Kabar Labuan Bajo

Minggu, 11 Oktober 2026

Mengapa Relasi Filsafat dan Kekuasaan Penting bagi Flores

Esai Floresa menelaah posisi Rocky Gerung setelah masuk Wantimpres, serta menguji tanggung jawab etis, independensi, dan sikap kritis seorang filsuf di lingkar kekuasaan.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sepasang kacamata antik tergeletak di atas buku tua yang terbuka.
Ilustrasi: Sepasang kacamata antik tergeletak di atas buku tua yang terbuka. · Foto: Tanpa nama / rawpixel (Openverse), CC0

Labuan Bajo — Esai Floresa pada 8 Oktober 2026 membahas hubungan filsafat, kekuasaan, dan posisi Rocky Gerung setelah ia dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Tulisan ini menempatkan perpindahan Rocky dari luar ke dalam pemerintahan sebagai persoalan etis dan politik. Rocky menyatakan bahwa sikap kritis serta gagasan radical break tetap dipertahankan. Dalam penjelasan yang dikutip, perubahan posisi itu tidak dimaksudkan sebagai kompromi terhadap pandangan yang selama ini ia sampaikan.

Esai tersebut mengangkat pertanyaan tentang hubungan kekuasaan dan kebenaran. Dengan merujuk pada gagasan Plato, tulisan itu menekankan bahwa kekuasaan politik semestinya tunduk pada kebenaran dan prinsip kesejahteraan umum. Karena itu, seorang filsuf yang masuk ke lingkar kekuasaan tidak cukup hanya membenarkan kebijakan pemerintah.

Mengapa peran Rocky penting bagi pembaca Flores

Bagi pembaca di Flores, isu ini relevan sebagai bahan membaca hubungan antara gagasan publik dan keputusan politik. Tulisan Floresa tidak melaporkan kebijakan baru untuk Labuan Bajo atau wilayah Flores, melainkan menawarkan analisis mengenai standar etis seorang penasihat presiden.

Esai itu menilai tugas tersebut seharusnya mencakup pertanggungjawaban rasional, empiris, dan etis atas kebijakan. Filsafat memberi orientasi etis, ilmu pengetahuan dan keahlian menyediakan dasar empiris, sedangkan politik menerjemahkan keduanya menjadi kebijakan dengan legitimasi demokratis.

Laporan Suara.com dan Merdeka.com memperkuat konteks peristiwa: Rocky dilantik sebagai anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026 dan menyebut dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam pemerintahan. Ia juga menjelaskan bahwa dewan memberikan pertimbangan kepada Presiden, sementara penetapan keputusan tetap berada pada Presiden.

Dengan demikian, pertanyaan utama yang tersisa bukan sekadar apakah seorang pengkritik boleh masuk ke pemerintahan, tetapi bagaimana ia menjaga independensi, kepekaan etis, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat ketika menjalankan fungsi penasihat.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Paling ramai di Analisis

  2. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.