BMKG Ingatkan Gelombang hingga 3,5 Meter di Perairan NTT
BMKG Maritim Tenau Kupang memprakirakan gelombang hingga sekitar 3,5 meter di sebagian Selat Sumba dan perairan selatan Sumba pada 8–9 September 2026.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — BMKG Maritim Tenau Kupang mengingatkan nelayan, pengguna transportasi laut, dan masyarakat pesisir mengenai potensi gelombang tinggi hingga sekitar 3,5 meter di sebagian Selat Sumba bagian barat serta perairan selatan Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 8 September 2026 hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 08.00 WITA.
Menurut informasi BMKG yang diberitakan RRI Ende, prakiraan cuaca maritim tersebut berlaku mulai Selasa, 8 September 2026 pukul 08.00 WITA sampai Rabu, 9 September 2026 pukul 08.00 WITA. Peringatan ini ditujukan untuk mengantisipasi risiko terhadap perahu nelayan dan kapal penyeberangan yang beraktivitas di perairan Nusa Tenggara Timur.
Wilayah perairan Flores yang terdampak
RRI Ende melaporkan bahwa gelombang kategori sedang dengan ketinggian sekitar 1,5–2,5 meter berpotensi terjadi di sebagian Selat Flores, Selat Pantar, dan perairan selatan Flores. Kondisi serupa juga diprakirakan di perairan selatan Alor-Pantar, Laut Sawu, dan Selat Ombai.
Dalam prakiraan yang sama, BMKG Maritim Tenau juga menyebut sebagian perairan utara Timor, Selat Raijua, sebagian perairan utara Kupang–Rote, serta perairan selatan Timor–Rote sebagai wilayah yang berpotensi mengalami gelombang kategori sedang hingga tinggi.
Berdasarkan rincian tersebut, perairan yang berkaitan langsung dengan Flores dalam peringatan BMKG adalah sebagian Selat Flores dan perairan selatan Flores dengan kategori gelombang sedang. Laporan RRI Ende tidak menyebut seluruh Selat Flores atau seluruh perairan di sekitar Pulau Flores mengalami gelombang dengan ketinggian yang sama.
Data penting prakiraan BMKG Maritim Tenau
RRI Ende merangkum sejumlah poin utama dari prakiraan cuaca maritim BMKG Maritim Tenau untuk periode 8–9 September 2026:
- Masa berlaku: Selasa, 8 September 2026 pukul 08.00 WITA hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 08.00 WITA.
- Gelombang tinggi: sekitar 2,5–3,5 meter di sebagian Selat Sumba bagian barat dan perairan selatan Sumba.
- Gelombang sedang: sekitar 1,5–2,5 meter di sebagian Selat Flores, Selat Pantar, perairan selatan Flores, perairan selatan Alor–Pantar, Laut Sawu, dan Selat Ombai.
Selain itu, prakiraan nasional BMKG yang dikutip RRI Jakarta menyebut potensi gelombang 2,5–4 meter di Samudra Hindia selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pada periode 8–11 September 2026. Sejumlah wilayah lain, termasuk Laut Flores, diprakirakan mengalami gelombang sedang 1,25–2,5 meter.
Ambang risiko bagi kapal
Dalam keterangan pers BMKG yang diberitakan RRI Jakarta, Pelaksana Tugas Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra menjelaskan ambang batas aman keselamatan untuk berbagai moda transportasi laut. Ia menyatakan nelayan dengan perahu kecil berisiko tinggi jika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter.
Untuk kapal tongkang, kondisi mulai berisiko ketika kecepatan angin melampaui 16 knot dan tinggi gelombang mencapai lebih dari 1,5 meter. Kapal feri penyeberangan perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kecepatan angin di atas 21 knot dan tinggi gelombang mencapai sekitar 2,5 meter. Adapun kapal kargo dan kapal pesiar menghadapi risiko apabila kecepatan angin melebihi 27 knot dengan tinggi gelombang mencapai sekitar 4 meter.
BMKG menekankan bahwa kondisi gelombang tinggi pada 8–11 September 2026 dipicu oleh angin kencang yang dapat mencapai sekitar 25 knot di sejumlah perairan Indonesia. Dalam konteks NTT, prakiraan lokal BMKG Maritim Tenau menempatkan gelombang sekitar 2,5–3,5 meter di sebagian Selat Sumba bagian barat dan perairan selatan Sumba, yang berisiko bagi kapal feri dan kapal lain yang melintas di wilayah tersebut.
Langkah keselamatan sebelum berlayar
BMKG meminta nelayan, operator kapal penyeberangan, dan masyarakat pesisir memantau perkembangan cuaca maritim sebelum beraktivitas di laut. Peringatan resmi BMKG perlu menjadi rujukan dalam mempertimbangkan apakah pelayaran dilanjutkan, ditunda, atau memerlukan penyesuaian rute sesuai kondisi setempat.
Untuk perahu kecil, BMKG mengingatkan agar tidak memaksakan pelayaran ketika angin dan gelombang melampaui ambang yang disebut dalam keterangan resmi. Operator kapal penyeberangan dan kapal tongkang diminta mencocokkan kondisi aktual dengan batas keselamatan kapalnya dan mengikuti ketentuan keselamatan pelayaran serta arahan otoritas berwenang.
Prakiraan 8–9 September 2026 yang dikeluarkan BMKG Maritim Tenau telah berakhir, sehingga pelaku pelayaran pada tanggal-tanggal berikutnya perlu merujuk pada pembaruan prakiraan maritim terbaru. Informasi tinggi gelombang terbaru untuk perairan NTT secara berkala disiarkan oleh BMKG dan media lokal, antara lain melalui pembaruan yang berlaku hingga 20 September 2026.
Konteks regional
Prakiraan lokal BMKG Maritim Tenau pada 8 September 2026 membedakan gelombang sedang di sejumlah perairan NTT, termasuk sebagian wilayah Flores, dari gelombang tinggi di sebagian Selat Sumba dan perairan selatan Sumba. Pada hari yang sama, BMKG melalui keterangan yang dikutip RRI Jakarta menyampaikan imbauan yang lebih luas untuk periode 8–11 September 2026 dengan potensi gelombang hingga sekitar 4 meter di sejumlah perairan Indonesia, termasuk Samudra Hindia selatan NTT.
Kedua informasi tersebut menunjukkan bahwa risiko di laut tidak hanya bergantung pada tinggi gelombang, tetapi juga kecepatan angin dan jenis kapal yang beroperasi. Oleh karena itu, pembaruan cuaca maritim dan kedisiplinan mematuhi ambang keselamatan menjadi bagian penting dalam perencanaan pelayaran di perairan Flores dan NTT secara umum.
Sumber
Berita berikutnya

Api Lahan di Barat Bandara Frans Seda Padam Sekitar 1,5 Jam
Kebakaran lahan kebun dan vegetasi kering di sisi barat pesisir Bandara Frans Seda, Maumere, terjadi Selasa, 8 September 2026 siang.
Baca juga




