagempa 7,7
RSUD Komodo Labuan Bajo kembali menjalankan layanan poliklinik secara normal pada awal September 2026 setelah sempat mengevakuasi pasien ke tenda daru…
Baca juga



