Puskesmas Pulau Komodo Dibangun, Layanan Darurat Wisatawan Diperkuat
Pemerintah pusat dan daerah menambah layanan kesehatan di Pulau Komodo dan memperkuat penanganan medis darurat bagi wisatawan di kawasan Taman Nasional Komodo, sementara jalur pendakian di Pulau Padar tetap menuntut kondisi fisik yang…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dalam beberapa tahun terakhir menyiapkan layanan kesehatan bagi warga dan wisatawan di kawasan Taman Nasional Komodo, termasuk di Pulau Komodo dan Pulau Padar.
Pada 2024, Kementerian Kesehatan membangun sebuah puskesmas di Pulau Komodo, Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi penduduk dan wisatawan di pulau tersebut, menggantikan pelayanan sebelumnya yang hanya mengandalkan Puskesmas Pembantu (Postu) Komodo dengan keterbatasan tenaga dan fasilitas, menurut laporan media lokal dan nasional yang mengutip pejabat kesehatan setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, yang dikutip media, menjelaskan puskesmas di Pulau Komodo diprioritaskan untuk melayani kasus darurat, termasuk luka akibat gigitan komodo dan kondisi kedaruratan lain yang dialami wisatawan. Puskesmas itu ditargetkan beroperasi pada 2024 dengan tenaga dokter, perawat terlatih, peralatan bantuan hidup dasar, dan obat-obatan darurat.
Sebelum pembangunan puskesmas, Postu Komodo melayani sekitar 1.882 jiwa penduduk dengan hanya empat tenaga kesehatan, tiga di antaranya berstatus tenaga sukarela tanpa gaji, menurut laporan media lokal Manggarai Barat pada Mei 2022. Pemerintah daerah menyebut penambahan fasilitas dan tenaga kesehatan di Pulau Komodo sebagai bagian dari peningkatan akses layanan dasar bagi warga pulau dan wisatawan.
Penanganan Medis Darurat Wisatawan
Selain fasilitas di Pulau Komodo, penanganan medis darurat bagi wisatawan di Pulau Padar dan sekitarnya selama ini banyak melibatkan petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Labuan Bajo dan tim SAR.
Pada Maret 2022, seorang wisatawan dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kelelahan usai berwisata di Pulau Padar; korban dinyatakan meninggal oleh dokter KKP Labuan Bajo setelah pemeriksaan di Pelabuhan Pelni Labuan Bajo. Pada beberapa insiden lain, wisatawan yang sakit atau mengalami kecelakaan di Pulau Padar dievakuasi dengan kapal cepat menuju Labuan Bajo untuk mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan di kota, dengan keterlibatan petugas kesehatan pelabuhan dan rumah sakit setempat.
Dalam salah satu kasus pada April 2026, dua wisatawan asal Spanyol yang mendadak sakit di Pulau Padar dievakuasi menggunakan kapal Pos SAR Manggarai Barat, dengan pendampingan perawat dari KKP Labuan Bajo. Pada Agustus 2026, wisatawan asal Cina yang tergelincir saat berfoto di puncak Pulau Padar juga dievakuasi ke Labuan Bajo dan langsung dibawa ke rumah sakit swasta di kota untuk perawatan lanjutan.
Imbauan Kesehatan bagi Wisatawan Pulau Padar
Sejumlah pejabat dan pelaku wisata mengingatkan pentingnya kondisi fisik yang baik bagi wisatawan yang hendak mendaki ke puncak Pulau Padar. Jalur menuju puncak terdiri atas ratusan anak tangga dengan paparan panas matahari dan minim tempat berteduh.
Pemandu wisata yang dikutip media nasional pada November 2022 menyatakan wisatawan dengan riwayat penyakit jantung dan asma sebaiknya tidak disarankan mengunjungi Pulau Padar karena risiko kelelahan dan panas yang dapat berakibat fatal. Panduan wisata lain menyebut risiko utama di Pulau Padar berupa panas, dehidrasi, dan risiko tergelincir di jalur pendakian, sehingga menyarankan wisatawan membawa air yang cukup dan berhenti bila merasa lelah.
Operator wisata dan petugas di pintu masuk kawasan biasanya melakukan pengecekan dasar, seperti pemeriksaan suhu dan penerapan protokol kesehatan di dermaga dan pos tiket selama masa pandemi. Pemeriksaan tersebut tidak menggantikan konsultasi medis, sehingga wisatawan dengan kondisi kesehatan tertentu dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum melakukan aktivitas pendakian di Pulau Padar.
Kebijakan Pengelolaan Kawasan dan Layanan
Sejak 2022, pemerintah provinsi mendorong pembatasan kunjungan dan penyesuaian tarif di Pulau Komodo dan Pulau Padar sebagai bagian dari kebijakan konservasi dan pengelolaan kawasan. Kebijakan ini diiringi rencana peningkatan kapasitas tenaga ranger dan penataan fasilitas dasar seperti pengelolaan sampah dan penyediaan air minum bagi pengunjung.
Dalam konteks layanan kesehatan, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah berupaya memperkuat jejaring layanan dari Pulau Komodo dan Pulau Padar menuju fasilitas kesehatan di Labuan Bajo, dengan pola penanganan awal di pulau, diikuti evakuasi menggunakan kapal dan ambulans ke rumah sakit bila diperlukan.
Informasi rinci mengenai jam operasional, jumlah tenaga, dan peralatan medis di setiap titik pelayanan belum diuraikan secara lengkap dalam laporan yang tersedia, namun kasus-kasus evakuasi menunjukkan adanya koordinasi antara pos kesehatan di lapangan, KKP Labuan Bajo, tim SAR, dan rumah sakit di Labuan Bajo.
Sumber
Berita berikutnya

KSOP Labuan Bajo Periksa Kesiapan Kapal Wisata dan Sosialisasikan Keselamatan
KSOP Kelas III Labuan Bajo memeriksa kesiapan kapal wisata dan menyosialisasikan keselamatan pelayaran di perairan Manggarai Barat. KLM Ratana disebut…
Baca juga




