Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

BPS: Penumpang Udara NTT Naik 33,40 Persen, Bandara Komodo Dominan

Data BPS yang dikutip berbagai media menunjukkan penumpang angkutan udara NTT mencapai 223.302 orang pada Maret 2026, naik 33,40 persen secara tahunan.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Jumlah penumpang angkutan udara di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Maret 2026 tercatat 223.302 orang, meningkat 33,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip sejumlah media nasional.

Bandara Komodo di Labuan Bajo menyumbang 23,93 persen terhadap total pergerakan penumpang angkutan udara di NTT pada periode tersebut, sehingga menjadi salah satu simpul utama mobilitas orang dan barang di provinsi itu.

Pertumbuhan pergerakan udara ini menunjukkan konektivitas NTT, khususnya Labuan Bajo, semakin menguat tidak hanya untuk pariwisata, tetapi juga bagi mobilitas warga, pekerja, dan distribusi logistik.

Data yang tersedia di media menggarisbawahi besaran kontribusi Bandara Komodo terhadap pergerakan penumpang udara NTT, tetapi tidak merinci lebih lanjut pembagian penumpang domestik dan internasional maupun kapasitas terminal dan tingkat utilisasi fasilitas bandara.

Pertumbuhan udara dan pasar wisata

Sejumlah laporan yang mengutip BPS NTT mencatat, kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk utama NTT pada April 2026 mencapai 26.604 kunjungan.

Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel berbintang di NTT disebut berada di kisaran 40,97 persen, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 8,87 persen menurut pemberitaan yang merujuk data resmi statistik.

Peningkatan kunjungan wisatawan dan pergerakan penumpang udara ini berlangsung di tengah penguatan konektivitas regional menuju Labuan Bajo melalui Bandara Komodo.

Media nasional menyebut Bandara Komodo sebagai salah satu simpul utama penerbangan di NTT, dengan kontribusi hampir seperempat dari seluruh penumpang angkutan udara di provinsi tersebut pada Maret 2026.

Bagi wisatawan, kenaikan arus udara berarti kebutuhan layanan lanjutan yang memadai dari bandara menuju pelabuhan dan destinasi wisata, sementara bagi warga dan pelaku usaha, mobilitas yang meningkat membuka peluang ekonomi baru namun berpotensi menambah tekanan pada jaringan jalan dan layanan publik di Labuan Bajo.

Bandara Komodo sebagai simpul konektivitas pascabencana

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan Bandara Komodo tetap berperan sebagai salah satu simpul konektivitas dalam penanganan pascabencana gempa bumi di NTT.

Dalam keterangan resmi bertanggal 29 Agustus 2026, instansi tersebut menempatkan Bandara Komodo sebagai titik awal kunjungan Direktur Jenderal Perhubungan Udara dan rombongan ke sejumlah bandara terdampak untuk memastikan kondisi infrastruktur dan fasilitas penerbangan serta mempercepat pemulihan.

Kementerian Perhubungan menjelaskan bahwa layanan operasional di bandara terdampak, termasuk Bandara Komodo, tetap berjalan tanpa penutupan, sekaligus mendukung mobilisasi personel, peralatan, dan pengiriman bantuan.

Dalam konteks ini, Bandara Komodo berfungsi bukan hanya sebagai pintu masuk wisatawan, tetapi juga sebagai simpul logistik dan operasi kemanusiaan yang menjaga kelancaran konektivitas udara NTT.

Mawatu dan pengembangan kawasan Labuan Bajo

Di tengah penguatan konektivitas udara dan pertumbuhan pariwisata, kawasan Mawatu di Pantai Batu Cermin dikembangkan sebagai pusat kota baru Labuan Bajo oleh Vasanta Group.

Laporan RRI dan berbagai media nasional menyebut Mawatu berdiri di atas lahan seluas 12 hektare di tepi Pantai Batu Cermin dan mengusung visi sebagai The New City Center of Labuan Bajo.

Kawasan ini dirancang sebagai kota terpadu yang memadukan delapan pilar utama: hospitality, lifestyle, culture, culinary, creative, maritime, nature, dan community, dengan fasilitas seperti area komersial, jalur pedestrian, ruang publik, dan fasilitas wisata lainnya.

Seorang warga Batu Cermin yang dikutip RRI menyatakan harapan agar pengembangan Mawatu membuka peluang ekonomi dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar, menempatkan akses warga dan keterlibatan komunitas sebagai bagian penting dari keberhasilan pembangunan kawasan tersebut.

Pengembangan pusat kota baru ini menambah dimensi tata ruang dalam pembahasan konektivitas Labuan Bajo. Keterkaitan antara Bandara Komodo, pelabuhan, kawasan permukiman, dan pusat kegiatan baru seperti Mawatu akan menentukan bagaimana manfaat pertumbuhan pariwisata dan mobilitas dirasakan secara merata oleh masyarakat Manggarai Barat.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.