Creative Hub Puncak Waringin Perkuat Ekosistem Kreatif Labuan Bajo
Creative Hub Labuan Bajo di Puncak Waringin dibangun sebagai pusat riset dan pengembangan pelaku ekonomi kreatif Manggarai Barat.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah pusat menyiapkan Labuan Bajo sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di wilayah barat Flores melalui pengembangan Creative Hub di Puncak Waringin, Manggarai Barat, yang didukung Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan pemerintah daerah.
Dalam laporan British Council tentang pengembangan kota budaya di Labuan Bajo, disebutkan bahwa sejak Maret 2020 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memfasilitasi pembangunan Puncak Waringin Creative Hub sebagai pusat riset dan pengembangan bagi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Manggarai Barat. Fasilitas ini dirancang menjadi studio, bengkel kerja, ruang galeri dan pertunjukan, rumah tenun, serta gerai penjualan produk usaha kecil menengah kreatif, tekstil, dan kriya.
Menurut paparan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dimuat Patadaily, Creative Hub Labuan Bajo berlokasi di kawasan Puncak Waringin dan dibangun di atas tanah pemerintah Kabupaten Manggarai Barat seluas sekitar 1.700 meter persegi dengan luas bangunan 875 meter persegi. Fasilitas ini terdiri atas dua bangunan utama, yaitu Rumah Tenun dan Rumah Souvenir, yang menjadi wadah bagi pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan bisnis, membangun jejaring, dan memperkuat komunitas lintas subsektor.
Kolaborasi antar kementerian dan daerah
Patadaily menyebut Creative Hub Labuan Bajo sebagai wujud kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Baparekraf dengan Kementerian PUPR dalam mengoptimalkan bangunan yang dibangun PUPR di kawasan Puncak Waringin, salah satu fokus penataan infrastruktur di Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo. Pengelolaan kawasan ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BPOLBF sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dalam Biannual Tourism Forum di Labuan Bajo pada Oktober 2022, Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina menjelaskan bahwa komitmen belanja pemerintah pusat sejak 2020 yang mencapai lebih dari Rp 3,7 triliun telah menarik potensi investasi sekitar Rp 11,2 triliun ke Labuan Bajo sepanjang 2022. Menurut Shana, BPOLBF memastikan pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan produk UMKM ekonomi kreatif yang dibutuhkan untuk mengisi rantai pasok industri pariwisata Labuan Bajo.
Floratama Creative Hub dan ekosistem parekraf
Masih dalam forum yang sama, Shana memaparkan program ekosistem Floratama Creative Hub untuk menginkubasi kesiapan pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dari pekerja hingga wirausaha, agar ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif di Labuan Bajo berkembang sehat dan berkualitas. Program tersebut mencakup Floratama Academy untuk inkubasi usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, Ideathon untuk pelatihan penyelenggara festival dan kegiatan, Floratama Production dan Pasar Floratama untuk memperluas akses pasar produk UMKM, serta Floratama Travel Pass untuk membangun pola perjalanan tematik hingga ke pelosok.
Dokumen British Council mencatat bahwa inisiatif BPOLBF di Labuan Bajo juga meliputi serangkaian lokakarya pelatihan bagi pelaku usaha kreatif dan wisata, program pendidikan kesadaran budaya bagi sekolah lokal, serta pertemuan ekonomi kreatif Labuan Bajo 2020 sebagai ajang pertemuan pelaku pariwisata, ritel, dan industri kreatif dengan perwakilan komunitas dari Labuan Bajo dan Flores. Kegiatan inkubasi pertama di Labuan Bajo bertema "Maintaining Memories, Celebrating Culture" dilaksanakan pada November 2020.
Branding Cagar Biosfer Komodo
Pada 6 Oktober 2020, dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pariwisata Wilayah Koordinatif BPOLBF di Labuan Bajo, BPOLBF meluncurkan logo branding Cagar Biosfer Komodo. Menurut InfoPublik, branding ini diinisiasi untuk membangun nilai destinasi dari perspektif wisatawan dan pemangku kepentingan pariwisata, serta mengintegrasikan promosi kawasan cagar biosfer yang mencakup Taman Nasional Komodo, Flores, dan Bima di Nusa Tenggara Barat.
Forum Floratama 2020 yang digelar BPOLBF pada 6–7 Oktober 2020 di Labuan Bajo dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur, para bupati dan kepala dinas pariwisata dari 11 kabupaten koordinasi BPOLBF, pelaku pariwisata, akademisi, komunitas, dan media. Dalam forum itu, Shana Fatina menyampaikan bahwa pendekatan terpadu dan komprehensif untuk pengembangan pariwisata premium berkelanjutan dilakukan melalui koordinasi lintas kabupaten dan perumusan rekomendasi program di masing-masing wilayah.
Hingga 2026, berbagai program pengembangan ekosistem kreatif dan pariwisata yang diinisiasi BPOLBF dan kementerian terkait memperkuat peran Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas dan pusat aktivitas ekonomi kreatif di wilayah barat Flores.
Sumber
Berita berikutnya
Manggarai Timur Tetapkan Lima Desa Wisata Berbasis Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menetapkan lima desa sebagai desa wisata percontohan berbasis masyarakat.
Baca juga




