Layanan Feri Kupang–Larantuka Kembali Beroperasi Awal September 2026
Layanan feri lintasan Kupang–Larantuka kembali dijalankan pada awal September 2026 dan kemudian sempat dibatalkan karena cuaca buruk. Operasional ASDP Cabang Kupang mengikuti perkembangan prakiraan gelombang tinggi BMKG di perairan NTT.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Kupang — Layanan feri PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) pada lintasan Kupang–Larantuka kembali beroperasi pada awal September 2026 setelah sempat terdampak gelombang tinggi di sejumlah perairan Nusa Tenggara Timur.
Media lokal di Kupang mencatat bahwa pada Minggu, 6 September 2026, rute Kupang–Larantuka dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Bolok pukul 18.00 Wita dengan kapal KMP Lakaan menuju Pelabuhan Waibalun, Larantuka, sebagai bagian dari operasi rutin ASDP Cabang Kupang. Media lain yang memuat jadwal lengkap armada ASDP Cabang Kupang untuk 7 September 2026 menyebutkan KMP Lakaan disiagakan untuk melayani penyeberangan dari Larantuka menuju Kupang dengan keberangkatan dari pelabuhan asal pukul 14.00 Wita.
Sebelumnya, pada Kamis, 10 September 2026, dua rute penyeberangan ASDP dari Kupang dilaporkan batal berangkat karena cuaca buruk, yaitu lintasan Kupang–Aimere–Waingapu dan Kupang–Larantuka. Pembatalan tersebut menunjukkan bahwa operasional penyeberangan di wilayah NTT tetap bergantung pada kondisi laut dan prakiraan cuaca maritim.
Cuaca maritim dan kewaspadaan gelombang
Menurut laporan radio publik yang mengutip Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada 10 September 2026 terdapat potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan NTT, termasuk Selat Flores, Laut Sawu, Selat Ombai, perairan sekitar Rote dan Timor, serta perairan selatan Flores dan Alor–Pantar. BMKG kemudian kembali mengingatkan gelombang tinggi hingga 3,5 meter di perairan selatan Sumba pada 15–16 September 2026, dengan gelombang 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di perairan utara Kupang–Rote, Selat Ombai, dan beberapa perairan lain di NTT.
Prakiraan cuaca maritim yang dirilis BMKG dan diberitakan media lokal pada 19 September 2026 juga menunjukkan laut NTT masih berpotensi diterjang gelombang tinggi hingga 4 meter di perairan selatan Sumba, sementara gelombang 1,25–2,5 meter dapat terjadi di sejumlah perairan lain, termasuk perairan utara Kupang–Rote dan selat di sekitar Flores serta Komodo. BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko bagi keselamatan pelayaran kapal penyeberangan dan nelayan, sehingga operator feri diminta berhati-hati dalam merencanakan keberangkatan.
Dalam pemberitaan mengenai jadwal kapal feri ASDP Cabang Kupang, perusahaan secara berkala menginformasikan rute dan jam keberangkatan armada yang melayani lintasan antarpulau di NTT, termasuk Kupang–Larantuka, Larantuka–Kupang, dan rute lain seperti Kupang–Rote, Ende–Kupang, serta Sabu–Kupang. Jadwal tersebut menunjukkan bahwa setelah cuaca membaik pada awal September, layanan penyeberangan Kupang–Larantuka kembali dijalankan dengan menyesuaikan perkembangan kondisi laut dan peringatan BMKG.
Operasional feri dan imbauan bagi penumpang
Dalam informasi jadwal, manajemen ASDP Cabang Kupang menjelaskan bahwa tiket penyeberangan dapat dibeli secara daring melalui kanal resmi dengan batas waktu maksimal 30 hari sebelum keberangkatan, dan penumpang diwajibkan melakukan proses check-in di pelabuhan dua jam sebelum jadwal kapal. Imbauan tersebut dimaksudkan agar calon pengguna jasa memiliki waktu cukup untuk pemeriksaan dokumen dan penataan kendaraan maupun barang sebelum naik ke kapal.
Dengan adanya pembatalan akibat cuaca pada 10 September 2026 dan prakiraan gelombang tinggi dari BMKG, calon penumpang lintasan Kupang–Larantuka dan rute lain di NTT perlu memeriksa kembali jadwal keberangkatan melalui pengumuman resmi ASDP atau informasi yang disampaikan petugas pelabuhan.
Perubahan jadwal atau pembatalan dapat dilakukan operator penyeberangan apabila gelombang dinilai membahayakan keselamatan kapal, penumpang, kendaraan, dan muatan. Kebijakan tersebut sejalan dengan peringatan BMKG tentang risiko pelayaran pada saat terjadi gelombang tinggi di perairan NTT.
Sumber
Berita berikutnya

Dua Nelayan Sikka Hilang Kontak Saat Berlayar ke Pulau Karumpa
Dua nelayan asal Sikka, Ahmad Junaidi dan Jiar Junaidi Mendome, dilaporkan hilang kontak saat berlayar menuju Pulau Karumpa sejak 18 September 2026. T…
Baca juga




