BNPB Verifikasi 51.591 Rumah Terdampak Gempa Flores
BNPB telah memverifikasi 51.591 rumah atau 50,39 persen dari 102.384 rumah sasaran di tujuh kabupaten terdampak gempa Flores per 7 September 2026.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 51.591 unit rumah di tujuh kabupaten terdampak gempa Flores telah melalui verifikasi dan validasi per Senin, 7 September 2026, atau 50,39 persen dari total sasaran awal 102.384 rumah.
Dari hasil verifikasi sementara, 2.382 unit rumah masuk kategori rusak berat, 7.276 unit rusak sedang, dan 14.177 unit rusak ringan.
BNPB juga melaporkan 27.756 rumah yang telah diperiksa dinyatakan tidak mengalami kerusakan.
Sebaran verifikasi di tujuh kabupaten
BNPB menyebut pendataan mencakup tujuh kabupaten terdampak di Flores dan sekitarnya dengan total data awal 102.384 rumah.
Rincian per kabupaten yang dipublikasikan BNPB melalui sejumlah media menunjukkan perbedaan kondisi kerusakan rumah.
Di Manggarai Barat, verifikasi mencakup 12.367 rumah dari 12.613 data awal.
Dari jumlah tersebut, 468 rumah dikategorikan rusak berat, 1.930 rusak sedang, dan 4.187 rusak ringan, sementara sisanya tidak rusak.
Di Nagekeo, BNPB melaporkan 15.929 rumah telah diverifikasi.
Dari angka itu, 218 rumah rusak berat, 1.523 rusak sedang, dan 3.475 rusak ringan.
Sisanya tercatat dalam kategori tidak rusak.
Kabupaten Manggarai Timur memiliki 7.366 rumah terverifikasi dengan 1.078 rumah rusak berat.
Manggarai mencatat 7.089 rumah terverifikasi, termasuk 448 rumah rusak berat.
Di Ngada, verifikasi mencakup 7.544 rumah dengan 126 rumah rusak berat.
Sikka mencatat 1.001 rumah terverifikasi dengan 43 rumah rusak berat, sedangkan Ende memiliki 295 rumah terverifikasi dengan satu rumah rusak berat.
Media yang mengutip data BNPB merangkum kondisi perumahan sebagai berikut:
- Total sasaran awal: 102.384 rumah.
- Total rumah terverifikasi: 51.591 unit atau 50,39 persen.
- Kerusakan: 2.382 rusak berat, 7.276 rusak sedang, 14.177 rusak ringan.
- Tidak rusak: 27.756 unit.
Data menjadi dasar bantuan pemulihan
BNPB menyatakan proses verifikasi dan validasi atau verivali masih berlangsung sehingga angka kerusakan rumah dapat berubah seiring pemutakhiran data.
Proses verifikasi mencakup pencocokan nama dan alamat, pembersihan data ganda, serta pemeriksaan lapangan atas laporan tambahan dari pemerintah daerah.
BNPB menjelaskan bahwa hasil verifikasi digunakan sebagai bahan penyusunan Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) dan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Sejumlah laporan menyebut BNPB menurunkan tim pendamping ke pemerintah daerah untuk membantu penyusunan dokumen kebutuhan dan rencana pemulihan hunian.
Data kerusakan rumah yang telah tervalidasi menjadi dasar perencanaan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi bagi warga terdampak.
Aktivitas gempa susulan masih tinggi
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas gempa susulan pascagempa utama magnitudo 7,7 di Flores masih tinggi hingga awal September 2026.
Menurut pembaruan BMKG yang dikutip sejumlah media, sampai Rabu, 9 September 2026 pukul 05.00 WIB, tercatat 13.863 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 0,9.
BMKG memperkirakan gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama, dan mengimbau warga tidak menempati kembali bangunan terdampak sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Sumber
Berita berikutnya
KRI Semarang-594 Bawa 25 Truk Bantuan Gempa NTT ke Labuan Bajo
KRI Semarang-594 kembali mengangkut 25 truk bantuan dari Jakarta menuju Labuan Bajo untuk masyarakat terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur. Muatan…

