Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Simulasi Protokol 3K dan Penguatan Keselamatan Wisata Labuan Bajo

Simulasi Protokol 3K di Labuan Bajo pada November 2020 menjadi uji coba sistem terpadu kesehatan, keamanan, dan keselamatan destinasi super prioritas.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Labuan Bajo — Simulasi protokol kesehatan, keamanan, dan keselamatan di Labuan Bajo pada November 2020 menjadi salah satu langkah pemerintah dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF, sebelumnya BOPLBF) untuk membangun kembali kepercayaan wisatawan terhadap destinasi bahari di Manggarai Barat.

Simulasi Protokol 3K (kesehatan, keamanan, dan keselamatan) digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama 23 kementerian dan lembaga di Hotel Inaya Bay Komodo, Labuan Bajo, pada Kamis, 12 November 2020.

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kegiatan ini menjadi uji coba sistem terpadu yang kelak menjadi dasar prosedur operasi standar atau SOP bidang kesehatan, keamanan, dan keselamatan destinasi pariwisata Indonesia, termasuk Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas.

Simulasi Protokol 3K di Labuan Bajo

Dalam simulasi Protokol 3K di Labuan Bajo, pemerintah menyusun tiga skenario penanganan keadaan darurat di kawasan wisata dan perairan sekitar Labuan Bajo.

Menurut penjelasan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, skenario pertama berfokus pada sistem peringatan dini untuk menghadapi gempa yang berpotensi tsunami di kawasan pantai.

Skenario kedua menitikberatkan pada penanganan kedaruratan ketika wisatawan mengalami serangan jantung, termasuk alur rujukan medis dan koordinasi antarlembaga di destinasi.

Skenario ketiga menyimulasikan penanganan kecelakaan kapal wisata yang tenggelam, dengan pengujian koordinasi antara otoritas pelabuhan, penyelamat, pengelola destinasi, dan aparat keamanan.

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa simulasi di Labuan Bajo dirancang untuk menjamin keselamatan dan keamanan kegiatan wisata, sekaligus membangun kepercayaan publik nasional dan internasional.

Protokol kesehatan dalam simulasi mengikuti aturan penanganan Covid-19 yang berlaku saat itu, antara lain kebersihan di akomodasi, pemeriksaan suhu tubuh, dan tata cara penanganan keadaan darurat di lokasi wisata.

Keterlibatan BPOLBF dan Standar Keselamatan

Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina tercatat hadir dalam kegiatan simulasi sebagai bagian dari jajaran yang mewakili destinasi super prioritas Labuan Bajo.

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, simulasi Protokol 3K di Labuan Bajo merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia dan direncanakan menjadi rujukan bagi penerapan protokol sejenis di destinasi pariwisata nasional lainnya.

Seiring dengan penerapan Protokol 3K, pemerintah dan BPOLBF melanjutkan pembahasan keselamatan wisata bahari Labuan Bajo pada 2026.

Dalam sebuah pertemuan yang diberitakan media nasional pada April 2026, perwakilan Kementerian Perhubungan menekankan pentingnya standar kelaiklautan kapal wisata, termasuk pemeriksaan rutin, pengawasan kapasitas penumpang, dan peningkatan kompetensi awak kapal.

Penekanan terhadap standar teknis pelayaran ini sejalan dengan upaya BPOLBF dan kementerian terkait untuk memperkuat keamanan wisata bahari di Labuan Bajo.

Cuaca Ekstrem dan Penutupan Pelayaran

Kebijakan keselamatan pelayaran wisata di Labuan Bajo kembali menonjol pada September 2026 ketika Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo menutup sementara pelayaran menuju Pulau Padar dan kawasan Taman Nasional Komodo.

KSOP Labuan Bajo menerbitkan Maklumat Pelayaran Nomor 01/MP-IX/2026 pada 8 September 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap gelombang tinggi dan cuaca maritim ekstrem di perairan sekitar Taman Nasional Komodo.

Melalui maklumat tersebut, KSOP mewajibkan nakhoda kapal wisata memastikan kelaiklautan kapal, menyesuaikan kecepatan dengan kondisi laut, dan segera mencari tempat berlindung jika cuaca memburuk.

BMKG memperkirakan kondisi berbahaya di Selat Sape bagian selatan dan perairan sekitar Taman Nasional Komodo berlangsung hingga setidaknya 11 September 2026, sehingga operator kapal dan wisatawan diimbau tidak memaksakan perjalanan laut sebelum kondisi dinyatakan aman.

Kebijakan penutupan sementara pelayaran ini menunjukkan bahwa penerapan protokol keselamatan tidak hanya berupa simulasi, tetapi juga tindakan operasional yang memprioritaskan keselamatan wisatawan dan awak kapal di Labuan Bajo.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.