Wae Lolos, Desa Wisata Seribu Air Terjun di Sano Nggoang
Desa Wae Lolos di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, dikenal sebagai desa wisata dengan deretan air terjun, termasuk Cunca Plias dan Kolam di Atas Awan. Potensi alam ini dikembangkan melalui pengelolaan berbasis desa dan Pokdarwis.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Desa Wae Lolos di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai desa wisata dengan lanskap hutan Mbeliling dan deretan air terjun, termasuk Air Terjun Cunca Plias dan kolam alami yang dijuluki Kolam di Atas Awan.
Wae Lolos berjarak sekitar 32 kilometer dari Labuan Bajo dan menjadi salah satu pintu masuk menuju kawasan Sano Nggoang di daratan Manggarai Barat, menurut sejumlah laporan perjalanan dan liputan wisata.
Sejumlah media menggambarkan desa ini berada di lembah dan kaki pegunungan dengan lingkungan hijau, jalur trekking di hutan, sumber air panas, serta beberapa kampung adat yang menjadi bagian dari paket kunjungan.
Daya tarik Cunca Plias dan Kolam di Atas Awan
Air Terjun Cunca Plias disebut sebagai salah satu air terjun utama di lembah Wae Lolos.
Liputan wisata menyebut sedikitnya terdapat beberapa air terjun yang saling berdekatan di kawasan ini, antara lain Cunca Plias, Tiwu Galong, Cunca Ri’i, dan air terjun lain yang menjadi bagian dari jalur trekking di hutan Mbeliling.
Di sekitar Cunca Plias terdapat kolam alami di tepi tebing yang populer dengan sebutan Kolam di Atas Awan.
Kolam ini digambarkan menyerupai danau kecil di cekungan batu alam, berada di ketinggian di atas air terjun, sehingga pengunjung dapat berenang sambil melihat hamparan hutan dan lembah di bawahnya.
Dalam beberapa laporan jalan-jalan, Wae Lolos kerap dijuluki sebagai desa wisata “Seribu Air Terjun” karena banyaknya air terjun yang bisa dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan.
Pengelolaan berbasis desa dan Pokdarwis
Penelitian tentang pengelolaan wisata di Wae Lolos menyebut bahwa Cunca Plias dan Kolam di Atas Awan dikembangkan sebagai destinasi unggulan dengan dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan kelompok sadar wisata atau Pokdarwis.
Menurut kajian tersebut, pengelolaan diarahkan untuk menambah pendapatan asli desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi anggota Pokdarwis dan warga, dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pengelola.
Kerangka pengelolaan dalam penelitian itu mencakup beberapa aspek, seperti daya tarik wisata, fasilitas, pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam, keterlibatan masyarakat, serta kontribusi destinasi terhadap pendapatan desa.
Penelitian yang sama menyebut bahwa promosi Cunca Plias dan Kolam di Atas Awan mulai digencarkan sekitar 2019, setelah Wae Lolos ditetapkan sebagai desa wisata melalui keputusan bupati tentang penetapan desa wisata di Kabupaten Manggarai Barat.
Akses dan fasilitas bagi pengunjung
Sejumlah laporan perjalanan menyebut akses menuju Wae Lolos dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan darat dari Labuan Bajo.
Dari kampung di sekitar lokasi, pengunjung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalur hutan menuju deretan air terjun dan Kolam di Atas Awan.
Dalam tulisan pengalaman wisata, akses jalan desa menuju titik awal trekking digambarkan masih terbatas dan sebagian berupa jalan tanah, sehingga perjalanan menjadi lebih menantang saat musim hujan.
Media yang meliput Wae Lolos juga menyinggung keterbatasan akomodasi.
Pengunjung umumnya menginap di rumah-rumah warga yang difungsikan sebagai homestay.
Pola ini memperlihatkan hubungan langsung antara kegiatan wisata dan ekonomi rumah tangga, karena layanan penginapan dan konsumsi wisatawan dikelola oleh keluarga setempat.
Konteks penetapan desa wisata
Penelitian akademik tentang pengembangan desa wisata di Manggarai Barat mencatat adanya Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor 27/KEP/HK/2020 tertanggal 23 Januari 2020 yang mengatur penetapan desa wisata di kabupaten tersebut.
Penetapan melalui keputusan bupati itu menempatkan desa-desa di Sano Nggoang, termasuk Wae Lolos, dalam jejaring desa wisata yang diarahkan untuk mengembangkan potensi alam dan budaya.
Dalam konteks ini, Cunca Plias dan Kolam di Atas Awan digambarkan sebagai contoh pemanfaatan lanskap hutan dan air terjun untuk mendukung pendapatan desa dan memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan wisata.
Sumber
- Viva NTT - Wae Lolos "Desa 1000 Air Terjun" yang Lagi Jadi Obsesi Dunia Gaet 18 Ribu Turis
- Media Indonesia - Keindahan Cunca Plias, Air Terjun Tersembunyi di Sano Nggoang, NTT
- Jurnal Pendampingan Masyarakat Desa Wisata Sano Nggoang - Universitas Negeri Medan
- Repositori Universitas Katolik Widya Mandira - BAB V Hasil dan Pembahasan Manggarai Barat
- Koran Jakarta - Desa Wisata Wae Lolos Tarik Ribuan Wisatawan, Kombinasi Budaya dan Alam NTT
Berita berikutnya

RIPPARDA Manggarai Barat 2014–2025 dan Arah Investasi Pariwisata
Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 3 Tahun 2014 menetapkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah untuk periode 2014–2025.
Baca juga




