Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

BMKG Prediksi Curah Hujan Rendah di NTT Hingga Awal Oktober 2026

BMKG memprakirakan curah hujan di Nusa Tenggara Timur berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian, sepanjang dasarian II September hingga dasarian I Oktober 2026, dengan dominasi hujan kurang dari 50…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan curah hujan di Nusa Tenggara Timur berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian, pada periode dasarian II September hingga dasarian I Oktober 2026.

Dalam analisis dinamika atmosfer dasarian I September 2026, BMKG menyebut curah hujan pada periode tersebut umumnya berada pada kriteria rendah hingga menengah. Nusa Tenggara Timur tercantum sebagai salah satu wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, pada dasarian II September 2026.

Dasarian II berlangsung pada 11–20 September, dasarian III pada 21–30 September, sedangkan dasarian I Oktober mencakup 1–10 Oktober. Pembagian periode ini membantu pengelola destinasi dan pelaku perjalanan membaca prakiraan secara lebih rinci dibandingkan gambaran cuaca bulanan.

Curah hujan dan musim kemarau

Menurut analisis BMKG untuk dasarian I September 2026, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 zona musim sedang mengalami musim kemarau. Pada periode yang sama, curah hujan nasional didominasi kategori rendah, sementara sifat hujan sebagian besar berada di bawah normal.

Pada dasarian I hingga III September 2026, BMKG memprakirakan curah hujan di Indonesia umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, 0–150 milimeter per dasarian, dengan curah hujan kategori rendah mendominasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua. Nusa Tenggara Timur termasuk dalam kelompok wilayah dengan dominasi curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian sepanjang September.

Selain itu, dalam analisis dinamika atmosfer Agustus 2026, BMKG menyebut peluang tinggi curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada September 2026 di Nusa Tenggara Timur, bersama sejumlah provinsi lain di selatan Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Peringatan dini kekeringan di NTT

BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian I September 2026 dengan tiga kategori: Waspada, Siaga, dan Awas. Peringatan ini mencakup beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur dalam setiap kategori tersebut.

Dalam ulasan mengenai dampak El Nino, BMKG melalui laporan yang dikutip media nasional menyebut sejumlah kecamatan di 22 kabupaten dan kota di NTT berada dalam ancaman kekeringan meteorologis, dengan sebagian berstatus awas. Klasifikasi Waspada, Siaga, dan Awas ditetapkan berdasarkan durasi hari tanpa hujan dan probabilitas curah hujan rendah.

Bagi wilayah yang bergantung pada sektor pariwisata, kondisi kemarau dan curah hujan rendah mengindikasikan perlunya perhatian pada ketersediaan air dan potensi kebakaran lahan, tanpa mengabaikan kemungkinan hujan lokal yang tetap diprakirakan pada beberapa titik.

Implikasi bagi perjalanan wisata

Prakiraan yang disusun BMKG berada pada skala nasional dan provinsi, sehingga tidak menggambarkan secara rinci kondisi di Labuan Bajo, Pulau Komodo, Rinca, maupun destinasi spesifik lain di Nusa Tenggara Timur. Informasi mengenai hujan lokal, angin kencang, gelombang, dan kondisi jalur perjalanan laut maupun darat perlu diperoleh dari prakiraan cuaca harian dan peringatan operasional yang lebih terperinci.

Wisatawan dan operator perjalanan dapat menggunakan prakiraan curah hujan rendah sebagai salah satu dasar perencanaan kegiatan luar ruang, transportasi, dan pengelolaan kebutuhan air. Namun, prakiraan dasarian tidak dapat dijadikan jaminan bahwa seluruh kawasan wisata akan cerah atau bebas gangguan cuaca pada waktu tertentu.

BMKG menekankan perlunya kewaspadaan terhadap hujan lokal dan angin kencang di sejumlah wilayah meski atmosfer secara umum kering, terutama dalam periode 4–21 September 2026. Penilaian aktual di lapangan dan pemantauan berkala terhadap pembaruan cuaca tetap diperlukan, terutama untuk pelayaran antarpulau, kegiatan laut, pendakian, dan kunjungan ke kawasan terbuka di Nusa Tenggara Timur.

Konteks iklim: ENSO dan IOD

Analisis BMKG menunjukkan indeks El Nino (ENSO) pada region Nino3.4 secara dasarian untuk September 2026 berada di kisaran +2,6 hingga +2,76, yang dikategorikan sebagai El Nino dengan intensitas sangat kuat. Dalam periode yang sama, indeks Dipole Mode Samudra Hindia (IOD) tercatat sekitar +0,394, naik dari sekitar +0,376 pada Agustus.

Menurut BMKG, kombinasi El Nino kuat dan IOD positif mendukung kondisi kering di banyak wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, dan berkontribusi pada dominasi curah hujan kategori rendah serta peningkatan risiko kekeringan meteorologis.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.