Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Studi 2020–2022 Evaluasi Dampak Signing Blue di Labuan Bajo

Penelitian di INNOVATIVE: Journal of Social Science Research mengevaluasi program WWF Signing Blue di wisata bahari Labuan Bajo pada 2020–2022.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Program WWF Signing Blue di wisata bahari Labuan Bajo dievaluasi dalam penelitian berjudul Transformasi Pariwisata Biru di Labuan Bajo: Evaluasi Implementasi World Wild Fun For Nature (WWF) Signing Blue Pada Wisata Bahari Labuan Bajo 2020–2022 yang diterbitkan di INNOVATIVE: Journal of Social Science Research Volume 4 Nomor 4 Tahun 2024.

Studi yang ditulis Dionisius Hargen, Diansari Solihah Amini, dan Yeyen Subandi itu menganalisis dampak implementasi Signing Blue yang berlandaskan konsep pariwisata bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan, kesadaran masyarakat, dan kontribusi ekonomi di Labuan Bajo selama periode 2020–2022.

Menurut ringkasan penelitian, program Signing Blue dinilai berhasil mengurangi dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam konservasi, dan memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal. Penilaian ini diperoleh melalui analisis data sekunder, wawancara dengan pemangku kepentingan, dan observasi lapangan.

Ruang lingkup studi dan temuan utama

Penelitian menempatkan Signing Blue sebagai bagian dari upaya transformasi pariwisata biru di Labuan Bajo. Program ini digambarkan berlandaskan pariwisata bertanggung jawab dan diarahkan pada tiga tujuan utama: keberlanjutan lingkungan, peningkatan kesadaran masyarakat lokal, serta manfaat ekonomi bagi komunitas.

Dalam uraian penelitian, WWF-Indonesia disebut menginisiasi Signing Blue sebagai program ekonomi biru untuk mendukung pembangunan pariwisata bahari berkelanjutan di Labuan Bajo dan kawasan sekitarnya di Flores, Nusa Tenggara Timur. Program ini memfasilitasi komitmen pelaku pariwisata bahari untuk menerapkan praktik wisata yang ramah lingkungan.

Artikel di jurnal tersebut menyebut bahwa selama tiga tahun pelaksanaan, kegiatan Signing Blue mencakup konservasi dan restorasi terumbu karang, dukungan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir, dan pengembangan pariwisata bahari ramah lingkungan. Pada tahun ketiga, program lebih banyak berfokus pada pengembangan ekowisata bahari, antara lain melalui pelatihan pemandu wisata, pendirian pusat informasi pariwisata ramah lingkungan, dan fasilitasi pengembangan usaha.

Angka dan aktivitas yang tercatat

Penelitian merujuk sejumlah capaian program yang dikaitkan dengan Signing Blue. Di antara yang disebut adalah restorasi lebih dari 15 hektare terumbu karang yang rusak melalui kegiatan transplantasi, pelatihan dan sertifikasi lebih dari 30 pemandu wisata bahari untuk praktik snorkeling dan menyelam yang ramah lingkungan, serta peningkatan kunjungan wisatawan ke ekowisata bahari Labuan Bajo sekitar 25–30 persen.

Peneliti juga mengaitkan konteks konservasi dengan data kekayaan terumbu karang Indonesia. Naskah menyebut Indonesia memiliki sekitar 76 persen spesies terumbu karang dunia, sehingga tekanan pariwisata terhadap ekosistem pesisir menjadi isu penting dalam pengelolaan destinasi bahari.

Selain itu, Signing Blue digambarkan sebagai platform nasional yang telah berjalan sejak 2013 untuk mewadahi pelaku wisata dan wisatawan yang berkomitmen pada pariwisata bahari bertanggung jawab. WWF-Indonesia menyebut program ini sebagai wadah bagi operator, pengelola akomodasi, transportasi, jasa kuliner, pemandu, dan penyedia suvenir lokal untuk terlibat dalam perlindungan sumber daya alam.

Di Labuan Bajo, WWF-Indonesia bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat menggelar sosialisasi dan pertemuan tahunan Signing Blue pada Desember 2021, sekaligus memperluas informasi mengenai program di destinasi pariwisata setempat. Saat itu disebutkan ada empat anggota Signing Blue di Labuan Bajo, yakni Hotel Puri Sari, Divine Diving, Dive Komodo, dan Flores Diving Centre, sebagai pelaku usaha yang berkomitmen pada praktik wisata bahari bertanggung jawab.

Posisi masyarakat pesisir dan pariwisata bahari

Penelitian Hargen dan kolega menggambarkan masyarakat pesisir sebagai aktor penting dalam pengelolaan kawasan konservasi laut dan pariwisata bahari di Labuan Bajo. Program Signing Blue ditunjukkan berjalan melalui kemitraan WWF-Indonesia dengan pemerintah daerah, korporasi, komunitas masyarakat sipil, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan warga sekitar kawasan konservasi.

Kerangka tersebut menempatkan keberlanjutan bukan hanya sebagai perlindungan ekosistem laut, tetapi juga sebagai upaya memperkuat kesadaran masyarakat dan memastikan pariwisata memberi manfaat bagi komunitas lokal yang bergantung pada sumber daya kelautan. Dalam tulisan lain tentang Labuan Bajo, WWF-Indonesia dan mitra disebut mendorong ekowisata bahari yang bertanggung jawab, perluasan kawasan konservasi laut, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui aktivitas wisata yang terkelola.

Penelitian di jurnal sosial itu menyimpulkan bahwa implementasi Signing Blue berkontribusi pada penguatan tata kelola pariwisata bahari, pengurangan tekanan pariwisata terhadap lingkungan, dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Labuan Bajo selama 2020–2022. Temuan tersebut menjadi salah satu rujukan akademik mengenai hubungan antara program konservasi, pariwisata berkelanjutan, dan posisi komunitas lokal di destinasi bahari di Flores bagian barat.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.