Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Manggarai Barat Optimalkan Layanan Kesehatan bagi 9.000 Pengungsi Gempa

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mengoptimalkan rumah sakit daerah dan posko kesehatan untuk melayani lebih dari 9.000 pengungsi gempa bumi.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Labuan Bajo — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mengoptimalkan operasional rumah sakit daerah dan posko pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan medis lebih dari 9.000 pengungsi gempa bumi per Selasa, 1 September 2026.

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menyatakan keberlanjutan layanan medis menjadi prioritas utama penanganan darurat bagi warga yang masih tinggal di tenda pengungsian, di tengah keterbatasan fasilitas dan trauma pascabencana, menurut laporan Duta TV.

Edistasius menjelaskan dari total 36.102 jiwa korban terdampak di Manggarai Barat, sekitar 9.000 warga yang berada di tenda-tenda pengungsian telah terlayani tim medis posko kesehatan dan rumah sakit daerah.

Ia mengatakan telah menginstruksikan rumah sakit daerah untuk tetap beroperasi penuh merawat pasien di dalam ruangan sejak hari pertama bencana, meski wilayah tersebut masih dilanda kekhawatiran terkait gempa susulan.

Layanan rujukan dan kelompok rentan

Menurut Edistasius, pemerintah daerah juga menerima dukungan pasokan obat-obatan, tenda darurat, serta bantuan tim medis dari berbagai pihak swasta dan lembaga kemanusiaan untuk menjaga keandalan layanan kesehatan bagi pengungsi.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan pengungsi di Kabupaten Manggarai Barat mencapai 27.564 jiwa per Minggu, 30 Agustus 2026, pukul 07.00 WIB, dengan sebaran pengungsi besar di Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, dan Ende.

BNPB mencatat sebanyak 188.161 warga masih mengungsi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur hingga 30 Agustus 2026, dua pekan setelah gempa utama mengguncang wilayah tersebut.

Dalam konferensi pers, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut jumlah pengungsi tersebut turun 4.142 orang dari hari sebelumnya, dengan konsentrasi terbesar di Kabupaten Nagekeo dan Manggarai.

Korban dan kerusakan

BNPB melaporkan total 111 orang meninggal dunia akibat gempa NTT sejak kejadian pertama pada Sabtu, 15 Agustus 2026, serta 1.631 orang luka-luka.

Korban luka terdiri atas lebih dari 200 orang luka berat dan sekitar 1.400 orang luka ringan, berdasarkan data Direktorat Pengendalian Operasi BNPB yang disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta.

Kerusakan rumah di wilayah terdampak mencapai 95.567 unit, mencakup rumah rusak ringan, sedang, dan berat yang tersebar di kabupaten-kabupaten terdampak di Nusa Tenggara Timur.

Konteks penanganan di Manggarai Barat

Gempa utama magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 memicu masa tanggap darurat di sejumlah kabupaten di Nusa Tenggara Timur, dengan puluhan ribu warga kehilangan atau meninggalkan rumah akibat kerusakan bangunan.

Di Manggarai Barat, pemerintah daerah mempertahankan operasional rumah sakit daerah sejak hari pertama bencana dan mengoperasikan posko kesehatan di lokasi pengungsian untuk melayani warga terdampak, sejalan dengan instruksi Bupati Edistasius Endi.

BNPB memperpanjang masa tanggap darurat pascagempa NTT hingga 11 September 2026 untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi, termasuk layanan kesehatan, logistik, dan hunian sementara, tetap terpenuhi di seluruh wilayah terdampak.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.