Kecelakaan KM Alfathran Soroti Keselamatan Laut Labuan Bajo
Kecelakaan kapal wisata KM Alfathran di jalur Labuan Bajo–Taman Nasional Komodo awal 2024 kembali memunculkan sorotan terhadap keselamatan pelayaran di tengah lonjakan kunjungan dan target ambisius 1 juta wisatawan.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Kecelakaan kapal wisata KM Alfathran pada 4 Januari 2024 menyoroti kembali persoalan keselamatan pelayaran di jalur wisata Labuan Bajo–Taman Nasional Komodo, di tengah kenaikan jumlah kunjungan wisatawan dan target ambisius pemerintah daerah.
Menurut keterangan Kasat Polairud Polres Manggarai Barat AKP I Wayan Mendra, KM Alfathran berangkat dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo menuju kawasan Taman Nasional Komodo sekitar pukul 13.00 WITA, Kamis, 4 Januari 2024. Kira-kira 20 menit setelah berlayar, kapal menabrak karang di perairan Nanga Bide, Tanjung Batu Putih, sehingga lambung bocor dan kapal karam. Seluruh penumpang dan awak kapal dievakuasi tim SAR gabungan tanpa korban jiwa, termasuk lima wisatawan asing dan satu pemandu wisata yang kemudian dibawa kembali ke Labuan Bajo, menurut Polres Manggarai Barat.
Media lokal Floresa melaporkan kapal pinisi berbobot 63 gross tonnage itu tengah mengangkut enam penumpang, yakni lima wisatawan asal Belanda dan satu pemandu wisata, saat menabrak karang di perairan yang masih berada di jalur wisata menuju Taman Nasional Komodo.
Tribunflores mencatat kecelakaan Alfathran sebagai insiden pertama dalam rentetan kecelakaan kapal di Labuan Bajo pada 2024. Menurut laporan itu, kapal membawa 12 penumpang, enam anak buah kapal, lima turis asing, dan satu pemandu wisata, dan kandas akibat kabut tebal yang membatasi jarak pandang nakhoda.
Penyebab kecelakaan dan karakter perairan
Keterangan Polres Manggarai Barat menyebut kapal karam setelah menabrak karang di perairan Nanga Bide, yang berada sekitar dua mil laut di depan kawasan Hotel Jayakarta Labuan Bajo. Kasat Polairud menjelaskan kecelakaan terjadi ketika kapal sedang berlayar menuju kawasan Taman Nasional Komodo.
Floresa mengutip penjelasan pejabat Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo yang mengaitkan kecelakaan dengan kabut tebal yang datang tiba-tiba sehingga mengurangi jarak pandang nakhoda. Polres Manggarai Barat juga mengaitkan kondisi cuaca dengan fenomena El Nino yang memicu kabut di perairan setempat.
Tribunflores menambahkan, sebelum berlayar, kapal pinisi itu telah melakukan clearance out atau memperoleh izin keluar pelabuhan. Namun, kabut tebal di jalur pelayaran menyebabkan kapal masuk ke perairan dangkal dan menabrak karang.
Rangkaian keterangan tersebut menunjukkan kombinasi faktor cuaca, karakter perairan yang memiliki karang dangkal, dan pengambilan keputusan pelayaran sebagai konteks kecelakaan Alfathran.
Kecelakaan berulang dan pengawasan pelayaran
Floresa menempatkan kasus Alfathran dalam pola kecelakaan kapal wisata yang berulang di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, dan menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh dari pemerintah, pelaku usaha pariwisata, dan otoritas pelabuhan.
Pihak KSOP Labuan Bajo, menurut Floresa, menyatakan telah menerapkan langkah pengawasan berupa penundaan pemberian surat persetujuan berlayar (SPB) kepada kapal wisata pada hari kecelakaan, untuk jadwal pelayaran sore hingga pagi berikutnya, sebagai respons terhadap kabut yang mengganggu jarak pandang.
Tribunflores merangkum beberapa kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo sepanjang 2024 dan menempatkan Alfathran sebagai bagian dari tren kejadian serupa. Laporan itu menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan-kecelakaan yang dicatat, tetapi setiap insiden merusak kenyamanan wisatawan dan citra destinasi.
Keterangan KSOP dan aparat kepolisian menunjukkan bahwa izin berlayar, pengawasan rute, dan prosedur respons cepat menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko, namun kecelakaan tetap terjadi di tengah meningkatnya intensitas pelayaran wisata.
Loncakan kunjungan dan tuntutan keselamatan
Dinas Pariwisata Manggarai Barat mencatat 423.847 wisatawan berkunjung ke Labuan Bajo sepanjang 2023. Data ini dikutip antara lain oleh Pos Kupang dan Tribunflores, yang menjelaskan bahwa jumlah tersebut melampaui target awal sekitar 260 ribu wisatawan, setara tingkat kunjungan sebelum pandemi.
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mencatat 800.074 kunjungan ke Labuan Bajo untuk periode Januari hingga 11 Desember 2023 dan bersama pemerintah daerah menetapkan target 1 juta wisatawan pada 2024. Target ini diulang dalam pernyataan pejabat daerah yang dikutip beberapa media nasional.
Pertumbuhan kunjungan menandai Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi utama di Indonesia timur. Namun, kecelakaan seperti yang menimpa KM Alfathran menunjukkan bahwa peningkatan arus wisatawan menuntut peningkatan sepadan dalam kelaikan kapal, kompetensi nakhoda, dan pengawasan pelayaran di jalur Labuan Bajo–Taman Nasional Komodo.
Sumber
Baca juga


