BPOLBF: Hunian Hotel Labuan Bajo Turun pada Awal 2025
Analisis Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) atas data sampel menunjukkan tingkat hunian hotel dan resort di Labuan Bajo menurun dari Januari ke Februari 2025, disertai penurunan rata-rata lama tinggal tamu.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Tingkat hunian hotel di Labuan Bajo menurun pada Februari 2025 dibandingkan Januari, berdasarkan analisis Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) atas data sampel industri akomodasi di kawasan tersebut.
Dalam dokumen BPOLBF berjudul Temuan Penurunan Occupancy Rate Jan–Feb 2025, lembaga itu mencatat penurunan tingkat hunian pada seluruh kategori akomodasi yang dianalisis: hotel bintang tiga, bintang empat, bintang lima, dan resort.
Untuk hotel bintang tiga, BPOLBF mencatat tingkat hunian sebesar 32,12 persen pada Januari dan 18,82 persen pada Februari. Dokumen itu menyebut penurunan relatif sebesar 41,43 persen. Hotel bintang lima turun dari 48 persen pada Januari menjadi 38 persen pada Februari, dengan penurunan relatif 20,83 persen.
Resort tercatat memiliki tingkat hunian 36,80 persen pada Januari dan 31,96 persen pada Februari, dengan penurunan relatif 13,15 persen. Sementara hotel bintang empat turun dari 57,49 persen pada Januari menjadi 53,33 persen pada Februari, atau penurunan relatif 7,24 persen.
Hotel bintang empat mencatat okupansi tertinggi
Dalam dua bulan yang dibandingkan BPOLBF, hotel bintang empat memiliki tingkat hunian rata-rata tertinggi. Menurut grafik perbandingan okupansi Januari–Februari 2025 dalam dokumen tersebut, tingkat hunian hotel bintang empat berada di atas resort, hotel bintang lima, dan hotel bintang tiga.
Hotel bintang lima menempati posisi berikutnya, diikuti resort dan hotel bintang tiga. BPOLBF menilai penurunan paling tajam terjadi pada hotel bintang tiga, sementara penurunan paling kecil terjadi pada hotel bintang empat.
Dalam publikasi lain, BPOLBF menyebut beberapa hotel bintang empat dan bintang lima di Labuan Bajo mencatat okupansi antara 50 sampai 80 persen sepanjang Januari 2025, berdasarkan survei terhadap 18 hotel berbintang dan resort. Temuan ini menunjukkan perbedaan antara capaian sebagian hotel dengan rata-rata tingkat hunian kategori yang dihitung dalam dokumen Jan–Feb 2025.
Rata-rata lama tinggal tamu turun
BPOLBF juga mencatat perubahan rata-rata lama tinggal atau length of stay (LOS) wisatawan yang menginap di hotel dan resort Labuan Bajo pada awal 2025. Dalam dokumen Jan–Feb 2025, rata-rata LOS turun dari 2,77 malam pada Januari menjadi 2,33 malam pada Februari, atau penurunan relatif 15,88 persen.
Grafik yang sama menunjukkan LOS Januari dan Februari untuk masing-masing kategori akomodasi. BPOLBF menekankan bahwa penurunan LOS terjadi bersamaan dengan penurunan okupansi di seluruh kategori hotel dan resort yang masuk dalam sampel.
Pada periode Maret 2025, data BPOLBF yang disampaikan dalam konferensi pers dan diberitakan media lokal menunjukkan rata-rata lama tinggal wisatawan di Labuan Bajo sebesar 2,15 malam, dengan variasi antara dua hingga tiga malam tergantung kategori akomodasi.
Perubahan komposisi negara asal tamu
Dokumen Jan–Feb 2025 BPOLBF juga memuat grafik perubahan komposisi negara asal wisatawan yang menginap di akomodasi sampel. Grafik tersebut menunjukkan Tiongkok sebagai negara asal dengan proporsi terbesar dalam kedua bulan, diikuti Indonesia dan sejumlah negara lain seperti Australia, Amerika Serikat, Malaysia, dan Rusia.
BPOLBF mencatat adanya pergeseran peringkat negara asal antara Januari dan Februari, dengan kenaikan porsi tamu dari beberapa negara dan penurunan dari negara lain. Data ini disajikan sebagai persentase terhadap total tamu dalam sampel, bukan jumlah absolut per negara.
Konteks awal 2025 di Labuan Bajo
Dalam sebuah artikel di situs resminya, BPOLBF menyebut Januari hingga Februari 2025 sebagai periode low season di Labuan Bajo, yang ditandai penurunan okupansi kamar hotel secara keseluruhan. Plt Direktur Utama BPOLBF Frans Teguh menyatakan bahwa penurunan lebih signifikan terjadi pada hotel bintang tiga ke bawah, sementara hotel bintang empat dan lima relatif lebih stabil.
BPOLBF juga merujuk pada data kunjungan wisatawan 2019–2025 yang menunjukkan penurunan wisatawan mancanegara dan domestik pada Februari 2025 dibandingkan Januari. Lembaga itu menggunakan kombinasi data kunjungan, survei tingkat hunian, dan lama tinggal untuk memetakan dinamika kunjungan wisatawan di Labuan Bajo.
Dalam beberapa publikasi, BPOLBF menekankan bahwa angka okupansi dan LOS yang disajikan berasal dari survei terhadap hotel dan resort sampel di Labuan Bajo, sehingga menjadi gambaran kondisi sebagian pelaku usaha akomodasi, bukan keseluruhan usaha akomodasi di wilayah tersebut.
Sumber
- BPOLBF – Temuan Penurunan Occupancy Rate Jan–Feb 2025
- MAPS Audiensi Gubernur NTT 20 Maret 2025 Rev4
- BPOLBF – Optimalisasi PAD Melalui Kolaborasi Pengelolaan Berbagai Sektor Melalui Kepariwisataan
- Labuan Bajo Voice – Kunjungan Wisatawan ke Labuan Bajo Gunakan Jalur Laut Mencapai 4.778 dari 86 Negara Sepanjang Maret 2025
- Labuan Bajo Today – Tingkat Hunian Hotel 2024 Tembus 53%, Resort Jadi Primadona di Awal 2025
Berita berikutnya

Kemendikdasmen: Manggarai Barat Punya 81 SMP, Komodo Terbanyak
Data Referensi Kemendikdasmen mencatat 81 SMP di Kabupaten Manggarai Barat yang tersebar di 12 kecamatan. Komodo memiliki 13 sekolah, terbanyak di ant…
Baca juga




