Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Guru Flores Jadi Agen Pemulihan Sekolah Pascagempa

Tulisan di Flores Pos menyoroti guru sebagai penyintas sekaligus pendamping utama pemulihan sekolah pascagempa Flores. Kebijakan Kemendikdasmen menambahkan ruang kelas darurat dan dukungan psikososial agar pembelajaran tetap berjalan aman.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Guru di Flores didorong menjadi agen pemulihan komunitas sekolah setelah gempa bumi yang merusak ribuan satuan pendidikan dan memaksa pembelajaran berlangsung di ruang darurat, tenda, dan ruang terbuka.

Gagasan itu disoroti dalam tulisan Romo Drs. Patrick Josaphat Dharsam Guru, MA, yang dimuat Flores Pos pada 15 September 2026. Tulisan tersebut menekankan bahwa pemulihan sekolah tidak cukup diukur dari perbaikan bangunan, melainkan juga dari pemulihan rasa aman, rutinitas belajar, dan pendampingan bagi anak-anak yang mengalami ketakutan serta perubahan setelah bencana.

Menurut Flores Pos, sejumlah sekolah terdampak memindahkan kegiatan belajar ke tenda, halaman, atau ruang darurat yang dibangun bersama masyarakat. Kondisi ini sejalan dengan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mencatat pembelajaran darurat di tenda dan ruang terbuka di berbagai kabupaten di Flores.

Guru sebagai penyintas dan pendamping

Tulisan di Flores Pos menggambarkan guru sebagai kelompok yang juga terdampak gempa, dengan potensi kerusakan rumah, kekhawatiran atas keselamatan keluarga, serta keharusan tinggal di pengungsian. Dalam situasi itu, guru tetap kembali mengajar di ruang darurat dan tenda untuk memastikan pembelajaran terus berjalan.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menyebut 1.960 satuan pendidikan di Flores masih menyelenggarakan pembelajaran dalam moda darurat, termasuk di tenda dan ruang terbuka. Dalam konteks ini, kehadiran guru dipandang penting bukan hanya untuk menyampaikan materi, tetapi juga untuk mengembalikan keteraturan dalam kehidupan anak dan menjaga kontinuitas belajar.

Flores Pos menekankan bahwa anak tidak hanya menyerap kata-kata guru, tetapi juga memperhatikan ekspresi, suara, dan cara guru menghadapi keadaan. Guru yang mampu mengakui bahwa situasi berat sembari mengajak siswa menghadapinya bersama dinilai dapat membantu membangun kembali rasa aman.

Gagasan ini dikaitkan dengan konsep ketangguhan yang dibahas Karen Reivich dan Andrew Shatté dalam The Resilience Factor, yaitu kemampuan untuk tetap bertindak konstruktif di tengah tekanan, bukan ketiadaan rasa takut. Konsep ketangguhan juga sejalan dengan pemikiran Ann S. Masten dalam Ordinary Magic: Resilience in Development, yang menyatakan bahwa resiliensi anak muncul dari sistem adaptif sehari-hari seperti hubungan yang aman dengan orang dewasa, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial.

Menurut Flores Pos, guru tidak harus berperan sebagai psikolog, tetapi perlu memiliki kemampuan dasar untuk mendengarkan, mengamati perubahan perilaku, menjaga rutinitas, serta mengenali saat siswa membutuhkan bantuan profesional.

Pemulihan sebagai gerak komunitas

Tulisan Flores Pos menegaskan bahwa pemulihan tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri. Kepala sekolah, yayasan, pemerintah, keluarga, masyarakat, dan jejaring pendukung perlu terlibat sesuai peran masing-masing agar anak dapat kembali belajar dalam lingkungan yang aman.

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan Kemendikdasmen yang memperkuat pemulihan melalui dua jalur: penyediaan ruang kelas sementara dan dukungan psikososial di sekolah-sekolah terdampak. Tiga prinsip utama yang diterapkan adalah keselamatan warga satuan pendidikan, fleksibilitas moda dan waktu pembelajaran sesuai kondisi lapangan, serta dukungan psikososial.

Kementerian mencatat 2.447 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK dan SLB terdampak gempa di Flores, dengan 1.960 di antaranya masih belajar dalam moda darurat dan 487 telah kembali ke ruang kelas. Untuk mendukung kegiatan belajar, Kemendikdasmen mendistribusikan tenda kelas darurat dan mengembangkan ruang belajar berbahan lokal yang lebih tahan terhadap hujan.

Pada tahap transisi pembelajaran, tim pendampingan psikososial, salah satunya dari Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) Universitas Diponegoro, dikirim untuk menyapa korban dan membantu meningkatkan motivasi murid di satuan pendidikan yang pembelajarannya terhenti.

Flores Pos mengaitkan langkah-langkah ini dengan gagasan Ann S. Masten tentang ordinary magic, yakni ketangguhan yang tumbuh dari dukungan sehari-hari seperti kehadiran orang dewasa yang dapat dipercaya, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Dalam kerangka tersebut, guru dapat menjadi agen pemulihan melalui hal-hal mendasar: hadir secara konsisten, menjaga kegiatan belajar di ruang darurat, membuka ruang aman untuk bercerita, dan membantu siswa kembali berani mengikuti pelajaran.

Pada saat yang sama, tulisan tersebut menyoroti perlunya pemulihan bagi guru sendiri. Guru yang masih menghadapi kerusakan rumah, kecemasan keluarga, atau kondisi pengungsian memerlukan dukungan lembaga dan pemerintah agar tidak menanggung beban pemulihan sendirian.

Menurut Flores Pos, pemulihan sekolah pascagempa di Flores perlu dipahami sebagai proses yang melibatkan rasa aman, rutinitas, dukungan sosial, dan hubungan antara guru, siswa, keluarga, serta komunitas sekolah, bukan sekadar perbaikan fisik bangunan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.