Rehabilitasi Terumbu Karang Pulau Hanita 9.000 Meter Persegi
Program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Hanita, Manggarai Barat, berlangsung 2024–2026 dengan area intervensi sekitar 9.000 meter persegi.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Rehabilitasi terumbu karang di perairan Pulau Hanita, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dilaksanakan sejak 2024 hingga 2026 dengan area intervensi sekitar 9.000 meter persegi. Menurut laporan Media Indonesia, pelaksana program melaporkan tingkat keberhasilan hidup terumbu karang mencapai 97,4 persen dan estimasi serapan karbon sekitar 4.500 kilogram karbon dioksida per tahun.
Program ini dijalankan oleh Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) Sustainability Universitas Trisakti bersama PT Pelindo dan Yayasan Peduli Indonesia. Laporan Media Indonesia menyebut Pulau Hanita sebelumnya memiliki sejumlah titik dengan kualitas lingkungan yang menurun, dan kini mulai menunjukkan pemulihan ekosistem bawah laut.
Berdasarkan keterangan Media Indonesia, rehabilitasi dilakukan dalam dua tahap selama periode 2024–2025 dan 2025–2026. Tahap pertama menggunakan 25 unit substrat dengan total transplantasi 3.750 fragmen karang, dan tahap kedua menggunakan 25 unit substrat tambahan dengan jumlah fragmen serta luasan area rehabilitasi yang sama. Total intervensi yang dilaporkan terdiri atas 50 unit substrat dengan 7.500 fragmen pada area intervensi 9.000 meter persegi.
Informasi mengenai kegiatan transplantasi di Pulau Hanita juga muncul dalam laporan Mongabay Indonesia pada 2025. Menurut Yonas, perwakilan Yayasan Peduli Indonesia yang dikutip Mongabay, restorasi terumbu karang di Desa Seraya Marannu, Pulau Hanita, berlangsung dalam dua tahap pada Maret dan September 2025, masing-masing melibatkan 3.750 fragmen karang. Keterangan ini konsisten dengan data jumlah fragmen yang disampaikan Media Indonesia, meski Mongabay belum merinci luasan area dan angka keberhasilan hidup karang.
Data utama program rehabilitasi
Media Indonesia merangkum capaian utama program rehabilitasi di Pulau Hanita sebagai berikut:
- Luas area intervensi sekitar 9.000 meter persegi.
- Total substrat rehabilitasi 50 unit.
- Total fragmen karang yang ditransplantasikan 7.500 fragmen.
- Tingkat keberhasilan hidup terumbu karang 97,4 persen.
- Estimasi serapan karbon sekitar 4.500 kilogram CO2 per tahun.
Angka-angka tersebut berasal dari laporan pelaksana program yang dikutip Media Indonesia. Laporan itu tidak memerinci metode pengukuran, periode pemantauan, ataupun jenis karang yang ditransplantasikan.
Di sisi lain, rilis PT Pelindo yang dimuat RMOL.id pada Juni 2026 juga mencatat program rehabilitasi terumbu karang di perairan Pulau Hanita dengan total 50 unit substrat dan area rehabilitasi sekitar 9.000 meter persegi. Namun, rilis tersebut menyebut angka yang berbeda untuk jumlah fragmen dan tingkat keberhasilan hidup, yakni 6.500 fragmen karang dengan survival rate 98,69 persen dan estimasi serapan karbon sekitar 2.250 kilogram CO2 per tahun. Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi data antar laporan pelaksana program.
Pelibatan warga pesisir
Media Indonesia melaporkan bahwa warga dari Desa Seraya Marannu, Kecamatan Komodo, dilibatkan dalam kegiatan transplantasi dan pemeliharaan terumbu karang di Pulau Hanita. Mereka terlibat dalam proses penanaman dan perawatan fragmen karang di substrat yang dipasang di dasar perairan.
Mongabay Indonesia menyebut restorasi di Pulau Hanita dan Pulau Messah dilakukan dengan memanfaatkan patahan-patahan karang yang tersebar di dasar laut dan melibatkan komunitas setempat. Yayasan Peduli Indonesia bekerja sama dengan CECT Universitas Trisakti, Sirkula Indonesia, dan UNESCO dalam kegiatan transplantasi tersebut. Keterangan ini menguatkan informasi bahwa program di Hanita tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melibatkan masyarakat pesisir.
Menurut Media Indonesia, Maria Utha, Executive Director CECT Sustainability Universitas Trisakti, menjelaskan bahwa pendekatan kolaboratif diharapkan memperkuat kesadaran bersama untuk menjaga laut sebagai sumber kehidupan. Ia juga menyebut area rehabilitasi mulai memperlihatkan pertumbuhan karang dan kemunculan kembali berbagai jenis ikan serta biota laut.
Media Indonesia juga mengutip pernyataan Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng yang menilai pelibatan nelayan pesisir membuat inisiatif tersebut lebih optimal dan dapat mempercepat penanganan persoalan kerusakan lingkungan di daerah itu.
Peluang wisata dan tekanan kunjungan
Media Indonesia menulis bahwa program rehabilitasi di Pulau Hanita berpotensi menjadi dasar pengembangan ekowisata bahari. Kegiatan penanaman dan pemeliharaan terumbu karang disebut dapat dikemas dalam paket wisata, termasuk bagi wisatawan yang mencari pengalaman snorkeling atau menyelam di lokasi yang lebih tenang.
Dalam laporan yang sama, rehabilitasi Hanita dinilai dapat membantu menyediakan alternatif destinasi di tengah kepadatan kunjungan ke lokasi populer seperti Pulau Padar dan Pulau Komodo. Pulau Hanita tidak disebut sebagai habitat komodo, tetapi sebagai lokasi dengan potensi wisata bawah laut yang berkembang seiring pemulihan ekosistem.
Sejumlah kajian tentang rehabilitasi terumbu karang di Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan wisata berbasis pemulihan ekosistem memerlukan pengaturan daya dukung, tata kelola aktivitas laut, dan pemantauan jangka panjang untuk mencegah tekanan ekologis berulang. Tanpa pengaturan jumlah wisatawan dan zonasi aktivitas, destinasi baru berisiko mengalami kerusakan serupa dengan lokasi yang sudah mengalami overtourism.
Dalam konteks Labuan Bajo dan Manggarai Barat, pemerintah daerah sebelumnya telah menyatakan bahwa destinasi utama wisata masih terfokus di kawasan Taman Nasional Komodo. Pengembangan lokasi alternatif seperti Pulau Hanita berpotensi mengubah pola kunjungan, tetapi dampaknya terhadap kepadatan wisata di Pulau Padar dan Pulau Komodo belum dibuktikan oleh data kunjungan yang tersedia.
Sumber
Berita berikutnya
Disparbud Manggarai: Seluruh Destinasi Wisata Dibuka Kembali
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai menyatakan seluruh destinasi wisata di wilayah itu telah kembali dibuka pascagempa Flores.
Baca juga


