Kemenag dan FKUB Dampingi Warga Flores Pascagempa
Kementerian Agama dan FKUB memperkuat pendampingan psikologis serta spiritual bagi warga Flores terdampak gempa, termasuk di Manggarai Barat.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melakukan pendampingan psikologis dan spiritual bagi warga terdampak gempa Flores, termasuk di wilayah Labuan Bajo. Pendampingan dilakukan melalui kehadiran para penyuluh agama, bantuan kemanusiaan, dan penguatan kegiatan keagamaan di lingkungan rumah ibadah yang rusak.
Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada pertengahan Agustus 2026 menyebabkan kerusakan luas pada fasilitas keagamaan di sejumlah kabupaten. Laporan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Nusa Tenggara Timur, Fransiskus Kariyanto, mencatat sebanyak 509 rumah ibadah terdampak gempa di Flores dan sekitarnya. Rinciannya terdiri atas 422 rumah ibadah Katolik, 33 Kristen, 51 Islam, satu Hindu, dan dua Buddha, di samping tujuh kantor Kemenag, 12 Kantor Urusan Agama, satu kantor FKUB, 343 rumah ASN Kemenag, serta 94 satuan pendidikan keagamaan yang rusak.
Data kerusakan tersebut menjadi dasar penyusunan program pendampingan dan bantuan lintas agama oleh Kementerian Agama dan FKUB. Menurut pemberitaan nasional, Kemenag NTT menginstruksikan para penyuluh agama dan guru untuk turun ke lokasi terdampak memberikan pendampingan trauma dan penguatan spiritual kepada para penyintas. Pendampingan diarahkan untuk membantu warga menghadapi kecemasan akibat gempa susulan, sekaligus menjaga keberlangsungan ibadah di tengah kerusakan rumah ibadah.
Di Manggarai Barat, Kantor Kementerian Agama setempat sebelumnya telah bergerak cepat melakukan pendataan dan verifikasi kerusakan rumah ibadah lintas agama serta madrasah pascagempa. Pendataan sementara menemukan kerusakan rumah ibadah di berbagai wilayah, termasuk gereja dan stasi di Ndoso, Kuwus, Sanonggoang, Mbeliling, Komodo, dan Boleng, serta beberapa masjid di sejumlah kecamatan. Pendataan dilakukan untuk memastikan keselamatan jamaah dan menyusun laporan ke Kanwil Kemenag NTT serta Kementerian Agama RI sebagai dasar penanganan dan pemulihan fasilitas keagamaan.
Kepala Kantor Kemenag Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi menegaskan pentingnya dukungan langsung bagi masyarakat dan lembaga keagamaan terdampak. Dalam sejumlah pernyataannya di tingkat provinsi, Kemenag menekankan bahwa bantuan tahap awal difokuskan pada tanggap darurat, pemenuhan kebutuhan dasar, dan dukungan psikososial, bukan pembangunan kembali bangunan rusak. Pembangunan fisik rumah ibadah dan fasilitas keagamaan menunggu proses pendataan yang lebih lengkap serta koordinasi lintas kementerian.
Upaya pendampingan di Manggarai Barat berjalan seiring dengan penyaluran bantuan tanggap darurat oleh Kementerian Agama di Flores. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerahkan bantuan Rp3 miliar di Labuan Bajo pada awal September 2026. Bantuan ini dialokasikan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dan lembaga keagamaan terdampak, serta menyediakan ruang belajar darurat dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak yang kehilangan akses pendidikan.
Selain itu, organisasi dan tokoh lintas agama di tingkat nasional mendorong kolaborasi lebih luas untuk memperkuat pemulihan. Sejumlah laporan opini dan liputan daerah menyoroti pentingnya kerja sama lintas iman dalam rehabilitasi rumah ibadah dan dukungan bagi warga yang masih mengungsi. Pendekatan moderasi beragama dan solidaritas antarumat dinilai menjadi landasan bagi aksi kemanusiaan pascabencana di Flores, termasuk di Manggarai Barat.
Sampai pertengahan September 2026, BNPB dan Kemenag masih memperbarui data dampak gempa, baik terkait rumah warga maupun fasilitas keagamaan. Di Manggarai Barat, verifikasi BNPB terhadap rumah terdampak mencapai lebih dari 12 ribu unit, dengan ribuan rumah mengalami kerusakan berat, sedang, dan ringan. Angka-angka ini menunjukkan skala kerentanan sosial dan kebutuhan dukungan jangka panjang, termasuk pendampingan psikososial yang melibatkan tokoh agama di tingkat lokal.
Meski angka khusus 114 rumah ibadah di Manggarai Barat sebagaimana disebut dalam draf awal tidak muncul dalam laporan resmi, berbagai sumber menegaskan bahwa kabupaten ini termasuk salah satu wilayah dengan kerusakan signifikan pada rumah dan fasilitas keagamaan. Pendampingan yang dilakukan Kemenag Manggarai Barat dan FKUB menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk memulihkan kehidupan beragama dan sosial warga Flores setelah gempa.
Sumber
Berita berikutnya
Nelayan Riung Mulai Kembali Melaut Pascagempa Flores M7,7
Nelayan di pesisir Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, mulai kembali melaut secara bertahap setelah dua pekan menghentikan aktivitas akibat gempa Flores…

