Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Gempa 7,7 di Flores: 87 Tewas, Pemulihan Infrastruktur Berlangsung

Pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, pemerintah dan BNPB memprioritaskan penanganan korban serta pemulihan infrastruktur dan layanan dasar.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus memulihkan infrastruktur dan layanan dasar setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 87 orang meninggal dunia dan 150.576 pengungsi hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, sebelum angka korban kembali diperbarui pada akhir bulan.

Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB dengan pusat gempa di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman dangkal sekitar 15 kilometer, sehingga memicu peringatan dini tsunami dan guncangan kuat di sejumlah wilayah NTT dan sekitarnya, termasuk Labuan Bajo.

Menurut BMKG, episenter gempa berada di koordinat sekitar 8,4 derajat Lintang Selatan dan 121,4 derajat Bujur Timur, dan peringatan dini tsunami kemudian diakhiri sekitar pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi gelombang kembali normal.

Korban dan dampak di NTT

BNPB melalui pejabat Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Berton SP Panjaitan, melaporkan bahwa hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, secara kumulatif 87 orang meninggal dunia akibat gempa dan rangkaian gempa susulan di NTT.

Dalam pemaparan yang sama, BNPB menyebut jumlah pengungsi mencapai 150.576 jiwa, terutama tersebar di beberapa kabupaten terdampak, dengan angka terbesar di Kabupaten Manggarai, Nagekeo, dan Manggarai Timur.

Data yang dikutip berbagai media dari rilis BNPB merinci bahwa pengungsi di Kabupaten Manggarai berjumlah sekitar 41.427 jiwa, di Kabupaten Nagekeo sekitar 34.256 jiwa, dan di Kabupaten Manggarai Timur sekitar 31.372 jiwa, menunjukkan tingginya tekanan terhadap layanan publik dan jaringan transportasi di Flores bagian barat dan tengah.

BNPB kemudian memperbarui data pada 30 Agustus 2026 dan mencatat korban meninggal meningkat menjadi 111 orang, dengan 1.631 orang mengalami luka-luka dan total pengungsi tercatat 188.161 jiwa, menandakan bahwa proses evakuasi dan pendataan masih berlangsung dalam dua pekan pertama pascagempa.

Infrastruktur dan akses ke wilayah barat Flores

Sejumlah laporan media nasional menyebut pemerintah memprioritaskan pemulihan infrastruktur vital, termasuk jaringan jalan dan jembatan serta pasokan listrik dan air bersih, karena fasilitas tersebut menjadi jalur utama mobilitas penduduk dan pengiriman bantuan ke wilayah-wilayah terdampak di Flores dan sekitarnya.

BMKG mencatat gelombang tsunami sempat terdeteksi di beberapa lokasi, termasuk Labuan Bajo, meski dengan ketinggian di bawah satu meter, sehingga perhatian terhadap pelabuhan dan akses transportasi laut ke dan dari Labuan Bajo juga meningkat dalam fase tanggap darurat.

Bagi warga di Labuan Bajo dan Manggarai Barat, relevansi pemulihan infrastruktur darat terutama berkaitan dengan keterhubungan antarruas jalan dan jembatan yang menghubungkan kabupaten ini dengan Manggarai dan Manggarai Timur, dua wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar dan dampak kerusakan yang lebih luas.

Namun, hingga penyusunan laporan ini, sumber-sumber resmi dan pemberitaan yang tersedia belum memberikan rincian teknis mengenai kondisi atau perbaikan satu per satu ruas jalan dan jembatan di Manggarai Barat maupun jalur utama yang menghubungkan Labuan Bajo dengan wilayah terdampak lain di Flores.

Pemantauan lanjutan dan gempa susulan

BMKG melaporkan aktivitas gempa susulan yang intens pascagempa utama, dengan catatan lebih dari seribu hingga puluhan ribu gempa susulan dalam beberapa pekan, sebagian di antaranya dirasakan masyarakat, sehingga pemulihan infrastruktur dan layanan publik perlu mempertimbangkan aspek keamanan struktural dan potensi guncangan lanjutan.

BNPB dan pemerintah daerah di NTT menyatakan penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, tetapi juga pada upaya pemulihan fasilitas penting dan penguatan kesiapsiagaan, termasuk edukasi kepada warga di pesisir dan kawasan rawan gempa mengenai prosedur evakuasi dan informasi resmi kebencanaan.

Bagi pembaca di Labuan Bajo, pemantauan ke depan idealnya diarahkan pada pengumuman resmi mengenai kondisi terkini jalan, jembatan, pelabuhan, dan fasilitas publik di Manggarai Barat serta jalur penghubung menuju kabupaten tetangga, karena data tersebut akan membantu warga dan pelaku usaha menilai risiko dan merencanakan mobilitas di tengah aktivitas kegempaan yang masih berlangsung.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.