Riset 2025: Strategi Perkuat UMKM Labuan Bajo di Kawasan Pariwisata
Riset SIBATIK Journal tahun 2025 menilai UMKM Labuan Bajo memiliki potensi besar yang didukung kebijakan pariwisata, namun masih menghadapi hambatan akses pasar dan teknologi sehingga perlu penguatan kapasitas SDM, inovasi produk, dan…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Riset yang dimuat dalam SIBATIK Journal Volume 4 Nomor 4 tahun 2025 mengusulkan sejumlah strategi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Labuan Bajo, dengan penekanan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, diversifikasi produk, serta pemanfaatan pemasaran digital untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing UMKM.
Artikel berjudul “Strategi Pengembangan UMKM Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo dalam Meningkatkan Daya Saing dan Keberlanjutan Ekonomi Lokal” ditulis oleh Zulham Adamy bersama tiga peneliti lain, yakni G. Wiradharma, M. A. Prasetyo, dan I. P. Soko. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan berangkat dari analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman UMKM di Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Menurut para penulis, UMKM di Labuan Bajo memiliki potensi besar yang didukung kebijakan pemerintah dan posisi kawasan sebagai destinasi wisata prioritas, tetapi masih menghadapi hambatan akses pasar dan pemanfaatan teknologi. Rekomendasi strategi diarahkan untuk menutup kesenjangan tersebut.
Strategi pengembangan UMKM
Riset SIBATIK merumuskan beberapa strategi utama pengembangan UMKM di Labuan Bajo. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan rutin mengenai teknik produksi, manajemen kualitas, dan penggunaan teknologi modern, serta pendidikan bagi pelaku usaha agar dapat mengelola usaha secara lebih efisien dan menghasilkan produk berkualitas.
Strategi lain adalah pemasaran dan branding digital, yaitu perluasan jangkauan pasar lewat pemanfaatan platform digital untuk promosi dan penjualan, termasuk membangun citra produk lokal dan kerja sama dengan hotel, restoran, dan agen wisata agar produk UMKM terintegrasi dalam pengalaman wisata. Digitalisasi dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan langsung kepada wisatawan.
Riset juga menekankan diversifikasi produk dan inovasi, antara lain melalui kompetisi inovasi, insentif bagi UMKM yang mengembangkan produk baru, serta lokakarya untuk mendorong ragam barang dan jasa yang sesuai dengan ekosistem pariwisata. Produk yang disorot mencakup makanan khas, tenun ikat, dan suvenir resin yang dapat diposisikan sebagai bagian dari pengalaman wisata Labuan Bajo.
Peluang dari pariwisata dan acara internasional
Labuan Bajo berada dalam koridor kebijakan pariwisata nasional sebagai bagian dari pengembangan destinasi prioritas dan kemudian ditetapkan sebagai kawasan yang dikelola oleh Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Labuan Bajo Flores melalui Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2018. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menjalankan mandat percepatan pembangunan pariwisata terintegrasi di kawasan Labuan Bajo Flores, termasuk fungsi koordinatif di 11 kabupaten dan pengelolaan kawasan inti sekitar 400 hektare di Hutan Bowosie, Manggarai Barat.
Pengembangan kawasan ini mencakup rencana zona budaya, satwa liar, petualangan, dan leisure yang di dalamnya direncanakan kampung UMKM sebagai bagian dari atraksi dan fasilitas pariwisata. Konteks ini menjadi latar bagi strategi penguatan UMKM agar dapat berperan dalam rantai nilai pariwisata, bukan sekadar pelengkap.
Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-42 di Labuan Bajo pada Mei 2023 menjadi salah satu contoh peluang pemanfaatan momentum pariwisata bagi UMKM lokal. Dalam pameran Rumah BUMN SME’s Hub yang terhubung dengan kegiatan tersebut, tercatat 50 UMKM berpartisipasi, termasuk 10 UMKM lokal Labuan Bajo. Selain itu, laporan lain menyebut 10 UMKM terbaik memamerkan produk mereka pada gelaran KTT ASEAN di Labuan Bajo. Keterlibatan ini menunjukkan ruang bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui agenda internasional.
Kebutuhan penguatan akses pasar dan teknologi
Penulis SIBATIK menyimpulkan bahwa selain penguatan SDM, akses ke modal dan pasar perlu ditingkatkan melalui kerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta. Pemasaran digital diidentifikasi sebagai salah satu kunci untuk memperluas jangkauan produk dan meningkatkan daya saing UMKM Labuan Bajo di tengah pertumbuhan pariwisata.
Dengan kerangka kebijakan yang menempatkan Labuan Bajo sebagai kawasan pariwisata yang dikelola secara khusus dan adanya momentum acara internasional, rekomendasi riset tahun 2025 mengenai pelatihan, inovasi produk, dan pemasaran digital menjadi relevan sebagai agenda penguatan UMKM lokal.
Sumber
- SIBATIK Journal Volume 4 No.4 (2025), artikel "Strategi Pengembangan UMKM Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo dalam Meningkatkan Daya Saing dan Keb
- Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry, sitiran terhadap artikel SIBATIK
- JDIH Kementerian Keuangan – ringkasan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2018
- Lembaran Negara Republik Indonesia – Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2018
- Portal peraturan pemerintah – Perpres No. 32 Tahun 2018 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Labuan Bajo Flores
- ParapuarInvest.com – artikel penjelasan "BPOLBF Adalah Apa?"
- Situs resmi BPOLBF – halaman profil "Labuan Bajo Flores"
- Media Indonesia – berita tentang penetapan fungsi kawasan Hutan Nggorang Bowosie dan pengembangan kawasan pariwisata Labuan Bajo Flores
- Medcom.id – berita "Mejeng di KTT ASEAN, 3 UMKM Ini Jadi Sorotan"
- Bisnis.com – berita "10 UKM Terpilih Pamerkan Produknya di KTT Asean 2023"
Berita berikutnya

KSOP Labuan Bajo Periksa Kesiapan Kapal Wisata dan Sosialisasikan Keselamatan
KSOP Kelas III Labuan Bajo memeriksa kesiapan kapal wisata dan menyosialisasikan keselamatan pelayaran di perairan Manggarai Barat. KLM Ratana disebut…
Baca juga




