Gempa M4,7 Guncang Flores, Dirasakan di Manggarai Barat
Gempa bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah Flores pada Jumat malam, 18 September 2026, dengan pusat di laut utara Ruteng.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat malam, 18 September 2026, sekitar pukul 20.20 WITA. Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip berbagai media, episenter gempa berada di laut sekitar 46 kilometer sebelah utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman 8 kilometer.
BMKG mencatat pusat gempa pada koordinat 8,20 derajat Lintang Selatan dan 120,50 derajat Bujur Timur. Gempa ini termasuk kategori dangkal dan terjadi di zona patahan Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik atau thrust, menurut Kepala BMKG Nusa Tenggara Timur, Arief Tyastama.
Guncangan gempa dirasakan di Kabupaten Manggarai dengan intensitas sekitar III–IV skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala ini, getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah dan beberapa orang di luar rumah, serta dapat menyebabkan pintu dan jendela berderik dan benda-benda rumah tangga bergetar.
Di Kabupaten Manggarai Barat, BMKG mencatat intensitas guncangan sekitar II MMI. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang.
BMKG: Gempa Tidak Berpotensi Tsunami
Arief Tyastama menyatakan gempa M4,7 di utara Ruteng tidak berpotensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan tsunami BMKG. Ia menjelaskan, lokasi episenter di laut dengan kedalaman dangkal dan mekanisme sesar naik menunjukkan karakter gempa yang tidak cukup kuat untuk memicu tsunami.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada, serta tidak mudah percaya informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi. Masyarakat diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak dan memeriksa kondisi rumah sebelum kembali beraktivitas.
BMKG menyarankan warga di Manggarai dan Manggarai Barat yang merasakan guncangan untuk terus memantau informasi melalui kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah. Informasi gempa terkini dan potensi dampaknya akan diperbarui jika terjadi perkembangan baru.
Gempa Lain di Hari yang Sama
Pada hari yang sama, Jumat, 18 September 2026, BMKG juga mencatat gempa bermagnitudo 4,1 di wilayah utara Ruteng, Manggarai. Menurut keterangan Arief Tyastama, gempa M4,1 itu berpusat di laut sekitar 54 kilometer utara Ruteng, pada kedalaman sekitar 3 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.
Gempa M4,1 tersebut dirasakan dengan intensitas II–III MMI di sejumlah wilayah Manggarai. Getaran terasa nyata oleh beberapa orang dan dapat menimbulkan kesan seperti truk berlalu, namun umumnya tidak menyebabkan kerusakan berarti.
Bagian dari Rangkaian Gempa Susulan Flores
BMKG menyebut gempa M4,7 di utara Ruteng merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Gempa besar pada pertengahan Agustus itu juga dilaporkan bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Dalam keterangan tertulis, Arief Tyastama menjelaskan bahwa gempa-gempa susulan masih terus dipantau oleh jaringan seismik BMKG. Hingga Jumat, 18 September 2026, sore hari, pemantauan BMKG mencatat lebih dari 16 ribu aktivitas gempa susulan di kawasan Flores dan sekitarnya, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
BMKG menyatakan pemantauan terhadap aktivitas gempa di Flores akan terus dilakukan. Informasi terbaru akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat melalui saluran resmi untuk mendukung upaya mitigasi dan penanganan dampak gempa di wilayah Manggarai, Manggarai Barat, dan kabupaten lain yang terdampak.
Sumber
Berita berikutnya
Rp20 Miliar Bantuan Presiden Sikka, Rp6 Miliar untuk Perumahan Rakyat
Pemerintah Kabupaten Sikka menyiapkan skema penggunaan bantuan Presiden Rp20 miliar untuk penanganan dampak gempa melalui beberapa perangkat daerah.

