Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Produksi Rumput Laut NTT 2025 Tercatat 1.248.126 Ton

Pemerintah Provinsi NTT menyebut produksi rumput laut 2025 mencapai 1.248.126 ton secara sementara. Flores Timur dan Ngada masuk sentra produksi, sementara Kupang tetap menjadi penghasil terbesar.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Pemandangan Teluk Labuan Bajo dengan dermaga kayu yang menjorok ke laut, perairan biru kehijauan, dan Pulau Kelor yang berbentuk bukit kerucut di la…
Foto arsip: Pemandangan Teluk Labuan Bajo dengan dermaga kayu yang menjorok ke laut, perairan biru kehijauan, dan Pulau Kelor yang berbentuk bukit kerucut di latar belakang. · Foto: Sekarchamdi / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Labuan Bajo — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menyebut produksi rumput laut di provinsi itu mencapai 1.248.126 ton pada 2025 berdasarkan data sementara. Flores Timur dan Ngada masuk daftar sentra produksi, tetapi rincian volume per kabupaten tidak dipublikasikan dalam sumber yang ditemukan.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro mengatakan Kabupaten Kupang menjadi penghasil terbesar, disusul Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Alor, Sumba Barat Daya, Lembata, Sumba Barat, Flores Timur, Ngada, dan Nagekeo. Data yang dirujuk pemerintah provinsi juga menunjukkan produksi rumput laut NTT sempat mencapai 2.158.886 ton pada 2020.

Produksi berfluktuasi

Dalam dokumen perencanaan pemerintah provinsi, produksi rumput laut NTT tercatat 1.600.028 ton pada 2019 dan naik menjadi 2.158.903 ton pada 2020. Setelah itu, angka produksi berada di kisaran 1,39 juta ton pada 2021, lalu bergerak di atas 1,5 juta ton pada 2022 dan 2023, sebelum turun lagi pada 2024.

Rilis resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2025 juga menempatkan NTT sebagai salah satu provinsi dengan produksi rumput laut besar di Indonesia, dengan angka 1.559.601,18 ton dalam hitungan nasional tahun 2025. Sementara itu, dokumen pemerintah provinsi menyebut rumput laut sebagai komoditas budidaya terbesar di NTT.

Pemerintah provinsi memetakan pengembangan rumput laut ke dalam lima klaster, yakni Timor, Rote-Sabu, Flores Bagian Timur, Flores Bagian Tengah, dan Sumba. Skema ini dipakai untuk menghubungkan penyediaan bibit, budidaya, pengolahan, dan pemasaran.

Dalam paparan pemerintah daerah, komoditas rumput laut NTT masih banyak dipasarkan dalam bentuk kering sebelum masuk ke industri pengolahan di dalam negeri dan sebagian diekspor. Kabupaten Kupang tetap disebut sebagai sentra utama produksi, sedangkan Flores Timur dan Ngada masuk daftar wilayah pengembangan di Pulau Flores.

Hilirisasi dan pemasaran

Pemerintah provinsi mendorong hilirisasi untuk menambah nilai komoditas dan memperpendek rantai pasok. Arah kebijakan itu juga dikaitkan dengan penguatan kawasan budidaya serta peningkatan produktivitas petani rumput laut di pesisir.

Data pemerintah daerah menunjukkan ekspor komoditas kelautan dan perikanan dari NTT yang didominasi rumput laut kering masih berfluktuasi pada 2019-2024. Volume ekspor tercatat 1.238 ton pada 2019, turun menjadi 926 ton pada 2020, lalu 271 ton pada 2021, sebelum naik ke 822 ton pada 2022 dan 2.471 ton pada 2023, kemudian 91 ton pada 2024.

Di tingkat nasional, NTT disebut berada di jajaran provinsi penghasil rumput laut terbesar dan menjadi penopang penting produksi budidaya. Namun, data yang ditemukan tidak merinci berapa kontribusi masing-masing kabupaten, termasuk Flores Timur dan Ngada, terhadap total produksi provinsi.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.