Apakah Komodo Beracun? Ini Penjelasan tentang Bisa dan Gigitannya
Komodo bukan hewan beracun dalam arti membahayakan jika dimakan, melainkan reptil berbisa. Penelitian 2009 menemukan kelenjar bisa yang memperparah luka gigitan dan dapat memicu perdarahan serta syok.
Oleh Asyinta Sastra
· 2 menit baca
Ya. Komodo berbisa, bukan beracun dalam pengertian hewan yang membahayakan saat dimakan. Penelitian yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2009 menemukan kelenjar bisa di rahang bawah komodo. Bisa itu memperparah luka gigitan dengan menghambat pembekuan darah dan menurunkan tekanan darah.
Apakah komodo berbisa atau beracun?
Istilah yang tepat adalah berbisa. Bisa disalurkan melalui gigitan, sedangkan “beracun” biasanya merujuk pada zat yang membahayakan bila tertelan atau tersentuh. Karena itu, pertanyaan “apakah komodo beracun” perlu dijawab dengan pembedaan istilah tersebut.
Studi Bryan G. Fry dan 27 peneliti lain yang terbit pada 2009 menyimpulkan komodo memiliki perangkat berburu gabungan: gigi bergerigi yang menimbulkan luka dalam dan bisa yang memperkuat dampak luka. Penelitian itu diterbitkan dalam PNAS, menurut PubMed, 2009.
Bagaimana bisa komodo bekerja?
Analisis dalam penelitian tersebut menunjukkan aktivitas bisa mencakup antikoagulasi dan pemicu syok. Artinya, bisa mengganggu pembekuan darah dan membantu menurunkan tekanan darah pada mangsa, menurut PubMed, 2009.
Temuan itu juga menolak anggapan lama bahwa mangsa terutama mati karena bakteri beracun di mulut komodo. Penelitian PNAS menjelaskan bahwa efek luka dalam diperkuat oleh bisa, bukan semata-mata oleh infeksi bakteri, menurut PNAS, 2009.
Apakah gigitan komodo berbahaya bagi manusia?
Ya. Bahayanya berasal dari gabungan luka sobek akibat gigi dan efek bisa terhadap perdarahan serta tekanan darah. Literatur medis tentang gigitan komodo pada manusia masih terbatas; sebuah laporan dalam Wilderness & Environmental Medicine menyebut pencarian literaturnya tidak menemukan laporan kasus manusia yang terdokumentasi dalam PubMed, menurut Borek dan Charlton, 2015.
Keterbatasan laporan medis tidak berarti gigitan itu ringan. Penelitian ilmiah tentang komodo membuktikan keberadaan kelenjar dan senyawa bisa, sementara luka mekanis tetap menjadi bagian penting dari risiko gigitan.
Apa artinya bagi wisatawan di Taman Nasional Komodo?
Komodo di kawasan Labuan Bajo dan pulau-pulau Taman Nasional Komodo adalah satwa liar, bukan hewan yang dapat didekati seperti satwa peliharaan. Bagi keselamatan pelayaran dan kunjungan wisata, fakta biologis ini berarti interaksi langsung—terutama mendekatkan tangan atau tubuh ke komodo—memiliki risiko gigitan.
Kesimpulannya, komodo tidak “beracun” karena memakan atau menyentuhnya, tetapi komodo adalah hewan berbisa yang gigitannya dapat menyebabkan luka serius dan gangguan perdarahan. Jawaban singkat itu tidak mengubah kewajiban mengikuti pengaturan petugas di dalam kawasan konservasi.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Flores Raya
Berapa Wisatawan Labuan Bajo pada 2025 dan ke Mana Mereka Pergi?
Labuan Bajo menerima 500.008 kunjungan wisatawan pada 2025. Namun, 82 persen masih terkonsentrasi di Taman Nasional Komodo, sehingga angka kedatangan…
Paling ramai di Pariwisata & TN Komodo

Berita utama hari ini

Baca juga





