Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

8,98 Juta Wisman ke Indonesia, Apa Artinya bagi Labuan Bajo?

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tembus 8,98 juta hingga Juli 2026, tertinggi sejak pandemi.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 8,98 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026, tertinggi sejak pandemi Covid-19. Data ini menunjukkan pemulihan pariwisata nasional, sementara laporan otorita pariwisata setempat mengindikasikan aktivitas wisata di Labuan Bajo kembali berjalan normal pascagempa Flores, tetapi belum cukup untuk mengukur pemulihan ekonomi daerah secara menyeluruh.

BPS melalui berbagai publikasi yang dikutip sejumlah media nasional menyebut total kunjungan wisman Januari–Juli 2026 mencapai sekitar 8,98 juta. Kunjungan pada Juli 2026 sendiri berada di kisaran 1,52–1,53 juta, naik sekitar 9,99 persen dibandingkan Juni dan 2,95 persen secara tahunan menurut penjelasan Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.

Media seperti CNN Indonesia, Katadata, dan sejumlah portal ekonomi merujuk data BPS yang menyebut lonjakan kunjungan banyak didorong pasar Malaysia, Australia, dan Tiongkok. Pada Juli 2026, pemegang paspor Malaysia tercatat sebagai kontributor terbesar kunjungan wisman dengan porsi sekitar 15 persen, disusul Australia dan Tiongkok.

Bagi Labuan Bajo dan Kabupaten Manggarai Barat, angka nasional tersebut menjadi konteks peluang pasar dan pemulihan konektivitas. Namun, data BPS yang dipublikasikan hingga awal September 2026 masih berupa agregat nasional sehingga belum dapat digunakan untuk menyimpulkan kinerja pariwisata Manggarai Barat tanpa data rinci kunjungan, lama tinggal, dan belanja wisatawan di daerah.

Aktivitas wisata Labuan Bajo pascagempa

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan Kementerian Pariwisata melaporkan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo kembali berjalan normal setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Dalam rilis resmi BPOLBF pada 17 Agustus 2026, otorita menyebut pemantauan dilakukan bersama pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku usaha pariwisata, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo, pengelola bandara, dan pemangku kepentingan lain.

Menurut BPOLBF, berdasarkan pembaruan data per 16 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA, aktivitas pariwisata di Labuan Bajo berjalan normal, lancar, dan kondusif, termasuk di Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Pada hari yang sama, KSOP Kelas III Labuan Bajo mencatat 308 kapal wisata berangkat dengan 3.651 penumpang, terdiri atas 2.840 wisatawan mancanegara dan 811 wisatawan nusantara.

Rilis BPOLBF juga menyatakan akses menuju Taman Nasional Komodo kembali dibuka setelah KSOP Labuan Bajo mengizinkan pelayaran. Seluruh wisatawan yang sempat berada di perairan dilaporkan telah kembali ke Labuan Bajo dan beraktivitas normal di kawasan waterfront marina.

BPOLBF menegaskan proses pendataan destinasi di wilayah Floratama masih berlanjut selama masa tanggap darurat hingga 28 Agustus 2026. Pendataan dilakukan untuk memetakan dampak kebencanaan terhadap destinasi dan fasilitas pariwisata, sekaligus memastikan keselamatan wisatawan.

Peluang pemulihan dan keterbatasan data daerah

Kenaikan kunjungan wisman nasional dan normalisasi aktivitas wisata di Labuan Bajo menunjukkan adanya peluang pemulihan bagi sektor pariwisata Manggarai Barat. Arus kapal wisata dan keberoperasian kembali akses menuju Taman Nasional Komodo menjadi indikator bahwa layanan wisata utama telah kembali berjalan.

Namun, hingga pertengahan September 2026, publikasi resmi yang tersedia masih berfokus pada data nasional dan gambaran umum situasi pascagempa. Rilis BPOLBF belum memuat angka kumulatif kunjungan wisman ke Manggarai Barat, rata-rata lama tinggal, okupansi hotel di Labuan Bajo, maupun estimasi kontribusi ekonomi wisatawan terhadap pelaku usaha lokal.

Tanpa data rinci tersebut, lonjakan penumpang kapal wisata pada 16 Agustus 2026 belum dapat dibaca sebagai pemulihan berkelanjutan. Pengukuran yang lebih kuat memerlukan deret waktu data kunjungan dan okupansi hotel di tingkat daerah, perbandingan dengan 2025, serta informasi mengenai belanja wisatawan dan pola perjalanan wisatawan nusantara.

Bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah, indikator nasional dari BPS serta laporan situasi dari BPOLBF dapat digunakan sebagai dasar untuk memetakan peluang pasar, menyiapkan kapasitas layanan, dan menguatkan konektivitas udara maupun laut ke Labuan Bajo. Namun penilaian pemulihan penuh tetap bergantung pada ketersediaan data statistik daerah yang lebih rinci dan teratur.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.