Gubernur NTT Tetapkan Tanggap Darurat Gempa Flores 14 Hari
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menetapkan status tanggap darurat gempa bumi di Provinsi NTT selama 14 hari sejak 15 hingga 28 Agustus 2026, setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Flores dengan pusat di Mbay…
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi di Provinsi NTT selama 14 hari sejak 15 hingga 28 Agustus 2026, menyusul gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah utara Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Penetapan status tanggap darurat itu tertuang dalam Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi NTT, yang ditandatangani di Kupang pada 15 Agustus 2026, menurut pernyataan resmi pemerintah provinsi.
Gempa utama terjadi sekitar pukul 05.58 WITA dengan kedalaman 15 kilometer dan berlokasi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kemudian memutakhirkan kekuatan gempa menjadi magnitudo 7,7.
Dalam pernyataan yang dikutip media nasional, Melki menyebut penetapan status tanggap darurat dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak bencana, mempermudah akses, serta memperkuat koordinasi dan komunikasi antarpihak dalam mengerahkan sumber daya penanggulangan.
Langkah cepat pemerintah provinsi
Sehari setelah penetapan status tanggap darurat, Minggu, 16 Agustus 2026, Gubernur Melki bertolak ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, untuk mengikuti rapat kerja koordinasi penanganan dampak gempa bumi wilayah Flores bersama sejumlah pejabat pemerintah pusat. Rapat tersebut membahas langkah-langkah percepatan penanganan dampak gempa dan dukungan pemerintah pusat bagi daerah terdampak.
Dalam berbagai keterangan kepada media, Melki menyampaikan bahwa wilayah pesisir utara Pulau Flores menjadi daerah yang paling banyak terdampak gempa. Dampak besar tercatat di Maumere, Ngada, Manggarai, dan Nagekeo sebagai pusat gempa.
Pemerintah provinsi melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten terdampak untuk memastikan penanganan darurat sesuai kondisi masing-masing wilayah, termasuk penanganan pengungsi, pemulihan layanan dasar, dan pendataan kerusakan.
Data awal korban dan kerusakan
Data awal pemerintah provinsi menunjukkan adanya korban jiwa dan kerusakan di sejumlah kabupaten. Dalam konferensi pers bersama unsur kepolisian dan lembaga penanggulangan bencana di Kupang pada 15 Agustus 2026, Melki menyebut korban meninggal dunia dan luka-luka tersebar di Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Data tersebut terus diperbarui seiring pemutakhiran laporan dari daerah. Pemerintah provinsi menyiapkan mekanisme pendataan kerusakan rumah dan fasilitas umum sebagai dasar penyaluran bantuan dan kebijakan pemulihan.
Selain kerusakan di wilayah pesisir utara Flores, gelombang tsunami yang dipicu gempa juga terdeteksi di beberapa lokasi. Laporan resmi menyebut ketinggian tsunami bervariasi, antara lain di Maurole–Ende, Labuan Bajo, Pelabuhan Kewapante–Sikka, Flores Timur, Sikka, dan Dompu.
Arah penanganan dan pemulihan
Dalam pernyataan pemerintahan provinsi, Gubernur Melki menegaskan bahwa penanganan gempa Flores tidak berhenti pada tahap tanggap darurat. Pemerintah mulai mengarahkan agenda kerja menuju pemulihan dan pembangunan kembali wilayah terdampak secara lebih aman dan tangguh.
Pemerintah provinsi menyatakan akan terus memperbarui data kerusakan dan kebutuhan warga, memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, serta menerjemahkan dukungan kebijakan nasional menjadi bentuk bantuan konkret bagi masyarakat di Flores.
Seiring berjalannya masa tanggap darurat, sejumlah kabupaten terdampak menyesuaikan durasi status darurat sesuai kondisi masing-masing wilayah, sementara pemerintah provinsi tetap memantau perkembangan dan mendorong penanganan berbasis data lapangan.
Sumber
Berita berikutnya

Pemulihan Akses Jalan Jadi Prioritas Pascagempa Flores
Pemerintah menempatkan pemulihan akses jalan sebagai salah satu prioritas penanganan pascagempa M 7,7 yang mengguncang Flores dan wilayah lain di NTT.
Baca juga


