Kajian Pemkab: Hortikultura Bisa Pasok Pariwisata Labuan Bajo
Kajian Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menilai hortikultura dapat memasok kebutuhan pangan industri pariwisata Labuan Bajo.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mengkaji peluang hortikultura lokal sebagai pemasok kebutuhan pangan industri pariwisata Labuan Bajo. Kajian Tanaman Hortikultura Link and Match dengan Industri Pariwisata menilai potensi lahan, produksi, dan rantai pasok untuk memperkuat hubungan antara petani dan pelaku usaha wisata.
Ringkasan eksekutif kajian yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Manggarai Barat menyebut sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama mata pencaharian warga. Menurut dokumen tersebut, lebih dari separuh penduduk bekerja di sektor pertanian, meski kontribusi sektor ini terhadap ekonomi daerah cenderung menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Kajian mengaitkan tren tersebut dengan perkembangan pariwisata Labuan Bajo. Berdasarkan data kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo yang dikutip dalam kajian, jumlah pengunjung meningkat tajam pascapandemi. Pertumbuhan wisata dinilai membuka peluang permintaan produk hortikultura, tetapi belum sepenuhnya diisi oleh petani lokal.
Pasar pariwisata belum tersambung
Dokumen eksekutif kajian menjelaskan bahwa kebutuhan hortikultura untuk hotel, restoran, dan usaha wisata di Manggarai Barat masih banyak dipasok dari luar daerah. Menurut Bappeda, kondisi ini membuat pelaku usaha menanggung biaya logistik lebih tinggi, sementara petani lokal belum memperoleh manfaat maksimal dari kegiatan pariwisata.
Pada saat yang sama, hasil produksi petani setempat dinilai belum terserap optimal oleh pasar pariwisata. Ringkasan kajian menilai hal itu bertolak belakang dengan ketersediaan lahan dan potensi tanaman hortikultura di kabupaten tersebut.
Kajian mencatat ketersediaan lahan pertanian yang dapat dikembangkan untuk hortikultura. Berdasarkan Master Plan Pertanian Manggarai Barat 2023–2043 yang dirujuk dalam kajian dan dipaparkan kembali dalam forum kajian oleh tim Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, terdapat sekitar 47.727 hektare lahan eksisting dan potensial untuk budidaya hortikultura di seluruh kecamatan.
Namun, pemanfaatan lahan untuk hortikultura intensif masih terbatas. Paparan tim akademik yang terlibat dalam kajian menyebut petani baru memanfaatkan sebagian kecil dari total potensi lahan untuk tanaman hortikultura musiman dan tahunan.
Selain melihat dari sisi produksi dan lahan, kajian juga memetakan kebutuhan industri pariwisata berdasarkan jenis komoditas, standar mutu, jumlah, serta waktu ketersediaan. Analisis ini dimaksudkan untuk memahami kesenjangan antara kebutuhan hotel dan restoran dengan kemampuan pasokan petani.
Produksi, mutu, dan distribusi menjadi kunci
Laporan akhir kajian menyebut penurunan peran pertanian berkaitan dengan belum optimalnya produksi tanaman pangan dan hortikultura, kualitas produk yang belum merata, serta nilai tambah komoditas yang masih rendah. Tim peneliti mengidentifikasi persoalan mulai dari budidaya, pascapanen, sampai tata niaga.
Master Plan Pertanian Manggarai Barat yang menjadi rujukan kajian menyebut sebaran lahan pertanian eksisting dan potensial tersebar di seluruh kecamatan dan selaras dengan peruntukan kawasan pertanian dalam rencana tata ruang daerah. Namun ketersediaan lahan belum otomatis menjamin pasokan yang konsisten bagi industri wisata.
Petani dinilai membutuhkan kepastian pasar, standar kualitas yang jelas, volume permintaan yang terukur, serta sistem distribusi yang mampu menjaga mutu produk hingga ke konsumen. Tanpa kepastian tersebut, pemanfaatan lahan hortikultura cenderung berjalan sporadis dan tidak terarah pada kebutuhan pariwisata.
Tujuan kajian hortikultura yang disusun pemerintah daerah dan mitra akademik mencakup pemetaan areal potensial dan sentra komoditas, pengkajian produksi serta produktivitas, dan penelaahan sarana-prasarana pendukung. Tim juga menganalisis pola pemasaran, ketersediaan dan kebutuhan pasar pariwisata, serta strategi pengelolaan rantai pasok.
Salah satu rekomendasi utama kajian adalah pembangunan jejaring kerja sama yang menghubungkan petani hortikultura dengan pelaku industri pariwisata. Model ini diharapkan membuat kebutuhan hotel dan usaha wisata dapat diterjemahkan menjadi rencana produksi di tingkat hulu, sehingga pasokan hortikultura lokal lebih terencana dan berkelanjutan.
Ringkasan eksekutif menyebut pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, diskusi kelompok terarah, kajian data sekunder, dan pengamatan langsung. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan peserta dari unsur petani, pelaku usaha, perangkat daerah, dan lembaga pendidikan yang terlibat dalam pengembangan hortikultura dan pariwisata di Manggarai Barat.
Sumber
- Bappeda Kabupaten Manggarai Barat – Laporan Akhir Kajian Tanaman Hortikultura Kabupaten Manggarai Barat
- Badan Pusat Statistik Kabupaten Manggarai Barat – Statistik Perhotelan Kabupaten Manggarai Barat 2023
- TribunFlores – Minimnya Partisipasi Petani Lokal Topang Pariwisata Labuan Bajo
- Jurnal Glory – Pengaruh Pengembangan Pariwisata Pulau Komodo terhadap Pendapatan Asli Daerah Manggarai Barat
Berita berikutnya
Bukit Pramuka 14 Hektare Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Budaya
Pemkab Manggarai Barat menyiapkan pengembangan Bukit Pramuka sebagai destinasi wisata baru di Labuan Bajo melalui skema kerja sama pemanfaatan aset da…
Baca juga


