Kementerian PU Siapkan Air Bersih untuk 7.000 Warga Pulau Palue
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengirim empat tandon air dan menyiapkan survei geolistrik untuk memenuhi kebutuhan sekitar 7.000 warga terdampak gempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyiapkan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi sekitar 7.000 warga di delapan desa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut keterangan resmi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, langkah tanggap darurat dilakukan melalui pengiriman empat unit tandon air berkapasitas masing-masing 1.200 liter ke Kecamatan Palue serta pendistribusian air bersih ke sejumlah daerah terdampak pada 18–20 Agustus 2026.
Media Mitrapol memberitakan, Kementerian PU mempercepat penyediaan air bersih bagi warga Palue sebagai salah satu prioritas penanganan pascabencana, agar kebutuhan masyarakat tidak hanya bergantung pada sumber air yang sudah ada.
Tandon dikirim, survei air tanah disiapkan
Dalam peninjauan lapangan, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw bersama jajaran Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II meninjau Pulau Palue untuk melihat kondisi infrastruktur sumber air dan kebutuhan warga.
Menurut Ditjen Sumber Daya Air, rombongan meninjau sumur bor berkapasitas sekitar 1,8 liter per detik yang selama ini menjadi salah satu sumber layanan air bagi masyarakat Pulau Palue. Sumur tersebut dibangun sebelum gempa dan tetap menjadi bagian dari sistem penyediaan air di pulau itu.
Untuk memenuhi kebutuhan air dalam kondisi darurat, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II mengirim empat tandon air ke Kecamatan Palue dengan total kapasitas 4.800 liter. Pendistribusian air bersih dilakukan bersama mobil tangki air ke kawasan terdampak selama masa tanggap darurat.
Kementerian PU juga menyiapkan survei geolistrik guna memetakan potensi sumber air tanah di Pulau Palue. Menurut keterangan Ditjen Sumber Daya Air, survei tersebut ditujukan untuk menentukan titik pengembangan sumber air tambahan bagi sekitar 7.000 warga di delapan desa.
Beberapa data pokok penanganan air bersih yang diinformasikan pemerintah:
- Penerima manfaat sekitar 7.000 warga di delapan desa di Kecamatan Palue.
- Dukungan darurat berupa empat tandon air masing-masing berkapasitas 1.200 liter.
- Salah satu sumber air yang ditinjau adalah sumur bor dengan kapasitas sekitar 1,8 liter per detik.
Dampak gempa dan penanganan infrastruktur
Gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 berpusat di sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, guncangan tersebut memicu peringatan dini tsunami dan berdampak ke sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Sikka.
Laporan Mitrapol menyebutkan, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw bersama Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago meninjau Pulau Palue dan melihat tiga titik dari sekitar 10 lokasi longsoran yang telah teridentifikasi. Longsoran menutup akses jalan di beberapa titik sehingga distribusi bantuan membutuhkan dukungan alat berat.
Dalam penanganan infrastruktur, pemerintah pusat dan daerah mengerahkan peralatan untuk membuka akses menuju kamp pengungsian dan memperkuat sarana air bersih. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air mencatat bahwa pendistribusian air bersih dilakukan serentak di sejumlah kabupaten terdampak di Flores, termasuk Palue, selama masa tanggap darurat.
Upaya jangka pendek dan panjang
Kementerian PU menyatakan bahwa penyediaan air bersih darurat dan pencarian sumber air baru dilakukan secara paralel. Survei geolistrik disiapkan untuk mencari cadangan air tanah yang dapat diolah melalui sumur bor dan sistem filtrasi, sehingga pasokan air masyarakat lebih terjamin dalam jangka panjang.
Dalam beberapa pernyataan publik, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan air masyarakat di Pulau Palue menjadi bagian dari program pemulihan layanan dasar pascabencana di Nusa Tenggara Timur. Upaya tersebut mencakup perbaikan prasarana air minum, penyiapan tandon, dan kajian teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Penanganan di Pulau Palue dilakukan bertahap dengan mendahulukan kebutuhan dasar warga, terutama air bersih untuk konsumsi sehari-hari, di tengah kondisi pengungsian dan kerusakan infrastruktur akibat gempa dan longsor.
Sumber
Berita berikutnya
Lansia Adelina Ndimias, 77 Tahun, Dievakuasi ke Labuan Bajo
Tim SAR gabungan mengevakuasi Adelina Ndimias, lansia 77 tahun asal Manggarai Timur, dengan helikopter Dauphin Basarnas ke RSUD Pratama Komodo di Labu…
Baca juga


