Kabar Labuan Bajo

Sabtu, 17 Oktober 2026

BI Dorong Pariwisata Budaya dan Hilirisasi Komoditas Flores

BI NTT mendorong promosi wisata yang mengangkat budaya lokal serta pengolahan rumput laut, kelapa, dan garam. Ekonomi NTT 2026–2027 diproyeksikan tumbuh 3,9 hingga 5,9 persen.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah tangan memegang segenggam kristal garam putih di luar ruangan.
Ilustrasi: Sebuah tangan memegang segenggam kristal garam putih di luar ruangan. · Foto: Menna Elshamy / Pexels

Labuan Bajo — Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Oktober 2026 mendorong penguatan pariwisata berbasis budaya serta hilirisasi rumput laut, kelapa, dan garam untuk memperluas dampak ekonomi di NTT, termasuk Labuan Bajo dan kawasan Flores.

Ekonom Yunior BI Provinsi NTT Ahmad Akhirul Fatoni menyebut potensi pariwisata NTT tidak hanya bertumpu pada keindahan alam. Narasi promosi juga perlu mengangkat budaya, tradisi, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat. Wilayah potensial yang disebut mencakup Labuan Bajo, Flores, Alor, Timor, dan Sumba.

BI juga menyoroti pengolahan komoditas unggulan agar tidak berhenti sebagai bahan mentah. Rumput laut dapat diarahkan menjadi bahan baku industri makanan dan kosmetik, sedangkan kelapa dan garam dapat dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah. Langkah itu dinilai dapat membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam paparan BI, proyeksi pertumbuhan ekonomi NTT pada 2026–2027 berada pada kisaran 3,9 hingga 5,9 persen. Angka tersebut menjadi konteks bagi upaya memperluas sumber pertumbuhan melalui pariwisata, industri pengolahan, akses pasar, dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Pariwisata budaya dan produk lokal menentukan manfaat bagi Labuan Bajo

Bagi pembaca di Labuan Bajo, arah kebijakan ini berkaitan dengan rantai usaha sehari-hari. Penguatan cerita budaya dapat memberi ruang lebih besar bagi pelaku seni, desa wisata, kuliner, kerajinan, dan usaha berbasis tradisi lokal. Hilirisasi komoditas juga dapat menghubungkan produksi masyarakat dengan kebutuhan hotel, restoran, perdagangan, dan industri pengolahan.

Media Indonesia melaporkan tantangan yang masih dihadapi NTT meliputi keterbatasan industri pengolahan, konektivitas antardaerah, dan akses pasar. Karena itu, promosi destinasi saja belum cukup. Manfaat kunjungan wisata perlu dihubungkan dengan produk lokal dan usaha masyarakat di sekitar kawasan wisata.

RRI melaporkan bahwa BI menyebut potensi pariwisata tersebar dari Labuan Bajo hingga Flores, Alor, Timor, dan Sumba. Pengembangan komoditas rumput laut, kelapa, dan garam menjadi produk bernilai tambah ditempatkan sebagai bagian dari sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.