Mengapa Sampah Ruteng Jauh Lebih Banyak daripada yang Terkelola?
Data SIPSN mencatat timbulan sampah Kabupaten Manggarai 51.076 ton per tahun atau 140 ton per hari. Yang terkelola hanya sekitar 17 ton per hari.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Ruteng — Kabupaten Manggarai menghasilkan timbulan sampah 51.076 ton per tahun, setara 140 ton per hari. Dari jumlah itu, sampah yang benar-benar dikelola hanya sekitar 17 ton per hari.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Ruteng bukan semata-mata soal kebersihan jalan atau tampilan pusat kota. Ada kesenjangan besar antara sampah yang dihasilkan dan sampah yang masuk ke sistem pengelolaan. Sebagian sampah mendarat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ncolang, sementara sebagian besar lainnya tercecer di pinggir Jalan Trans Flores.
SIPSN menjelaskan bahwa timbulan sampah merupakan sampah yang dihasilkan setiap orang. Perhitungannya menggunakan faktor estimasi timbulan per orang per hari, jumlah penduduk, dan 365 hari untuk menghasilkan angka tahunan. Data indikatif SIPSN juga membedakan sampah terkelola dan sampah yang terbuang ke lingkungan berdasarkan wilayah serta periode yang dipilih.
Mengapa kesenjangan sampah Ruteng penting bagi pembaca Labuan Bajo?
Masalah di Ruteng berjarak dari Labuan Bajo, tetapi dampaknya relevan bagi pembaca di Flores. Sampah yang tidak tertangani dapat berpindah dari permukiman ke bahu jalan, saluran air, sungai, dan kawasan pesisir. Sistem pengelolaan yang lemah juga berarti tekanan lebih besar pada tempat pemrosesan akhir dan lingkungan sekitar.
Persoalan ini merupakan masalah tata kelola. Pemerintah disebut sibuk menampilkan wajah kota yang bersih, sementara persoalan di TPA dan di sepanjang jalur transportasi belum terselesaikan.
Data SIPSN yang ditampilkan pada portal resminya memuat informasi timbulan sampah harian dan tahunan, capaian pengelolaan, serta fasilitas TPA dan tempat pengolahan sampah. Portal tersebut juga mencatat Kabupaten Manggarai dalam daftar fasilitas dengan status open dumping. Dinas Lingkungan Hidup dan kondisi TPA merupakan bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan mengapa kesenjangan pengelolaan sampah di Ruteng penting adalah karena sebagian besar timbulan harian belum masuk ke pengelolaan yang tercatat. Data menunjukkan 51.076 ton per tahun berhadapan dengan sekitar 17 ton per hari yang terkelola. Tantangannya bukan hanya mengangkut sampah dari satu titik, tetapi memastikan pengurangan, pengumpulan, pengolahan, dan pemrosesan akhir berjalan sebagai satu sistem.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Sosial & Kemanusiaan
Forum Disabilitas Manggarai Dibentuk di Ruteng
Forum Anak dan Remaja Disabilitas Manggarai dibentuk di Aula SLB Karya Murni Ruteng. Wadah ini ditujukan untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangka…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





