Produksi Perikanan Tangkap NTT Sekitar 91 Ribu Ton pada 2024
Pemerintah Nusa Tenggara Timur melaporkan produksi perikanan tangkap sekitar 91 ribu ton pada 2024, sementara produksi ikan budi daya disebut mencapai 1,49 juta ton.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melaporkan produksi perikanan tangkap di wilayah itu sekitar 91 ribu ton pada 2024, dengan komoditas utama makarel dan tuna menurut penjelasan Gubernur Melki Laka Lena dalam pemaparan potensi investasi di Beijing pada November 2025.
Dalam kesempatan yang sama, Melki menyebut NTT sebagai provinsi kepulauan yang memiliki potensi perikanan dan sumber daya laut, dengan penangkapan ikan menjadi salah satu sektor unggulan. Pemerintah daerah menyatakan penguatan sektor ini dilakukan melalui pendampingan dan penyediaan sarana rantai dingin bagi nelayan.
Perbandingan tangkap dan budi daya
Melki menyampaikan bahwa produksi ikan hasil budi daya seperti bandeng, nila, dan lele di NTT mencapai sekitar 1,49 juta ton pada 2024. Angka tersebut jauh di atas estimasi produksi perikanan tangkap tahun yang sama, sehingga subsektor budi daya memegang porsi besar dalam total produksi perikanan provinsi.
Dalam penjelasan yang dipublikasikan pemerintah provinsi, kontribusi komoditas budi daya di NTT digambarkan melalui persentase untuk beberapa jenis ikan, termasuk nila, bandeng, dan lele. Rincian tersebut digunakan sebagai dasar bagi kebijakan revitalisasi instalasi pembenihan untuk menjamin ketersediaan benih dan pakan berkualitas.
Pemerintah provinsi menyebut penguatan dua subsektor perikanan, tangkap dan budi daya, menjadi bagian dari strategi peningkatan investasi dan daya saing ekonomi daerah.
Dukungan pemerintah dan tren rumput laut
Di luar ikan konsumsi, rumput laut menjadi komoditas kelautan strategis bagi NTT. Laporan pemerintah provinsi pada Juli 2026 menyebut produksi rumput laut di NTT selama periode 2021–2024 berada pada kisaran 1,39 juta sampai 1,56 juta ton per tahun. Angka itu menempatkan NTT sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia, sejalan dengan data Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mencatat produksi NTT sekitar 1,40 juta ton rumput laut basah dalam pemetaan nasional komoditas ini.
Menurut pejabat Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, pemerintah daerah berupaya menjaga tren positif produksi rumput laut melalui pembaruan bibit dan pembangunan kebun bibit di sejumlah lokasi pesisir. Upaya itu juga dikaitkan dengan tantangan penyakit pada tanaman rumput laut yang memengaruhi kualitas dan volume produksi di beberapa sentra.
Data Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Kupang yang dikutip pemerintah provinsi menunjukkan bahwa ekspor komoditas kelautan dan perikanan dari NTT, yang didominasi rumput laut kering, sempat turun menjadi 91 ton pada 2024 setelah mencapai 2.471 ton pada 2023.
Konteks
Data dan pernyataan resmi pemerintah daerah menggambarkan perbedaan skala antara produksi perikanan tangkap dan budi daya di NTT, dengan budi daya menyumbang volume yang jauh lebih besar dalam tonase. Pada saat yang sama, rumput laut menyajikan volume produksi jutaan ton per tahun, sehingga menjadi komoditas yang diperhitungkan dalam kebijakan kelautan nasional dan daerah.
Pemerintah provinsi mengarahkan intervensi pada peningkatan kompetensi nelayan dan pelaku usaha, penyediaan sarana rantai dingin untuk hasil tangkap, serta penguatan sistem pembenihan dan budidaya rumput laut. Langkah itu dikaitkan dengan target peningkatan investasi di sektor perikanan dan pariwisata di NTT.
Sumber
Berita berikutnya

TN Komodo Catat 334.206 Kunjungan Wisatawan Sepanjang 2024
Balai Taman Nasional Komodo mencatat 334.206 kunjungan wisatawan sepanjang 2024. Wisatawan mancanegara mendominasi dengan 226.948 kunjungan, sementara…

