Labuan Bajo–Bari dan Warloka Disiapkan Jadi Koridor Wisata Baru
Pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menata jalur utara Labuan Bajo–Bari dan jalur selatan Labuan Bajo–Warloka untuk mendukung pariwisata di luar pusat kota.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menata jalur Labuan Bajo–Bari dan Labuan Bajo–Warloka sebagai koridor baru penunjang pariwisata di kawasan barat Flores. Rencana ini disampaikan Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi pada Sabtu, 10 September 2022, di Labuan Bajo, menurut laporan Victory News Manggarai Barat.
Dalam penjelasan Bupati, jalur Labuan Bajo menuju Bari disebut sebagai jalur utara Pulau Flores, sedangkan Labuan Bajo menuju Warloka merupakan jalur selatan. Pemerintah daerah memandang kedua ruas ini strategis untuk pengembangan sektor pariwisata di luar kawasan utama kota Labuan Bajo.
Pembangunan jalan di jalur utara dilakukan oleh pemerintah pusat melalui proyek Jalan Lintas Utara Flores. Kementerian Sekretariat Negara menyebut ruas Labuan Bajo–Boleng sepanjang 28,18 kilometer, Boleng–Terang 32,15 kilometer, Terang–Pelabuhan Bari 20,55 kilometer, dan Pelabuhan Bari–Kendidi 60,4 kilometer sebagai bagian dari pembangunan jalan lingkar tersebut. Menurut Victory News Manggarai Barat, jalan Labuan Bajo–Bari telah dihotmix sepanjang sekitar 70 kilometer dengan anggaran pemerintah pusat.
Perbaikan jalur selatan dan dukungan infrastruktur
Untuk jalur Labuan Bajo–Warloka, Victory News Manggarai Barat melaporkan bahwa sejumlah titik jalan rusak telah diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Warloka berada di sebelah selatan Labuan Bajo dan dikenal sebagai kampung nelayan tradisional yang kini menjadi target program pengembangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Meski jalur selatan mulai dibenahi, sejumlah laporan masih menyoroti keterbatasan infrastruktur dasar di Desa Warloka dan sekitarnya. Kontan, melalui laporan jelajah ekonomi pariwisata, mencatat bahwa warga di Kampung Warloka masih menghadapi kesulitan akses jalan, air bersih, dan listrik. Victory News Manggarai Barat juga memberitakan keluhan warga Warloka Pesisir yang belum menikmati listrik PLN dan bergantung pada lampu pelita serta sebagian kecil mesin diesel untuk penerangan.
Di tingkat kabupaten, pengembangan jaringan listrik pedesaan berlangsung secara bertahap. Pada 2023, Bupati Edistasius Endi meresmikan penyalaan perdana jaringan listrik di empat desa di Kecamatan Lembor Selatan, yaitu Watu Rambung, Surunumbeng, Benteng Tado, dan Watu Tiri. Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan Labuan Bajo menjelaskan bahwa perluasan jaringan tersebut mencakup sekitar 18 kilometer jaringan utama dan 27 kilometer kabel kecil dengan tujuh gardu distribusi.
Sejumlah wilayah lain di Manggarai Barat masih menuntut akses listrik. Media lokal di Labuan Bajo melaporkan warga Desa Watu Manggar, Kecamatan Macang Pacar, mendatangi kantor PLN Labuan Bajo pada April 2025 karena desa mereka belum tersambung listrik negara. Laporan lain menyebut warga Kampung Cumbi di Desa Warloka belum menikmati listrik meski kabel jaringan telah terpasang sejak 2020. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapan koridor wisata tidak hanya menyangkut jalan, tetapi juga jaringan listrik dan layanan dasar.
Peluang ekonomi dan pengelolaan lahan
Dalam pernyataannya pada 10 September 2022, Bupati Edistasius Endi mengajak masyarakat di sepanjang jalur utara dan selatan memanfaatkan peluang koridor wisata dengan mengembangkan usaha sektor pariwisata. Ia mengingatkan agar warga tidak menjual tanah secara sembarangan kepada investor dari luar Nusa Tenggara Timur dan mendorong skema kemitraan, seperti kontrak atau kepemilikan saham, agar manfaat ekonomi dari lahan tetap dinikmati masyarakat lokal.
Victory News Manggarai Barat mengutip warga Labuan Bajo bernama Ferdinandus Tasar yang mengajak masyarakat membuka usaha makanan dan minuman lokal di sepanjang jalur tersebut. Ia menyebut jalur utara memiliki sejumlah titik yang menarik untuk menikmati matahari terbenam. Pendekatan ini menempatkan tanah dan lokasi usaha sebagai modal ekonomi jangka panjang bagi penduduk di koridor Labuan Bajo–Bari dan Labuan Bajo–Warloka.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2025 menetapkan Warloka sebagai salah satu lokasi program Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini menempatkan Warloka, dengan luas wilayah 3.829 kilometer persegi dan penduduk 1.804 jiwa pada 2019, sebagai kawasan yang dikembangkan untuk menguatkan perikanan dan pariwisata. Kebijakan tersebut menambah konteks bahwa jalur selatan Labuan Bajo–Warloka bukan hanya koridor wisata, tetapi juga bagian dari upaya penguatan desa nelayan.
Rencana koridor Labuan Bajo–Bari dan Labuan Bajo–Warloka muncul ketika Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi pariwisata nasional prioritas. Menurut Victory News Manggarai Barat, pemerintah daerah berharap jalur utara dan selatan dapat menjadi pilihan tambahan bagi wisatawan, melengkapi daya tarik yang sudah berkembang di Labuan Bajo dan kawasan sekitarnya.
Sumber
Berita berikutnya
KLM Tiana Tenggelam di Komodo, Dua Wisatawan Meninggal
Kapal wisata KLM Tiana Liveaboard tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, pada 28 Juni 2022.
Baca juga




