BMKG Ingatkan Potensi Gelombang Naik Lebih dari 2 Meter di NTT
BMKG mengingatkan nelayan dan pelaku wisata bahari di Manggarai Barat untuk mewaspadai awan cumulonimbus yang dapat memicu angin kencang, hujan lebat, petir, dan kenaikan gelombang secara tiba-tiba di perairan sekitar Labuan Bajo dan Selat…
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan nelayan, nakhoda, dan pelaku wisata bahari di Kabupaten Manggarai Barat agar mewaspadai pertumbuhan awan cumulonimbus yang dapat memicu angin kencang, hujan lebat, petir, dan kenaikan gelombang secara tiba-tiba di perairan sekitar Labuan Bajo dan Selat Sape.
Peringatan ini terutama relevan bagi kapal kecil dan kapal wisata yang beroperasi di perairan terbuka. Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Patricia Christin Seran, angin kencang berdurasi singkat dapat muncul sebelum atau saat terjadi hujan petir, dan fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan awan cumulonimbus yang membangkitkan gelombang di laut.
Risiko awan cumulonimbus di laut
Awan cumulonimbus merupakan awan menjulang berbentuk seperti bunga kol dan berwarna gelap. BMKG menjelaskan bahwa awan ini adalah awan hujan yang sering disertai angin kencang dan badai guntur. Dasar awan cumulonimbus berada relatif rendah, sementara puncaknya dapat menjulang tinggi sehingga memengaruhi kondisi angin di lapisan bawah atmosfer.
Keberadaan awan cumulonimbus di atas perairan dapat menimbulkan perubahan arah dan kecepatan angin secara signifikan dalam waktu singkat. Perubahan ini berpotensi meningkatkan gelombang secara lokal, menurunkan jarak pandang akibat hujan lebat, serta menambah risiko bagi kapal kecil dan kapal wisata yang berada di jalur pelayaran.
BMKG juga mengaitkan awan cumulonimbus dengan potensi gelombang kategori sedang di sejumlah perairan Nusa Tenggara Timur. Gelombang dengan ketinggian sekitar 1,25 hingga 2,5 meter diprakirakan terjadi di Selat Sape bagian selatan, perairan selatan Flores, Selat Flores–Lamakera, serta beberapa perairan lain di NTT pada periode prakiraan tertentu.
Prakiraan gelombang dan angin di NTT
Dalam beberapa peringatan dini pada November 2025, BMKG menyebut potensi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan NTT, termasuk Selat Sape bagian selatan dan perairan selatan Flores. Gelombang pada kisaran tersebut dikategorikan sebagai gelombang sedang dan dapat berdampak pada aktivitas pelayaran, terutama kapal berukuran kecil.
BMKG juga menekankan pentingnya mewaspadai kecepatan angin di laut. Pengguna perahu nelayan diminta waspada ketika kecepatan angin mencapai sekitar 15 knot dan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter, sementara operator kapal tongkang diminta waspada pada kecepatan angin sekitar 16 knot dan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter. Ambang ini digunakan sebagai panduan praktis untuk menilai risiko operasional di laut.
Selain itu, prakiraan gelombang kategori sedang dengan ketinggian lebih dari 1,25 hingga 2,5 meter juga disampaikan BMKG untuk beberapa periode lain di tahun yang sama, yang mencakup perairan Selat Sape bagian utara dan selatan, perairan Flores, serta perairan di sekitar Taman Nasional Komodo.
Langkah keselamatan bagi operator wisata
BMKG mengimbau nelayan dan operator wisata bahari agar menunda keberangkatan apabila terlihat awan gelap yang menjulang di sekitar jalur pelayaran. Keputusan berlayar perlu mengacu pada informasi resmi BMKG, baik melalui layanan maritim maupun peringatan dini, serta mempertimbangkan kondisi aktual di pelabuhan dan perairan sekitar.
Kapal yang sudah berada di perairan disarankan segera mencari perlindungan di pulau terdekat atau teluk yang lebih terlindung jika terjadi hujan lebat, petir, atau angin kencang yang berkaitan dengan awan cumulonimbus. Kapal sebaiknya menunggu hingga cuaca membaik sebelum melanjutkan perjalanan, sambil terus memantau pembaruan cuaca dari BMKG.
Informasi mengenai tinggi gelombang dan kecepatan angin perlu dikombinasikan dengan penilaian keselamatan awak kapal atas kapasitas kapal, rute yang ditempuh, serta kondisi pelabuhan. Karena cuaca laut dapat berubah dalam waktu singkat, pemeriksaan informasi sebelum keberangkatan dan pemantauan selama pelayaran menjadi bagian penting dari prosedur keselamatan.
Faktor lain yang memengaruhi pelayaran
BMKG juga pernah menjelaskan bahwa penguatan monsun Australia dapat meningkatkan risiko cuaca ekstrem di perairan Labuan Bajo dan kawasan selatan Taman Nasional Komodo. Penguatan angin tenggara dapat memperkuat arus permukaan dan meningkatkan tinggi gelombang, terutama di perairan semi terbuka seperti Selat Sape dan perairan selatan Pulau Padar.
Selain angin dan gelombang, BMKG mengingatkan potensi gangguan dari abu vulkanik akibat aktivitas gunung api di Nusa Tenggara Timur. Partikel abu di atmosfer dapat mengurangi jarak pandang, mengganggu pernapasan awak kapal, serta memengaruhi kinerja sistem penyaring dan mesin kapal bila terhirup atau masuk ke sistem ventilasi.
Dalam konteks perairan Manggarai Barat, kombinasi antara gelombang sedang, angin kencang berdurasi singkat akibat awan cumulonimbus, serta potensi gangguan vulkanik menjadikan pemantauan informasi cuaca maritim BMKG sebagai bagian penting dari perencanaan perjalanan laut, terutama bagi operator wisata di Labuan Bajo dan sekitarnya.
Sumber
Berita berikutnya
BI Gelar Bootcamp UMKM Pariwisata untuk Wae Lolos dan Golo Loni
Bank Indonesia Perwakilan NTT menyelenggarakan Bootcamp UMKM Sektor Pariwisata sebagai bagian dari penguatan kapasitas pelaku usaha dan pengelola desa…
Baca juga




