ASITA NTT Dorong Dukungan Pemerintah untuk Perkuat Pariwisata
ASITA NTT menilai mahalnya tiket pesawat domestik dan minimnya kegiatan di daerah menghambat pergerakan wisatawan. Asosiasi itu mendorong pemerintah memperkuat dukungan bagi pelaku pariwisata, termasuk di Labuan Bajo.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Kupang — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur meminta pemerintah memberikan dukungan yang lebih terarah untuk menggerakkan pariwisata daerah, termasuk Labuan Bajo. Ketua DPD ASITA NTT Oyan Kristian menyoroti mahalnya harga tiket pesawat domestik dan pentingnya kegiatan pemerintah di daerah sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan wisatawan.
Dalam sejumlah pernyataannya, Oyan menyebut harga tiket pesawat dalam negeri yang tinggi menjadi salah satu penghambat utama pergerakan wisatawan domestik. Menurut dia, kondisi ini menyulitkan pelaku usaha perjalanan dalam memasarkan paket wisata ke berbagai destinasi di NTT, termasuk Labuan Bajo.
Dalam rapat kerja nasional ASITA di Jakarta pada Juni 2025, Oyan menjelaskan bahwa tiket pesawat domestik cenderung lebih mahal dibandingkan tiket ke luar negeri. Ia menilai pemerintah perlu turun tangan mengatasi ketimpangan tersebut agar pariwisata di daerah dapat berkembang.
Oyan juga menyoroti pola kunjungan ke Labuan Bajo yang cenderung ramai pada musim panas, khususnya bulan Juni hingga Agustus. Di luar periode itu, terutama saat permintaan pasar melemah, pelaku usaha dinilai membutuhkan dukungan tambahan untuk menggerakkan pasar domestik.
Dukungan yang Diminta untuk Labuan Bajo
ASITA NTT memandang Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi utama NTT yang belum sepenuhnya mandiri dalam mendatangkan wisatawan. Menurut Oyan, pelaku usaha di Labuan Bajo masih sangat bergantung pada kebijakan dan kegiatan yang digelar pemerintah.
Oyan mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata, antara lain melalui penyelenggaraan kegiatan yang dapat menarik kunjungan, seperti forum bisnis, festival, dan agenda rapat atau koordinasi sektoral di Labuan Bajo.
ASITA NTT juga menyiapkan inisiatif berupa Komodo Travel Mart ke-6 yang direncanakan digelar di Labuan Bajo pada akhir September atau awal Oktober 2025. Oyan menjelaskan, kegiatan business to business ini ditujukan untuk mempertemukan pelaku usaha lokal dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri serta memperkuat pemasaran destinasi.
Menurut Oyan, dukungan pemerintah terhadap ajang seperti Komodo Travel Mart dan kegiatan pariwisata lain di Labuan Bajo dapat membantu memutar ekonomi pelaku usaha lokal, mulai dari agen perjalanan, pemilik kapal wisata, hingga pengelola akomodasi.
Akses Transportasi dan Kebijakan Pemerintah
Dari sisi akses, ASITA NTT menilai kebijakan yang dapat menekan biaya perjalanan berpotensi besar membantu destinasi di NTT. Harga tiket pesawat domestik yang lebih terjangkau dinilai dapat meningkatkan minat perjalanan wisatawan dalam negeri.
Selain penerbangan, ASITA NTT juga mendorong perbaikan konektivitas antardestinasi di NTT. Dalam sejumlah rekomendasi, asosiasi itu mengusulkan penguatan layanan penyeberangan antarpulau dan pengembangan rute transportasi yang menghubungkan Labuan Bajo dengan destinasi lain di Flores dan sekitarnya.
Di Labuan Bajo, kebijakan pemerintah terkait keselamatan dan pengaturan aktivitas wisata juga menjadi perhatian pelaku usaha. Penutupan total pelayaran kapal wisata akibat cuaca buruk pada akhir 2025 hingga awal 2026, misalnya, disebut menekan pariwisata setempat dan memicu banyak permintaan pengembalian dana dari wisatawan.
Dalam situasi tersebut, ASITA NTT meminta otoritas pelabuhan menerapkan pola buka-tutup pelayaran secara parsial berdasarkan pertimbangan cuaca, sehingga akses ke lokasi yang dinilai aman tetap tersedia. Oyan menilai pendekatan semacam itu dapat menjaga keselamatan wisatawan sekaligus mengurangi kerugian pelaku usaha.
Ketergantungan dan Strategi Pasar
Pernyataan ASITA NTT menunjukkan bahwa pelaku usaha memandang pemulihan dan penguatan pariwisata tidak hanya bergantung pada promosi destinasi. Akses transportasi yang terjangkau, kepastian kegiatan, dan arus kunjungan dianggap sama penting bagi keberlangsungan usaha.
Di Labuan Bajo dan wilayah NTT lainnya, kalender kunjungan wisatawan Eropa yang umumnya memuncak pada pertengahan tahun membuat pasar domestik menjadi tumpuan penting di luar musim tersebut. Karena itu, pelaku usaha mendorong kebijakan yang dapat mempermudah perjalanan wisatawan dalam negeri serta memperkuat penyelenggaraan kegiatan di daerah.
ASITA NTT menilai, dukungan pemerintah yang efektif perlu diwujudkan dalam program konkret yang dapat dipantau, seperti target kegiatan pariwisata, perkembangan jumlah kunjungan, tingkat hunian akomodasi, dan dampak terhadap usaha lokal. Kolaborasi antara pemerintah dan industri dipandang penting untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
Sumber
- Detik Bali Nusra - "Asita Soroti Harga Tiket Domestik Mahal, Minta Pemerintah Turun Tangan"
- Labuanbajoflores.id - "BPOLBF Dukung Muscab II ASITA Manggarai Barat, Perkuat Sinergi Tata Kelola Pariwisata yang Inklusif dan Berkelanjutan"
- Media Indonesia - "Penutupan Pelayaran Tekan Pariwisata Labuan Bajo, Pelaku Usaha Merugi Imbas Banyaknya Refund"
Berita berikutnya

BPOLBF Kembangkan Pola Perjalanan Wisata Ziarah Katolik Flores
BPOLBF bersama keuskupan dan pemerintah daerah menyusun pola perjalanan wisata ziarah Katolik di Pulau Flores dan menggelar forum bisnis untuk menghub…
Baca juga




