Pemulihan Akses Jalan Jadi Prioritas Pascagempa Flores
Pemerintah menempatkan pemulihan akses jalan sebagai salah satu prioritas penanganan pascagempa M 7,7 yang mengguncang Flores dan wilayah lain di NTT.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah pusat dan daerah menempatkan pemulihan akses jalan sebagai salah satu prioritas penanganan pascagempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Penegasan itu disampaikan pejabat terkait di Jakarta dan NTT dalam rangka membuka kembali konektivitas ke daerah terdampak dan menembus kawasan yang sempat terisolasi.
Gempa kuat tersebut mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di beberapa kabupaten di Flores dan sekitarnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 68 orang meninggal dunia dan 213 orang luka-luka hingga pembaruan data pada 17 Agustus 2026. Data serupa disampaikan sejumlah media yang merujuk keterangan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Di sektor infrastruktur, pemerintah menyebut pemulihan akses transportasi sebagai langkah penting untuk mempercepat distribusi bantuan, layanan kesehatan, dan pemulihan aktivitas ekonomi warga di wilayah terdampak. Menurut pemberitaan media nasional, pemulihan akses jalan nasional dilakukan melalui pengerahan alat berat oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT untuk menormalkan sejumlah ruas yang terdampak longsor dan kerusakan.
Pemulihan Konektivitas Jalan
Dalam keterangan yang dimuat media, pemulihan akses jalan disebut sebagai salah satu prioritas utama penanganan pascagempa di Kabupaten Sikka dan daerah lain yang terdampak. Upaya tersebut mencakup pembersihan material longsor, perbaikan darurat badan jalan, dan pengembalian fungsi ruas-ruas nasional agar kendaraan logistik dan layanan publik dapat kembali melintas.
Media mengutip pejabat Kementerian Pekerjaan Umum yang menjelaskan bahwa pemulihan konektivitas menjadi kunci untuk menembus daerah yang sempat terisolasi akibat rusaknya akses jalan. Prioritas itu diarahkan terutama pada jalur yang menjadi penghubung utama antara pusat distribusi bantuan dan permukiman terdampak.
Namun, laporan yang tersedia belum merinci secara lengkap daftar setiap ruas jalan di Flores bagian barat yang ditangani, panjang segmen yang rusak, maupun nilai anggaran per paket pekerjaan. Informasi teknis tersebut umumnya disajikan dalam bentuk ringkasan, seperti jumlah ruas nasional yang difungsikan kembali dan jumlah titik longsoran utama yang sudah ditangani.
Dampak ke Pariwisata Flores
Selain kerusakan fisik dan gangguan akses, gempa juga berdampak pada sektor pariwisata di Flores. Sejumlah destinasi unggulan ditutup sementara untuk pemeriksaan keamanan dan kelayakan infrastruktur. RRI dan beberapa media lain memberitakan bahwa Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende termasuk objek wisata yang ditutup sementara pascagempa.
Penutupan destinasi dilakukan sebagai langkah kehati-hatian sembari menunggu hasil verifikasi lapangan atas kondisi jalur, fasilitas, dan kawasan wisata. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan Kementerian Pariwisata memantau dampak gempa terhadap pariwisata dan menginformasikan destinasi yang sudah kembali beroperasi maupun yang masih ditutup.
Di sisi lain, aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo dilaporkan berangsur normal. Pelabuhan Marina Labuan Bajo dan akses pelayaran menuju Pulau Komodo, Rinca, dan Pulau Padar kembali dibuka, sementara beberapa destinasi darat seperti Batu Cermin juga disebut sudah menerima kunjungan sejak pertengahan Agustus.
Korban dan Kerusakan
BNPB merinci sebaran korban meninggal di beberapa kabupaten, antara lain Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Ngada. Laporan lain yang merujuk data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per 18 Agustus 2026 mencatat 69 korban jiwa, 331 orang luka-luka, puluhan ribu pengungsi, dan lebih dari 19 ribu rumah rusak dengan kategori berat, sedang, dan ringan.
Perbedaan angka antara rilis BNPB dan pendataan BPBD menunjukkan adanya pembaruan data di lapangan seiring berjalannya proses identifikasi korban dan kerusakan. Pemerintah daerah menyebut pendataan rumah rusak dan fasilitas publik sebagai salah satu fokus selain penanganan korban dan pemulihan akses.
Dengan kondisi tersebut, pemulihan konektivitas jalan dan infrastruktur pendukung diposisikan sebagai bagian dari strategi pemulihan yang lebih luas, mencakup penanganan pengungsi, pemulihan layanan dasar, dan pemulihan aktivitas ekonomi di Flores dan kawasan terdampak lain di NTT.
Sumber
Berita berikutnya

Gempa 7,7 Flores Rusak Puluhan Titik Jalan dan Jembatan
Gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 merusak puluhan titik jalan nasional dan jembatan di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Baca juga




