Kabar Labuan Bajo

Jumat, 30 Oktober 2026

Mengapa Informasi Iklim Penting bagi Ketahanan Pangan Flores

BMKG menyebut Nusa Tenggara Timur masih berpotensi relatif kering akibat pengaruh El Niño. Informasi iklim diperlukan untuk menyesuaikan kalender tanam dan menjaga ketersediaan pangan Flores.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Permukaan tanah kering yang retak-retak diapit oleh rumput hijau dan bebatuan kecil.
Ilustrasi: Permukaan tanah kering yang retak-retak diapit oleh rumput hijau dan bebatuan kecil. · Foto: Henrik Pfitzenmaier / Pexels

Flores — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Nusa Tenggara Timur masih berpotensi mengalami kondisi relatif kering dalam konteks antisipasi dampak El Niño pada 26 Oktober 2026. BMKG menekankan pemanfaatan informasi iklim dan prakiraan cuaca sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menjaga produksi serta ketersediaan pangan.

Bagi wilayah Flores, informasi ini menjadi dasar untuk menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi iklim setempat dan mengantisipasi risiko kekeringan yang dapat mengganggu produksi pertanian. BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi iklim perlu dibaca bersama prakiraan cuaca agar pengelolaan lahan, air, dan kegiatan budidaya tidak berjalan tanpa mempertimbangkan ketersediaan air.

Mengapa kondisi kering penting bagi pangan Flores

Kondisi relatif kering dapat memperpanjang periode tanpa hujan dan meningkatkan keterbatasan air di sejumlah wilayah. Dampaknya bagi pembaca di Labuan Bajo bukan hanya soal cuaca harian, tetapi juga keberlanjutan lahan pertanian, pasokan pangan, dan kebutuhan air di kampung-kampung Flores.

BMKG menyatakan informasi iklim dibutuhkan untuk mengantisipasi dampak El Niño, menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi setiap wilayah, serta memitigasi risiko kekeringan dan curah hujan tinggi yang dapat mengganggu produksi pertanian. Karena itu, keputusan menanam dan mengatur air perlu mengikuti informasi resmi, bukan hanya patokan musim sebelumnya.

Dalam laporan BMKG, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih berpotensi mengalami kondisi relatif kering. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur juga mengutip informasi BMKG bahwa periode 27–29 Oktober 2026 tidak memiliki wilayah dengan peringatan dini hujan sedang hingga ekstrem maupun angin kencang. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Langkah praktis yang disebut dalam informasi tersebut ialah menggunakan sumber daya air secara bijak, menghindari pembakaran lahan atau sisa tanaman, serta menjadikan informasi cuaca sebagai pertimbangan dalam pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pengelolaan irigasi.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.