Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Ekowisata Kampung Kerora di Pulau Rinca Resmi Dibuka BTNK

Balai Taman Nasional Komodo membuka jalur ekowisata Kampung Kerora di Pulau Rinca pada 6 Maret 2025. Destinasi ini menawarkan trekking, pengamatan satwa, dan pelepasan tukik dengan pengelolaan berbasis masyarakat serta konservasi penyu.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Komodo is the largest species of lizard in the world.
Foto arsip: Komodo is the largest species of lizard in the world. · Foto: Moment Seeker 23 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Labuan Bajo — Balai Taman Nasional Komodo membuka jalur ekowisata Kampung Kerora di Pulau Rinca, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagai alternatif kunjungan di kawasan Taman Nasional Komodo yang menggabungkan kegiatan wisata alam dan konservasi penyu.

Jalur trekking Kampung Kerora diresmikan pada 6 Maret 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-45 Taman Nasional Komodo, menurut laporan media nasional yang mengutip pernyataan Balai Taman Nasional Komodo.

Menurut Balai Taman Nasional Komodo, pengembangan ekowisata di Kampung Kerora terkait erat dengan kegiatan konservasi penyu di Pulau Muang dan sekitarnya, yang selama ini menjadi lokasi pemantauan sarang dan relokasi telur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Jalur trekking dan pengalaman pelepasan tukik

Wisatawan dapat mencapai Kampung Kerora dari Labuan Bajo dengan berkendara menuju Kampung Soknar di Desa Golo Mori, kemudian menyeberang sekitar 15 menit dengan kapal menuju Kerora, atau menggunakan kapal wisata langsung dari Pelabuhan Labuan Bajo.

Di Kampung Kerora, jalur trekking menawarkan lanskap pegunungan dan pengamatan satwa liar yang menjadi daya tarik utama, termasuk komodo, kerbau liar, dan kuda liar, sebagaimana disampaikan Balai Taman Nasional Komodo dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores.

Aktivitas lain yang ditawarkan mencakup pengamatan burung dan eksplorasi hutan tropis yang menjadi habitat komodo, burung kakatua jambul kuning, burung maleo, kerbau liar, dan rusa Timor.

Pengalaman pelepasan anak penyu atau tukik menjadi bagian dari paket wisata di Kampung Kerora, yang dikembangkan sebagai ekowisata minat khusus berbasis konservasi penyu bersama masyarakat lokal.

Pengelolaan berbasis masyarakat

Wisata Kampung Kerora dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di bawah naungan Koperasi Komodo Citra Lestari, menurut penjelasan pengelola dalam pemberitaan media.

Harga paket wisata Kampung Kerora dipatok sekitar Rp400 ribu untuk lima orang, mencakup aktivitas trekking dan pelepasan tukik, tidak termasuk tiket masuk kawasan Taman Nasional Komodo yang merupakan penerimaan negara bukan pajak.

Dalam skema tersebut, sekitar 50 persen hasil penjualan paket wisata dialokasikan untuk Pokdarwis, sementara sisanya digunakan untuk kegiatan konservasi di Kampung Kerora, sehingga manfaat ekonomi dan konservasi dibagi antara pelaku wisata lokal dan pengelola konservasi.

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores menyebut Dusun Kerora memiliki kekayaan ekowisata dengan jalur trekking Wae Kako sepanjang sekitar dua kilometer yang menawarkan pilihan rute pendek, sedang, dan panjang, serta potensi aktivitas bird watching dan snorkeling di perairan sekitar.

Ekowisata berbasis konservasi penyu

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggarisbawahi bahwa Kampung Kerora memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata berbasis konservasi penyu karena kedekatannya dengan habitat penyu di Pulau Muang.

Petugas Resort Kampung Kerora bersama masyarakat lokal telah melakukan kegiatan relokasi telur penyu dari Pulau Muang dan pemantauan sarang penyu sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian satwa dan ekosistem pesisir di wilayah Taman Nasional Komodo.

Balai Taman Nasional Komodo menyatakan bahwa kegiatan monitoring sarang penyu dan relokasi telur yang melibatkan masyarakat dapat dikembangkan dengan hati-hati sebagai kegiatan ekowisata minat khusus, dengan tujuan memberikan edukasi kepada wisatawan sekaligus memastikan perlindungan satwa.

Pengembangan ekowisata Kampung Kerora beriringan dengan program penanaman mangrove dan upaya mitigasi perubahan iklim di Pulau Rinca, yang dikoordinasikan oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Pulau Rinca.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.